Hari Pertama
Awal mula aku masuk dunia perkuliahan adalah sebagai
hal yang baru. Saat semuannya tak dapat kita dapatkan secara instan, bukan lagi
zamannya menunggu guru menerangkan sehingga saya menyabutnya instan. Akan
tetapi mahasiswalah yang bertanggung jawab atas jalanya proses kuliah, dengan
mereka (mahasiswa) membuat makalah, terus menerus di tiap semester dan tiap
mata kuliah hingga pada akhirnya mereka memmpersiapkan untuk merancang judul
dalam pembikinan skripsi. Bukan hal yang mudah tapi perlu adanya proses serius
agar semua tak terlalau dipandang sulit. Jika dapat menyikapinya dengan rasa
enjoy tanpa beban padahal sesungguhnya beban sangat menumpuk. Tergantung
bagaimana kita menganggap beban itu menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi diri
sendiri.
Satu paragraf diatas cukup mewakili diriku dalam
proses perkuliahan yang terhitung dari september lalu. Yang paling teraneh
selama awal perkuliahan yang kualami, saat harus sekalas dengan para makhluk.
Apakah itu hal aneh? Atau apakah aku sendiri yang tidak normal? Kurasa semua
pertanyaan tak patut dibenarkan namun dipelajari. Memang sejak aku duduk di
bangku Aliyah Tebuireng tidak pernah sejajar dengan perempuan. Artinya aku
hampir tak pernah sekelas dengan perempuan. Diakuipun memang itu adanya secara
letak geografis Aliyah betemat di lingkungan Pesantren mau tak mau sistem
pendidikannya pun harus mengikuti aruran norma pesantren yang telah berlaku
selama berabad-abad.
Hari ke hari mulai aku telah terbiasa dengan
perempuan daam bergaul. Tapi karena belum terbiasa aku terkadang kasar pada
mereka, apakah karena diriku yang tak punya perasaan? Pasti tetep punya, namun
ini kusadari sebagai kekuranganku dalam menatap sekitar dengan pandangan biasa.
Aku ingin memiliki sikap peka. Tidak langsung peka akan tetapi butuh peoses dan
aku yakin aku bisa melampaui itu. Aku yakin!
Memilih Organisasi
Mula-mula setelah dapat membiasakan dalam proses
perkuliahan, aku mulai bergerak dalam organisasi. Untuk mengasah apa yang
kupelajari selama di pondok tidak lah sia-sia belaka. Sebelum aku berorganisasi
aku perlu memilioh mana organisasi yang cocok untuk pribadi? Di tinjau dari
agama, akademis, dan ideologi. Yang tetkenal di kampus salah satunya PMII dan
HMI. Dua organisasi yang sama-sama bergerak dalam bidang keislaman dan
nasionalis
.
Antara PMII dan
HMI
Kata Kyai dengan nama Gus Luqman Tremas Pacitan,
saat soan bersama abahku. Beliau menanyakan dimana aku kuliah? Abahku menjawab
di surabaya tepatnya di IAIN Sunan Ampel. Serentak Gus Lukman langsung merespon
“loh mengapa kok tidak di UIN Malik Ibrahim di Malang? Di sana sistem
pendidikannya berbasis pesantren, mahasiswa semester satu diwajibkan untuk
mondok di pesantren mahasiswa, mengapa kok masih memilih IAIN Surabaya disana
kan panas”. Ditengah pembicaraan itu mamaku membisiki aku seraya berkata ” ya
begitulah abahmu ga mau tanya-tanya dulu”. Aku tetap bersikap tenang sambil
mendengarkan orang tuaku berbincang dengan Gus yang tak lain ialah adik kelas
abahku manakala masih nyantri di Tremas. Terlihat ragu tapi butuh kepastian
abahku merespon pernyataan Gus Luqman dengan mengatakan “Gus anak saya apakah
bisa dipindahkan ke UIN Malang?”. Aku benar-benar tak biasanya abahku ragu
dengan keputusannya. Namun oleh Gus Luqman dijawab antusias “Di IAIN Surabaya
juga bagus kok, disana deket dengan pusat NU, ada juga pak Ridwan Natsir beliau
itu orang hebat disana. Maka saya sarankan anak panjenengan ini mengikuti organisasi ekstra PMII”. Abah mulai
tenang, dan aku pun mulai bisa bernafas lega.
Dari percakapan itu tadi membuatku untuk memilih
PMII dan menyakini IAIN sebagai the best
choice. Tapi aku masih meragukan PMII sebelum aku sendiri membuktikan PMII
organisasi yang pantas untuku, maka aku tak akan memilih PMII.
Tanda tanya besarPernah aku ditawari seseorang untuk
masuk di HMI, sempat aku tahan dulu karena masih meragukan keduanya. HMI
dikenal sebagai multi madzhab yang semua madzhab bercampur dalam HMI. Yang di
ideologikan ya keislaman jadi bercampur antara Syafi’iyah, Hanbaliah,
Malikiyah, Hanbaliyah, dan bahkan Wahabiyah. Sedikit aku tertarik dengan
organisasi itu karena alasan bercampurnya segala pemikiran madzhab yang mana
aku bisa mengenal dari berbagai macam aliran it’s amazing.alasan ku meragukan HMI yang aku sempat sampaikan di
awal paragraf karena kelebihan organisasi itu yang aku ragukan. Karena di sana
tidak ada pemikiran paten yang selalu dipegang. Kalau dihadapkan pada suatu
masalah tidak terlalu bingung untuk memutuskannya. Misalnya saja pada
permasalahan agama yang punya madzhab Syafi’i berkata demkian, yang punya
madzhab Malikiyah berkata lain, dan masih banyak lagi pertentangan, dan aku
yakin tak cukup satu malam untuk membahasnya satu madzhab saja sudah begitu
ruwetnya apalagi begitu banyak.
Dari permasalahan mungkin sebuah penyebab perpecahan
dalam organisasi itu, sebelumnya saya tak tahu pasti namun hanya mengira-ngira
saja. Soal perpecahan organisasi itu menjadi dua kubu diantaranya DIPO dan MPO.
Ah.. tak usah saya terangkan terlalu panjang saya tidak mau ada orang yang tak
terima.
Perbedaan Cabang Surabaya dengan Cabang Surabaya
Selatan
Kemudian, saya beranjak ke PMII setelah saya mencoba
mentelusuri latar belakang organisasi itu ternyata tak jauh beda yang kupahami
selami ini dengan menganut paham ASWAJA sebagai manhajul fiqr,dalam hati sembari berkata “mungkin ini maksud Gus
Luqman”. Tak telalu banyak pikir aku
mendaftar menjadi anggota PMII dan telah resmi bergabung setelah mengikuti
prosesi MAPABA 2011. Tapi sebelum saya pada masa MAPABA saya mengalami
masa-masa dimana saya dipusingkan karena hanya di fakultas Tarbiyah saya
mendapati PMII terpecah menjadi dua. Dua diantaranya, PMII Cabang Surabaya
Selatan dan PMII Cabang Surabaya. Timbul dibenakku tanda tanya besar “Apa
bedanya PMII Cabang Surabaya dan PMII Cabang Surabaya Selatan?”.
Sebuah Jawaban
Satu dari orang yang menjawb pertanyaan saya adalah
kakak kelasku. Kata ia “kalau ditanya bedanya, tinggal yang sah dan yang tidak
sah”.
Saya ingin
perjelas lagi, “maksud sampean yang sah dengan yang tidak itu gimana?, saya
kurang mengerti”.
Sedikit berwajah serius sembari menjawab, “ begini
muf, jika PMII Cabang Surabaya itu memiliki legalisasi artinya memiliki
ke-sah-an. Nah,, jika PMII Cabang Surabaya Selatan itu tidak memiliki
legalisasi dari pengurus besar atu sering disingkat dengan PB”.
Dapat kupahami kalau PMII Cabang Surabaya yang
memiliki legalitas dengan bukti adanya SK atau Surat Keputusan. Dari materi
yang saya dapatkan sewaktu MAPABA 2011 saat pembahasan konstitusi, disitu
dijelaskan dalam satu komisariat (kampus) tidak boleh terdapat dua cabang. Sah
sah bila ada dua cabang manakala pemerintahan kota Surabaya terbagi menjadi
dua; Surabaya dan Surabaya Selatan. Tapi itu sangat mustahil kalau dilihat dari
sistem pemerintahan RI yang bukan menganut lagi pemerintahan berbasis keserikatan.
Sekian dulu dari sedikit pengalamanku selama 6 bulan
kira-kira saya masuk ke dunia perkuliahan. Nanti kita sambung lagi . . .
12-12-2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren