Peradaban Islam yang kini banyak sekali terjadi kemunduran dari aspek pengamalan nilai keagamaan, dan nilai sosial serta krisis pengetahuan yang terus mengikis benteng terma dogma agama Islam yang semakin terancam sirnanya walau tidak secra mutlak namun perlahan. padahal kalau mau dirunut dari perjalan Islamdari perkembangannya, Islam adalah suatu agama yang dapat mengakomodir seluruh kepentingan masyarakat dari golonga elit atau para masakin. sehingga tidak memerlukan waktu yang lama bagi seorang nabi Islam bernama Muhammad SAW untuk menyebar luaskan agama-Nya selama 23 tahun berselang. tidak seperti agama-agama yang lain yang kita ketahui sepertyi yahudi ataupun kisten yang memerlukan proses yang cukup rumit dan penuh dilematik untuk dapat menyebar luaskan ajarannya pada masyarakat kala itu.
paska kematian nabi Muhamad SAW, ajarannya diteruskan oleh para penerusnya ole para sahabat yang kala itu mengampu jabatan yang hampir menyamai nabi yang disebut sebagai khalifah. pada saat kepemimpinan Islam dipegang oleh Umar bin Khattab Islam mencapai kejayaannya dengan mampu mengekspansi kekaisaran Spayol di Cordova. dan kekeuasaan Islam terus benlanjut hingga berganti sistem kepemerintahan dengan model khilafah. pada saat-saat itulah Islam mengalami kejayaannya atas pengakuan dunia akan superioritas ajaran dari teolog yang tak ditemukan celah kelemahan. Islam mampu mengisi kekurangan teolognya dengan keyakinan yang teguh pada keesaan tuhan, Allah SWT. namun akibat ekspansi Islam yang mencapai wilayah eropa. akibatnya mereka juga ikut terpengaruh pada budaya helenisme atau bisa disebut budaya berfilsafat dari bangsa Yunani yang sedang tenar untuk dipelajari. Islam pada saat itu sempat menjadi pembuka filsafat baru yang semula pernuh redup akibat kediktatoran orang-orang gereja untuk membumi hanguskan budaya berfilsafat, karena sangat mnyalahi koridor agama yang berlaku.
namun dari serangkaian bukti kejayaan Islam yang menjadi kunci penggerak perdaban dunia, telah dikalahkan dengan peradaban barat. mengapa bisa dikalahkan. kekalahan disini bukanlah kekalahan dari aspek fisik atau kekuasaan tanah, namun kekalahan ideologi yang berakibat bercampur baurnya ideologi barat pada pemikran Islam, sehingga Islam yang benar-benar murni sebagai agama yang rahmatan lil alamin sukar didapatkan.
Gerakan, demi gerakan terus diusung demi menegakan ajaran Islam kembali semula utuh. berawal pada gerakan yang diusung Al-Afghany. saat kawansan Iran diserang oleh bangsa barat, ia sangat getol dengan serangan itu hingga ia mengeluarkan esai-esai yang terkumpul dalam majalah Urwatul Wutsqo. dan dilanjutkan oleh gerakan Muhamad Abduh, Rasyid Ridho dengan Al-Manarnya, yang kesemua itu menuntut pembaharuan Islam yang lebih ideal dengan peradaban Islam yang relevansi dengan zaman yang tenga ada. maka isu-isu terkait modernitas Islam mulai mencuat ditelinga para intelektual Islam. tujuan dari modernitas Islam tidaklah lain untuk mengugguli pemikiran-pemikiran orientalis yang terus mengekspansi ideologi Islam, terutama timur. gerakan modernitas menuntut sebuah persamaan kedudukan manusia seperti halnya ibadah sholat yang terus dilakukan, disana (sholat) tidak ada sebuah perlakuan khusus pada ritual keagamaan terseut yang menuntut perbedaan kelas, semua sama, semua sujud, semua takbir, baik menteri, tukang cuci, ataupun kyai juga melakukan hal yang sama. maka jelaslah dalam modernitas Islam yang dibangun dengan tidak melupakan pondasi pokok dari Islam itu sendiri, yaitu sebuah egaliteral.
dalam Islam tidak dikenal sebuah perbedaan dari bentuk paras wajah, harta, kedudukan, semua sama didepan maha kuasa. hanya skala keimanan yang dapat membedakan dari satu hamba dengan hamba yang lain.
padaperjalanannya gerakan modernitas Islam mulai mengusutkan taringnya mungkin karena minimnya tokoh atau figur yang dpat melanjutkan pemikiran seperti AlAfghany atau Rasyid Ridho. atau mungkin karena sudah tidak relevannya lagi modernitas Islam untuk abad 19 ke-depan. maka dari titik ini. sebagai peletak batu pertama selepas gerakan modernitas Islam yaitu sebuah gerakan revolusi Islam atau postmodernitas Islam oleh Khassan Khanafi dengan pemikirannya yang sering disebut "Islam Kiri".
pada Islam Kiri, mungkin nama ini akan langsung menganalogikan pemkiran kita pada condong yang negatif, karena kebanyakan orang menafsirkan kiri sebagai hal yang negatif. padahal tidaklah benar. maikita kaji. memanglah dalam Islam tidak ada sebuah perbedaan apapun atau dalam Islam sendiri tidak ada sama sekali hal yang menuntut perbedaan. Kiri Islam bukan bermaksud untuk membedakan diri dengan Islam atau memisahkan diri dengan Islam seperti kaum khawarij yang memisahkan diri dengan Syiah. Kiri Islam tidak sama sekali berusaha memisahkan diri,. sebutan Kiri Islam diambil bukan semata-mata untuk diktakan seagai ajaran yang lberal melainkan Kiri Islam adalah sebuah seimbol perlawanan dan perlindungan bagi mereka yang termarjinalkan, tertinferiorkan, atau terdeportasikan dari status sosial, agama, atau peran diri. Kiri ISlam dari epistemologi Khassan Hanafi berusaha untuk menjunjung persamaan kelas antar manusia bukan hanya antara si-kaya dan si-miskin, melainkan juga bagi muslim dan non muslim.
inti dari gerakan kiri Islam bukanlah serangan fisik secara radikal atau intervensi-intervensi yang cenderung memaksa, Kiri Islam memanglah menginginkan persatuan, tapi tidak begitu menuntut persatuan dari seluruh dunia untuk menyatu dengan Islam secara formal. namun penyatuan diusung kiri Islam adalam sebuah relasional dengan nilai tauhid. kecendrungan mastarakat modern yang terkena bias kapitalis akibat merebaknya isu-isu barat yang mampu engakomodir ekonomi hingga pada skala feodal. maka relasional dengan nilaitauhid adalah sebuah batas yang tak patut diseberangi untuk dapat tetap stay on the line atau tetap berjalan dalam koridor Islam. Islam memiliki tradisi yang elalu berbagi, harta yang orang kaya miliki bukan 100% hatnya secarapribadi melainkan juga terdapat harta hak yang harus didapatkan para miskin untuk mendapatkan, maka terkadang ada qoul ulama yang memperbolehkan mengambil paksa harta orang kaya (kapitalis), bila tidak dishodaqohkan. jadi relasional tauhid disni dimaksudkan untuk menyatukan kepentingan dunia dan akhirat sebagai monisme, yaitu sebagai satu kepentingan kebutuhan satu padu melaju, bukan menjadi hal yang dualisme. akhirat tapa dunia juga tidak baik, dunia tanpa akhirat tidak baik pula. keduanya salng berkaitan. maka dari sini nabi pernah memanjatkan do'a rabbana aatina fii ad-dunya hasanah wa fii al-akhirati hasanah wa kina adzaba an-naar.
terlebih penting dari gerakan kiri Isla lainnya ialah, sebagai wadah perlawanan kepada barat dengan orientalis mereka. maka Khassan Hanafi dengan senjata balasan menggunakan pemikiran oksidentalsme sebagai perlawanan orientalis. orientalis yang bertujuan mempelajari budaya-badaya ketimuran. maka oksidentalis Khassan Hanafi, bertujuan mempelajari budaya-budaya kebaratan, bukan untuk dicari titik lemahnya. bukan pla untuk ditemukan kecenderunganya, akan tetapi untu dicari titik stabiltas dengan keislaman agar kemuanya mampu berjalan sesuai harapan, harapan kita, haapan ku, haran kamu, harapan semua!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren