Seperti halnya para filsuf empiris lainnya yang selalu menegasikan pengetahuan yang di luar jangkauan indra, dan tidak mengakuinya sebagai hal yang pasti. Demikian pula dengan David Hume, filosof Skotlandia itu juga mempunyai pemikiran filsafat yang berkarakteristik empiris. Namun filsafat empirisme Hume di sini bukan sebagai bentuk konkret nyata sebagai mana empiris adanya. Karena dalam corak pemikiran Hume, ia menggabung beberapa konsep pemikiran dari beberapa tokoh filsuf empiris lainnya seperti John Locke dan George Berkeley, kedua filsuf itu lah yang menginspirasi Hume untuk melakukan revolusi besar-besaran dalam mengkodifikasi filsafat empirismenya. Di lain hal, Hume juga mempunyai pemikiran filsafat berkenaan etika yang tertuang dari sumbangsih pemikiran Thomas Hutcheson seorang filsuf moral yang memiliki pemikiran moral akan penekanan pada perasaan. Di sini Hume memiliki tiga tokoh perbandingan dalam memformulasikan untuk kemudian ia akan melahirkan hal yang baru.
Empirisme Hume sangat berbeda dengan tokoh-tokoh filsafat yang mempengaruhinya (John Locke dan George Berkeley), mengapa demikian?. menurut Hume John Locke dan George Berkeley masih belum sempurna dalam merumuskan pemikiran empirisme, karena dalam pergolakan pemikiran mereka masih terdapat ketimpangan-ketimpangan dalam mengolah empiris yang masih tercampur baur dengan rasional. Sedang menuurut Hume, empirisme harus menegasikan rasional dalam mencari pengetahuan. Tidak berarti akal yang guna sebagai piranti mutlak untuk berfikir (rasio) juga tidak berlaku. Tambah dia, akal di sini hanya sebatas media untuk merfleksikan pengetahuan akan benar atau ttidaknya.
Gagasan yang mewakili pemikiran Hume dalam anggapan semua pengetahuan hanya dapat diperoleh dari indera (empiris) dan akal (rasio) sebagai media implementasinya, yang lalu dalam diri terjadi proses terbentuknya kesan dan gagasan. Dari kesan dan gagasan, Hume memberikan pengertian alternatif sebagai proses epitismologinya dalam filsafat empiris yang nantinya tidak terjadi in-konsekuensi.
Proses Awal Empiris
Dalam pencarian pengetahuan, hakikat manusia sesungguhnya tidak mengetahui apa pun, terkecuali sesuatu (pengetahuan) yang mampu inderanya tangkap dari merasa, melihat, meraba, dan bergerak. Menurut Hume tidak cukup dengan melakuakan observasi dengan kerangka indera masih ada proses selanjutnya agar pengetahuan yang telah direkam benar-benar valid.
Proses awal itu ialah dengan tahapan melalui kesan dan gagasan. Kesan yang sering kita ketahui dengan memori atau kenangan sewaktu kita melihat sesuatu
Kesan
Setelah kita merekam pengetahuan oleh pancaran indera kita. Maka sedetik atau semenit kemudian terjadilah proses imajinasi dalam kesan. Hal yang kita tangkap kita tadi menjadi kesan pembuka kita dalam alam pikiran. Saya mencoba mencontohkan, bila mana kita melihat makhluk hidup umumnya mempunyai kaki. Lalu kemudian kita melihat kuda dan manusia. Setelah kita melihat dan tahu keduanya mempunyai kaki. Lalu dalam alam fikiran kita akan terjadi proses penyaringan data yang dikatakan sebagai kesan. Dalam proses penyariingan atau filter data, kita tidak salah kalau memfikirkan kaki manusia beralih ke kuda, dan kaki kuda beralih ke manusia. Ini hal yang wajar, tidak lah salah, toh keduanya juga memiliki kaki.
Formulasi kesan itu yang menjadikan Hume sebagai filosof empiris metafisik. Empiris yang selalu ditendensikan dengan kenyataan disatukan dengan metafisik yang bentuknya jelas tidak nyata. Tapi juga tidak menutup kemungkinan indera yang menangkap pengetahuan bisa termanipulasi datanya manakala kita sudah terjun dalam ranah kesan. Karena ketika kita sudah memasuki zona keesan, maka pengetahuan kita akan diajak berfantasi dengan melakukan uji tesis, antitesis, atau sintesis secara tidak langsung dalam alam bawah sadar. Kesan itu akan sangat jelas adanya saat kita melihat sesuatu (manusia dan kuda) lalu kemudian kita pejamkan mata. Maka saat pemejaman mata, kita akan memperoses dan mengingat-ingat apa (kuda: kaki, ekor, mata, rambut. Manusia: mata, telinga, tangan, kaki.) yang telah kita lihat, kemudian kita refleksikan dengan akal (rasio) untuk dicari otentetiksitas kebenarannya.
Gagasan
Setelah kita melewati epitismologi kesan. Kita akan memasuki tahap selanjutnya yaitu gagasan. Gagasan yang dimaksudkan di sini bukan gagasan yang berbentuk opini atau kritik. Namun gagasan di sini adalah bentuk ril dari hasil implementasi. Praktek dari gagasan sendiri tidaklah serumit kesan yang memerlukan perenungan terlebih dulu, sedang gagasan tidak perlu waktu banyak untuk merenungkan. Karena gagasan ini bersifat intepretasi dari kesan. Jadi data yang telah kita rangkum dalam kesan secara tidak langsung akan menjadi intepretasi (gagasan) dari pengetahuan yang telah kita tangkap.
Menurut Hume masih kurang cukup untuk mencapai kebenaran empiris dengan sekedar kesan dan gagasan. Hume menambahkan beberapa tahap lagi untuk dapat membuktikan kebenaran pengetahuan, diantara tahapan itu ialah; kausalitas (kedekatan, pendahulu sementara, keterkaitan wajib), dan penggabungan psikologi. Tapi menurut saya cukup kita mengetahui intisari pemikiran Hume dengan kesan dan gagasannya agar nantinya kita tidak tertipu antara empirisme dan rasionalisme.
Ini yang saya tunggu tunggu :)
BalasHapussemangat juang anda patut saya acungi 2 jempoL.. :)
saudara mupti, yang saya cintai :)
sedikit kata yang perlu anda benai..
seperti kata kata di bawah ini.
(Seperti halnya para filsuf empiris lainnya yang selalu menegasikan pengetahuan yang di luar jangkauan indra,)
dalam kalimat di atas saya mengamati ada pemborosan kata, seharusnya seperti ini " seperti halanya para filsuf empiris lainnya yang selalu menegaskan pengetahuan di luar jangkauan indra. "
kalimat di atas adalah salah satu kalimat yang perlu du benai..
ingat saya mengatakan kalimat di atas adalah salah satu kalimat yang perl di benai,, :)
semangat brow... !!
ok gok....
Hapusemang aku juga kaadang ijek bingung soal merangkai kata-kata. kadang tak awur. ya wesss. suwun gok yooo... oke aku tetep semangattt kie. kon juga gok. sodara aan yang saya cintai hahahaha (pengen muntah aku)