Tinggal
beberapa hari lagi menjelang 25 Desember dan 1 Januari sebagai perayaan Natal dan tahun baru. Lanyaknya
hari-hari besar keagamaan lainnya seperti Hari Raya Idul Fitri yang dirayakan
dengan penuh suka cita oleh umat Islam di seluruh dunia. Hari Natal pun juga
lanyaknya hari-hari besar keagamaan lainnya yang tiap satu tahun sekali
diperingati umat kristiani di seluruh dunia dengan rasa riang dan ceria.
Selaku
warga negara yang baik seyogyanya, kita juga turut bersenang hati manakala satu
dari umat beragama di negara kita merayakan hari besarnya. Karena ini menjadi
bagian dari nilai plural dan nilai kemanusiaan bahwa setiap manusia diciptakan
hidup berdampingan satu sama lain. Tidak mungkin kita sebagai manusia mampu
hidup secara indvidual.
Dalam
ajaran Islam diterangkan kalimat visinya yang berbunyi rahmatan lil ‘alamin,
artinya rahmat atau kasih sayang bagi sekalian alam. Kasih sayang yang berarti
cinta sebagai luapan rasa senang yang ditujukan kepada seluruh jagat raya,
kepada tanaman , hewan, dan manusia. Visi Islam ini menunjukan arti plural
dalam arti yang lebih khusus berarti toleransi kepada apapun, jangankan kepada
makhluk hidup; manusia dan hewan, kepada tanaman pun juga harus toleran.
Perwujudan
kita terhadap toleran itu tidak selalu berbentuk materi. Namun juga bisa dengan
jasa saling menolong, tenggang rasa, sopan santun, rendah hati, dan lain-lain.
Apabila perwujudan toleran itu mampu diaplikasikan tidak hanya berakhir sebagai
teori belaka. Maka kedamaian dimana-mana akan tercipta.
Saling
mengucapkan selamat kepada pihak beragama yang merayakan hari besar agamanya
bukanlah hal yang salah namun perlu dilestarikan karena itu adalah juga salah
satu wujud toleran. Sangat jarang sekali orang untuk mampu memahami arti
toleran pada dewasa ini. Maka tak jarang pula mereka yang mendiskriminasi antar
sesama karena mereka berpaham toleran itu hanya kepada se-agamanya saja.
Perlu
bagi kita untuk membuka mata kita secara
lebar-lebar untuk memandang sebuah masalah dengan universal. Pemacahan
masalah kurang terselasaikan apabila hanya berpegang pada satu pegangan semata.
Kita selaku manusia yang dikatakan dalam firmannaya Allah SWT fii ahsani
taqwiim, yakni sebaik-baiknya bentuk dengan karunia dari maha pencipta
berupa akal sehat. Kita mampu berpikir mana yang salah dan mana yang benar.
Berbeda dengan hewan, mereka mampu bergerak dan mencari makan dengan akalnya
tapi apakah mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Perbedaan
kita degan makhluk-makhluk ciptaan lainnnya inilah yang harus kita jadikan
sebuag kebanggaan dan kehormatan tersendiri. Dengan adanya akal kita tidak lah harus
menyelesaikan permasalahan dengan adu kekerasan. Dimana rasa bangga kita selaku
makhluk terbaik bila kelakuan kita masih lanyaknya hewan yang tak berakal. Apa
bedanya kita dengan hewan lainnya.
Dari
sini mari kita tumbuhkan rasa toleransi kita selaku manusia terlebih sebagai
warga negara yang baik kepada manusia-manusia lain. Walau masing kita beda,
betapa indahnya dan harmonisnya apabila manusia di seluruh dunia khususnya di
Indonesia hidup dengan toleran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren