Dalam kurun waktu menjelang tibanya hari raya natal 25
Desember mendatang, kebutuhan pangan masyarakat semakin naik harganya dari
harga aslinya. Ini menandakan stabilitas perdagangan yang mulai nampak, ini
disebabkan keterbatasan pangan dari semakin banyaknya konsumen.
Seperti,
kini nampak pra hari raya natal dan tahun baru. Pedagang daging mulai menaikan
harga satu kilo daging yang mula-mula berkisar 65 ribu berubah menjadi 75 ribu
dan hingga saat menjadi 85 ribu rupiah, “ini permintaan penyetor” sahut mereka
manakala ditanya kenaikan harga. Tapi pada sayur mayur seperi petai dan lain
masih stabil, belum terlihat kenaikan.
Pada 13 Desember lalu menteri perdagangan Gita Wirjana
mengawasi proses perdagangan yang ada di salah satu pasar di daerah tangerang.
Gita Wirjana pun menyempatkan untuk bertanya-tanya kepada se-jumplah pedangang
yang beroperasi di sana. Kemudian sehabis itu beliau beserta sang istri
menyempatkan sarapan disana pula.
Dari hasil percakapan itu menteri perdagangan Gita Wirjana
menghimbau kepada warga Indonesia untuk berhemat, mengapa?. Pada pasokan beras
pertahunnya tiap keluarga membutuhkan 140 kg. Ini jumplah yang sangat besar
kata beliau, kemudian beliau menambahkan pula “biasanya di negara-negara
seperti Vietnam, Malaysia, Thailand. Pada umumnya warganya sebelum mengkonsumsi
nasi mereka biasanya makan salad, sup, atau roti sebelumnya baru kemudian
nasi”. Di bandingkan dengan negara kita sendiri selalu mengawali makannya
dengan setumpuk nasi langsung.
Gita wirjana memberikan sebuah gagasan barangkali
Indonesia mampu untuk mengurangi jatah nasi dari 140 kg pertahun menjadi 100 kg
saja. Bila gagasan ini bisa terwujud tambah beliau, Maka sangat dimungkinkan Indonesia
menjadi salah satu negara pengimport barang pangan pokok terbesar dibanding
dengan negara lain. Karena Indonesia sangat lah berpotensi apabila mau sedikit
saja berhemat.
Memang dari menteri perdagangan mentaksir kebutuhan beras
di Indonesia aman sampai tibanya tahun baru. Akan tetapi jika masalah keterbatasan
panganan pokok ini tidak secepatnyam ditangani maka yang ditakutkan terjadinya
kelaparan.
Tak mengherankan apabila masyarakat terkadang terganggu
dalam kesehatannya. Karena dari cara pola makannya saja sudah salah. Tak kaget
apabila sering terjadi gangguan dalam kesehatan terkait dengan pencernaan,
seperti mag, sakit perut, dan kembung. Sakit atau sehatnya seseorang sebetulnya
bergantung pada pola makan, apabila benar seterusnya akan tetap sehat. Pada
pagi hari makanan yang ideal bukanlah sebongkah nasi melainkan roti, susu,
salad, dan makanan lain yang mengandung nilai karbohidrat. Terkadang orang yang
salah persepsi mengartikan makan roti, minum susu mana bisa mengenyangkan.
Namun akhir-akhir ini di sejumplah daerah di Jawa Barat mulai
menerapkan singkong sebagai pangan pokok, dan syukur lah mereka tetap sehat
walau hanya sekedar singkong. Pola-pola hidup sederhana atau pola penghematan
sumber pangan seperti ini perlu di terapkan di berbagai daerah di Indonesia
guna mencegah kekurangan pangan yang sama sekali tidak diinginkan.
Masyarakat perlu dihimbau agar dapat menghemat pasokan
pangan pokok, guna mempertahankan kelangsungan. Toh kalau bisa hemat akan dapat
menaikan nilai import barang pangan pokok Indonesia, devisa negara akan
bertambah dan keuntungannya akan dinikmati kita bersama. Terkecuali apabila
dari anggota yang bersangkutan tidak melakukan tindak penyelewengan baik
berbentuk uang, semoga saja tidak terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren