Minggu, 10 Juni 2012

KRITIK PEMIKIRAN THOMAS HOBBES; MANUSIA, MAKHLUK ANTI-SOSIAL


Seorang filsuf terkenal dari inggris bernama Thomas Hobbes ini memiliki corak pemikiran filsafat yang sedikit agak jauh dengan pemikiran filsafat sebelumnya. Ia – Thomas memiliki perbedaan yang terletak pada peng-optimalan penggunaan indra sebagai alat dari manifestasi pengetahuan yang real. Oleh karena itu tak mengherankan apabila ia pernah mengkritik para filosof rasionalisme yang terlebih dahulu menggunakan akal yang bersifat apriori dan mengesampingkan indera untuk mengungkap pengetahuan. Thomas menganggap filsafat haruslah netral dan bebas dari segala ajaran – dogma, magis, dan metafisik. Ia berusaha mengangkat filsafat diatas segala golongan pengetahuan ke drajat yang tinggi.

Lebih dari itu, Thomas yang dikenal sebagai filosof pembuka pemikiran empirisme. Ternyata ia juga memiliki pemikiran dalam bidang yang lain. contoh saja dalam kemanusiaan. Ia menganggap manusia adalah makhluk anti sosial yang dikatakan manusia ialah serigala dari serigala yang lain. kalau kita renungkan sejenak. Manusia ialah makhluk anti sosial. Lalu bagaimana manusia itu akan hidup?. Bukankah manusia tidak akan bisa untuk merawat dirinya sendiri sejak ia sudah dilahirkan. Tentu ia masih memerlukan seorang ibu atau manusia untuk merawatnya. Namun ontologi pemikiran Hobbes tidak sampai pada tataran yang sangat dasar itu, masih ada beberapa klasifikasi lagi untuk merumuskan manusia yang dikatakan sebagai makhluk anti sosial. Pertama, manusia sudah mampu berfikir. Kedua manusia sudah mampu mengenal lingkungan, dan masih ada lagi.

Hobbes mengatakan perihal manusia sebagai makhluk anti sosial ialah, tidak lain karena hobbes sendiri pada waktu itu tengah hidup pada zaman pra Inggris revolusi. Manusia pada waktu itu sangatlah keras. Maka ketika Hobbes dimintai pendapatnya mengenai politik untuk menanggulangi permasalah yang sangat komplek saat itu. Hobbes berpendapat bahwa manusia haruslah dipimpin oleh suatu pemerintahan yang absolut, gunanya untuk mengekang para serigala-serigala (manusia-manusia) itu untuk patuh dalam suatu kontrak sosial. Oleh sebab itu terkadang Hobbes disebut-sebut sebagai dalang pemikiran sistem pemikiran monarki.

Dari keterangan pemikiran Hobbes diatas, sedikit saya menyimpulkan corak pemikiran Hobbes tentang kemanusia yang berkutat pada egosntris yang mendikan peran individu sebagai kebenaran paling mutlak dalam beretika. Ini salah!. Maaf sedikit keras. Kesalahan paling utama ialah manakala manusia dijadikan objek bagi dirinya sendiri maka nilai eksistensi dari keberadaan manusia sama sekali “tidak ada”. Hal serupa juga dipaparkan oleh Rene Descartes, yang mengatakan cogito ergosum “aku berfikir maka aku ada”, atau apabila manusia satu tidak pernah memikirkan manusia lainnya maka manusia lainnya itu sama halnya tidak ada, tidak ada dalam fikiran kesadarannya sehingga menafikan kesadaran akan kehadiran manusia yang lain. lalu karena menyadari itu, Hobbes mengatur manusia dengan kontrak sosial untuk mengekang manusia yang menurut idealnya sebagai makhluk anti sosial. Di sini saya mencoba membantah teori Hobbes dengan beberapa anggapan filosof rasionalis tentang kemanusian tapi juga akan saya tambahkan dengan pendapat-pendapat lain.

Akan tetapi , selain para filosof lain yang bergesekan pemikirannya dengan Hobbes. Masih ada filosof lain yang lain yang terdengar seragam dengan Hobbes yaitu Nietchze. Menurut Nietchze manusia memilki kemampuan untuk menguasai atau dalam bahasa populernya dikatakan “will to power”. Artinya manusia memiliki kemampuan, memerintah, menguasai, mengatur, membentak, memukul, dan menendang yang kesemua itu bertujuan untuk menguasai (manusia lainnya) atau jika di analogikan dengan pemikiran Hobbes sama halnya manusia sebagai serigala dari serigala lainnya yang bertujuan saling berkuasa.

Kedua pemikiran itu, Hobbes maupun Nietchze sama-sama berkutat pada subjektivisme, cuman Nietchze lebih pada eksistensialisme dan Hobbes pada individualisme. Terlepas dari itu. Banyak sekali tokoh – tokoh nasionalisme yang beranggapan manusia sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan seperti teori monadnya Leibniz yang mengatakan, bahwa monad (substansi) satu dengan monad lainnya itu saling berhubungan, dan teori susunan alam Democritus yang beranggapan alam semesta teripta dari atom – atom yang saling berkesesuaian. Hal demikian (manusi sebagai makhluk sosial) sangat disadari pada pasca perang dunia kedua, dimana mansia mulai sedikit mengerti akan arti penting nilai kemanusiawian antar sesama, tidak pandang suku, negara, ras, golongan, budaya, dan keturunan. Kesemua itu menempati suatu wilayah horisontal (wilayah antar manusia) yang sama, dan memiliki wilayah vertikal (hubungan dengan tuhan) yang sama pada intinya walau sedikit saling berbeda. Dan jauh lebih dahulu dari Hobbes, para pemikir pada abad yunani kuno dahulu telah menerapkan sistem demokrasi pada pemerintahannya yang berpusat atas aspirasi rakyat – rakyat yang memerintah (demokrasi langsung). boleh jadi Hobbes berpendapat demikian karena pada dasar pemikiran hobbes tentang etika manusia yang berpusat pada sentimennya.

Pendapat Hobbes tentang etika yang menjadi latar belakang dari pemikiran manusia sebagai makhluk anti sosial. Ia mengatakan bahwa manusia mengangkat perihal baik atau buruk diukur dari keinginan (nafsu) dan pengelakan. Nafsu (keinginan) sama halnya baik, dan pengelakan adalah keburukan. Semua manusia memang pada dasarnya memiliki keinginan, dan apabila keinginan itu tidak dapat tercapai maka akan terjadi pengelakan, dan pengelakan itu Hobbes sebut sebagai keburukan. Cinta, ambisi, hasrat, azam, dan cita-cita adalah nafsu (keinginan) yang apabila semua itu bisa tercapai maka manusia itu dinilai baik. Tetapi bagaimana dengan pengorbanan. Di situ (pengorbanan) terjadi dua hal yang saling bersintesis (kontradiktif) antara nafsu dan pengelakan. Nafsu sebagai pemicu awal, dan pengelakan sebagai impuls tambahan yang berimplikasi pengorbanan, jika dilhat dari suatu kondisi tertentu. Demikian lah mengapa Hobbes memilik anggapan bahwa manusia adalah makhluk anti sosial.

1 komentar:

  1. bagus sekali namun, ada beberapa hal yang menurutku tidak sesuai, pertama, manusia adalah serigala asosiasinya bukan antisosial, lebih tepatnya homo homini lupus. sehingga menurut hobbes perlu ada kekuatan yang bisa memayunginya.
    nah,menurut hobbes harus ada persilangan untuk menghasilkan spesies baru "Leviathan" (Monarkhi Absolut), kedua isu kemanusiaan sebenarnya sudah lahir sejak zaman rene descartes bukan pasca PD II.tpai over all it's okay.

    BalasHapus

keren