Kamis, 26 Januari 2012

Semangat Natal Sebagai Wujud Toleransi Agama


          Tinggal beberapa hari lagi menjelang 25 Desember dan 1 Januari sebagai  perayaan Natal dan tahun baru. Lanyaknya hari-hari besar keagamaan lainnya seperti Hari Raya Idul Fitri yang dirayakan dengan penuh suka cita oleh umat Islam di seluruh dunia. Hari Natal pun juga lanyaknya hari-hari besar keagamaan lainnya yang tiap satu tahun sekali diperingati umat kristiani di seluruh dunia dengan rasa riang dan ceria.
            Selaku warga negara yang baik seyogyanya, kita juga turut bersenang hati manakala satu dari umat beragama di negara kita merayakan hari besarnya. Karena ini menjadi bagian dari nilai plural dan nilai kemanusiaan bahwa setiap manusia diciptakan hidup berdampingan satu sama lain. Tidak mungkin kita sebagai manusia mampu hidup secara indvidual.
            Dalam ajaran Islam diterangkan kalimat visinya yang berbunyi rahmatan lil ‘alamin, artinya rahmat atau kasih sayang bagi sekalian alam. Kasih sayang yang berarti cinta sebagai luapan rasa senang yang ditujukan kepada seluruh jagat raya, kepada tanaman , hewan, dan manusia. Visi Islam ini menunjukan arti plural dalam arti yang lebih khusus berarti toleransi kepada apapun, jangankan kepada makhluk hidup; manusia dan hewan, kepada tanaman pun juga harus toleran.
            Perwujudan kita terhadap toleran itu tidak selalu berbentuk materi. Namun juga bisa dengan jasa saling menolong, tenggang rasa, sopan santun, rendah hati, dan lain-lain. Apabila perwujudan toleran itu mampu diaplikasikan tidak hanya berakhir sebagai teori belaka. Maka kedamaian dimana-mana akan tercipta.
            Saling mengucapkan selamat kepada pihak beragama yang merayakan hari besar agamanya bukanlah hal yang salah namun perlu dilestarikan karena itu adalah juga salah satu wujud toleran. Sangat jarang sekali orang untuk mampu memahami arti toleran pada dewasa ini. Maka tak jarang pula mereka yang mendiskriminasi antar sesama karena mereka berpaham toleran itu hanya kepada se-agamanya saja.
            Perlu bagi kita untuk membuka mata  kita secara lebar-lebar untuk memandang sebuah masalah dengan universal. Pemacahan masalah kurang terselasaikan apabila hanya berpegang pada satu pegangan semata. Kita selaku manusia yang dikatakan dalam firmannaya Allah SWT fii ahsani taqwiim, yakni sebaik-baiknya bentuk dengan karunia dari maha pencipta berupa akal sehat. Kita mampu berpikir mana yang salah dan mana yang benar. Berbeda dengan hewan, mereka mampu bergerak dan mencari makan dengan akalnya tapi apakah mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah.
            Perbedaan kita degan makhluk-makhluk ciptaan lainnnya inilah yang harus kita jadikan sebuag kebanggaan dan kehormatan tersendiri. Dengan adanya akal kita tidak lah harus menyelesaikan permasalahan dengan adu kekerasan. Dimana rasa bangga kita selaku makhluk terbaik bila kelakuan kita masih lanyaknya hewan yang tak berakal. Apa bedanya kita dengan hewan lainnya.
            Dari sini mari kita tumbuhkan rasa toleransi kita selaku manusia terlebih sebagai warga negara yang baik kepada manusia-manusia lain. Walau masing kita beda, betapa indahnya dan harmonisnya apabila manusia di seluruh dunia khususnya di Indonesia hidup dengan toleran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren