Rabu, 25 Januari 2012

Yuk! Mengenal Filsafat

Dahulu orang-orang selepas Adam beribu tahun selanjutnya kebingungan dengan fenomena alam yang begitu aneh. Betapa oarang akan kebingungan dengan air yang bisa turun dari langi. Mungkin di benak fikiran mereka terbeber pertanyaan itu ada dn, “Apakah di langit itu ada danau besar?”. Terdengar lucu memang kalau orang –orang saat ini masih menayakan kenapa air bisa turun dari langit? Sungguh pertannyaan yang tidak relevan lagi dengan zamannya. Tetapi pertanyaan itu sangat relevan sekali pada zaman 500 tahun SM. Orang mulai mencari kebenaran dari fenomena-fenomena alam. Lalu pada akhir ekspedisi pencarian kebenaran mereka, tibalah pada titik pertanyaan “Apa unsur dasar bumi?”.

Berbagai filosof atau orang yang ingin mencari kebenaran itu mulai satu demi satu menonjolkan diri. Bermula dari sorang filosof dari Miletus bernama Thales yang menyakan demikian (“Apa unsur dasar bumi?”). thales menjawab dasar dar bumi ialah “air”. Mengapa demikian karena segala kehudupan yang ada di bumi sangat bergantung pada air, tanaman contohnya tidak akan bisa berbuah dan hidup tanpa ada air. Selain Thales ada lagi, filosof lainnya yang menyatakan bahwa unsur dari bumi ialah udara, pendapat ini dicetuskan oleh Anaximenes. Ia menganggap demikian karena melihat sekiling lingkungannya bahwa udara adalah unsur entitas bumi. Baginya air adalah udara yang dibekukan. Masih ada beberapa filosof lagi yang terus bermunculan untuk sekedar menjawab pertanya itu, yang terakhir ialah pendapat Democritus yang menyatakan unsur dari bumi ialah dari “atom”, ia menganggap segala makhluk yang di bumi terdiri dari unsur-insur kecil yang tiada bisa dihitung.

Dari serangkaian proses berfikir merasiokan sesutu itu, mereka sepakat menamakan kegiatan berfikir itu dengan nama “philoshopie” dalam bahasa Arab dinamakan falsafah, konon yang memberikan pendapat demikian itu ialah Phitagoras filosof dari Samos.

Maka saya harap jangan berfikiran negatif dulu soal filsafat. Ada yang berpendapat bahwa filsafat ialah mendekati kekufuran, maka jangan pelajari filsafat , pelajari saja ilmu-ilmu yang lebih berguna. Sebelum menuruti pendapat di atas. Kita koreksi dulu, apakah benar? Filsafat itu mendekati kekufuran. Kita mengetahui bahwa filsafat selalu menggunakan akal unttuk merasiokan segala sesuatu yang dianggap skeptis atau ragu. Boleh saja ada filosof yang meragukan adanya tuhan, akan tetapi keraguannya itu tidak akan pernah bertahan lama, jiwa atau soul selalu bergentanyangan di seluruh raga. Setiap orang tak terkecuali pasti pernah merasakan jiwanya menyatu dengan tuhan atau makrokosmos, yaitu suatu keadaan bahwa jiwa itu tidak ada sendiri pada diri manusia melainkan ada di mana-mana. Dan dari itu kita bisa merasakan jiwa dengan kepekaan jiwa kita masing-masing karena jiwa ini tidak hanya satu. Maka kita kenal pada sila pertama yang berbunyi “tuhan yang yang maha esa”. Karena berkat tuhalah kita mampu memahami perbedaan.

Jadi boleh filsafat itu bukanlah itu makrifat atau pengetahuan di luar batas, filsafat juga ada batasnya walau ada yang menyatakan filsafat itu tidak terbatas. Keterbatasan itu manakala manusia sudah tidak mampu lagi merasiokan atau saat manusia mencapai akal mustafad. Maka oleh karena itu filsafat adalah serangkaian kegiatan dan berfikir untuk mencari kebenaran dari segala sebab. Ada yang menyatakan philosopie is drawn from exemple filsafat ialah terdiri dari bebepa contoh. Maka dari itu ada orang yang menyatakan filsafat ialah the mother of scien filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan.

Saya ingat dulu, saat saya duduk di bangku Aliyah. Gur saya Pak Nakhrowi mengatakan filsafat itu induknya ilmu-ilmu. Dan saya pernah mendapat keterangan lagi dari guru saya di Aliya Pak Nurul Fuad yang mengatakan posisi filsafat itu ada diantara ilmu-ilmu, jika ada baris mejabar dari kiri ke kanan itu ada matematika, nahwu, geografi, sosiologi, dan shorof maka letak filsafat ada diantara matematika dan nahwu, begitu pula sebaliknya. Pak Nurul Fuad pernah menegaskan kepada kita selaku siswanya untuk mempelajari ilmu manthiq atau filsafat, beliau sangat mengharapkan ada diantara kami yang mempelajarinya dan bila ada kesulitan beliau siap membantu. Tapi sayang diantara kami jarang yang berminat. Ternyata setelah saya lulus dari Aliyah, saya merasakan kemanfaatan filsafat setelah mempelajarinya. Subhanallah.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren