Rabu, 25 Januari 2012

Hari-Hari sebagai Mahasiswa


Hari Pertama
Awal mula aku masuk dunia perkuliahan adalah sebagai hal yang baru. Saat semuannya tak dapat kita dapatkan secara instan, bukan lagi zamannya menunggu guru menerangkan sehingga saya menyabutnya instan. Akan tetapi mahasiswalah yang bertanggung jawab atas jalanya proses kuliah, dengan mereka (mahasiswa) membuat makalah, terus menerus di tiap semester dan tiap mata kuliah hingga pada akhirnya mereka memmpersiapkan untuk merancang judul dalam pembikinan skripsi. Bukan hal yang mudah tapi perlu adanya proses serius agar semua tak terlalau dipandang sulit. Jika dapat menyikapinya dengan rasa enjoy tanpa beban padahal sesungguhnya beban sangat menumpuk. Tergantung bagaimana kita menganggap beban itu menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi diri sendiri.

Satu paragraf diatas cukup mewakili diriku dalam proses perkuliahan yang terhitung dari september lalu. Yang paling teraneh selama awal perkuliahan yang kualami, saat harus sekalas dengan para makhluk. Apakah itu hal aneh? Atau apakah aku sendiri yang tidak normal? Kurasa semua pertanyaan tak patut dibenarkan namun dipelajari. Memang sejak aku duduk di bangku Aliyah Tebuireng tidak pernah sejajar dengan perempuan. Artinya aku hampir tak pernah sekelas dengan perempuan. Diakuipun memang itu adanya secara letak geografis Aliyah betemat di lingkungan Pesantren mau tak mau sistem pendidikannya pun harus mengikuti aruran norma pesantren yang telah berlaku selama berabad-abad.

Hari ke hari mulai aku telah terbiasa dengan perempuan daam bergaul. Tapi karena belum terbiasa aku terkadang kasar pada mereka, apakah karena diriku yang tak punya perasaan? Pasti tetep punya, namun ini kusadari sebagai kekuranganku dalam menatap sekitar dengan pandangan biasa. Aku ingin memiliki sikap peka. Tidak langsung peka akan tetapi butuh peoses dan aku yakin aku bisa melampaui itu. Aku yakin!

Memilih Organisasi

Mula-mula setelah dapat membiasakan dalam proses perkuliahan, aku mulai bergerak dalam organisasi. Untuk mengasah apa yang kupelajari selama di pondok tidak lah sia-sia belaka. Sebelum aku berorganisasi aku perlu memilioh mana organisasi yang cocok untuk pribadi? Di tinjau dari agama, akademis, dan ideologi. Yang tetkenal di kampus salah satunya PMII dan HMI. Dua organisasi yang sama-sama bergerak dalam bidang keislaman dan nasionalis
.
Antara PMII dan HMI

Kata Kyai dengan nama Gus Luqman Tremas Pacitan, saat soan bersama abahku. Beliau menanyakan dimana aku kuliah? Abahku menjawab di surabaya tepatnya di IAIN Sunan Ampel. Serentak Gus Lukman langsung merespon “loh mengapa kok tidak di UIN Malik Ibrahim di Malang? Di sana sistem pendidikannya berbasis pesantren, mahasiswa semester satu diwajibkan untuk mondok di pesantren mahasiswa, mengapa kok masih memilih IAIN Surabaya disana kan panas”. Ditengah pembicaraan itu mamaku membisiki aku seraya berkata ” ya begitulah abahmu ga mau tanya-tanya dulu”. Aku tetap bersikap tenang sambil mendengarkan orang tuaku berbincang dengan Gus yang tak lain ialah adik kelas abahku manakala masih nyantri di Tremas. Terlihat ragu tapi butuh kepastian abahku merespon pernyataan Gus Luqman dengan mengatakan “Gus anak saya apakah bisa dipindahkan ke UIN Malang?”. Aku benar-benar tak biasanya abahku ragu dengan keputusannya. Namun oleh Gus Luqman dijawab antusias “Di IAIN Surabaya juga bagus kok, disana deket dengan pusat NU, ada juga pak Ridwan Natsir beliau itu orang hebat disana. Maka saya sarankan anak panjenengan ini mengikuti organisasi ekstra PMII”. Abah mulai tenang, dan aku pun mulai bisa bernafas lega. 

Dari percakapan itu tadi membuatku untuk memilih PMII dan menyakini IAIN sebagai the best choice. Tapi aku masih meragukan PMII sebelum aku sendiri membuktikan PMII organisasi yang pantas untuku, maka aku tak akan memilih PMII.  

Tanda tanya besarPernah aku ditawari seseorang untuk masuk di HMI, sempat aku tahan dulu karena masih meragukan keduanya. HMI dikenal sebagai multi madzhab yang semua madzhab bercampur dalam HMI. Yang di ideologikan ya keislaman jadi bercampur antara Syafi’iyah, Hanbaliah, Malikiyah, Hanbaliyah, dan bahkan Wahabiyah. Sedikit aku tertarik dengan organisasi itu karena alasan bercampurnya segala pemikiran madzhab yang mana aku bisa mengenal dari berbagai macam aliran it’s amazing.alasan ku meragukan HMI yang aku sempat sampaikan di awal paragraf karena kelebihan organisasi itu yang aku ragukan. Karena di sana tidak ada pemikiran paten yang selalu dipegang. Kalau dihadapkan pada suatu masalah tidak terlalu bingung untuk memutuskannya. Misalnya saja pada permasalahan agama yang punya madzhab Syafi’i berkata demkian, yang punya madzhab Malikiyah berkata lain, dan masih banyak lagi pertentangan, dan aku yakin tak cukup satu malam untuk membahasnya satu madzhab saja sudah begitu ruwetnya apalagi begitu banyak. 

Dari permasalahan mungkin sebuah penyebab perpecahan dalam organisasi itu, sebelumnya saya tak tahu pasti namun hanya mengira-ngira saja. Soal perpecahan organisasi itu menjadi dua kubu diantaranya DIPO dan MPO. Ah.. tak usah saya terangkan terlalu panjang saya tidak mau ada orang yang tak terima.

Perbedaan Cabang Surabaya dengan Cabang Surabaya Selatan

Kemudian, saya beranjak ke PMII setelah saya mencoba mentelusuri latar belakang organisasi itu ternyata tak jauh beda yang kupahami selami ini dengan menganut paham ASWAJA sebagai manhajul fiqr,dalam hati sembari berkata “mungkin ini maksud Gus Luqman”. Tak telalu banyak pikir aku mendaftar menjadi anggota PMII dan telah resmi bergabung setelah mengikuti prosesi MAPABA 2011. Tapi sebelum saya pada masa MAPABA saya mengalami masa-masa dimana saya dipusingkan karena hanya di fakultas Tarbiyah saya mendapati PMII terpecah menjadi dua. Dua diantaranya, PMII Cabang Surabaya Selatan dan PMII Cabang Surabaya. Timbul dibenakku tanda tanya besar “Apa bedanya PMII Cabang Surabaya dan PMII Cabang Surabaya Selatan?”.

Sebuah Jawaban

Satu dari orang yang menjawb pertanyaan saya adalah kakak kelasku. Kata ia “kalau ditanya bedanya, tinggal yang sah dan yang tidak sah”.

 Saya ingin perjelas lagi, “maksud sampean yang sah dengan yang tidak itu gimana?, saya kurang mengerti”.

Sedikit berwajah serius sembari menjawab, “ begini muf, jika PMII Cabang Surabaya itu memiliki legalisasi artinya memiliki ke-sah-an. Nah,, jika PMII Cabang Surabaya Selatan itu tidak memiliki legalisasi dari pengurus besar atu sering disingkat dengan PB”.

Dapat kupahami kalau PMII Cabang Surabaya yang memiliki legalitas dengan bukti adanya SK atau Surat Keputusan. Dari materi yang saya dapatkan sewaktu MAPABA 2011 saat pembahasan konstitusi, disitu dijelaskan dalam satu komisariat (kampus) tidak boleh terdapat dua cabang. Sah sah bila ada dua cabang manakala pemerintahan kota Surabaya terbagi menjadi dua; Surabaya dan Surabaya Selatan. Tapi itu sangat mustahil kalau dilihat dari sistem pemerintahan RI yang bukan menganut lagi pemerintahan berbasis keserikatan.

Sekian dulu dari sedikit pengalamanku selama 6 bulan kira-kira saya masuk ke dunia perkuliahan. Nanti kita sambung lagi . . . 12-12-2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren