Jumat, 27 Januari 2012

INDONESIA HARUS BERHEMAT


        Dalam kurun waktu menjelang tibanya hari raya natal 25 Desember mendatang, kebutuhan pangan masyarakat semakin naik harganya dari harga aslinya. Ini menandakan stabilitas perdagangan yang mulai nampak, ini disebabkan keterbatasan pangan dari semakin banyaknya konsumen.

Seperti, kini nampak pra hari raya natal dan tahun baru. Pedagang daging mulai menaikan harga satu kilo daging yang mula-mula berkisar 65 ribu berubah menjadi 75 ribu dan hingga saat menjadi 85 ribu rupiah, “ini permintaan penyetor” sahut mereka manakala ditanya kenaikan harga. Tapi pada sayur mayur seperi petai dan lain masih stabil, belum terlihat kenaikan. 

            Pada 13 Desember lalu menteri perdagangan Gita Wirjana mengawasi proses perdagangan yang ada di salah satu pasar di daerah tangerang. Gita Wirjana pun menyempatkan untuk bertanya-tanya kepada se-jumplah pedangang yang beroperasi di sana. Kemudian sehabis itu beliau beserta sang istri menyempatkan sarapan disana pula.

            Dari hasil percakapan itu menteri perdagangan Gita Wirjana menghimbau kepada warga Indonesia untuk berhemat, mengapa?. Pada pasokan beras pertahunnya tiap keluarga membutuhkan 140 kg. Ini jumplah yang sangat besar kata beliau, kemudian beliau menambahkan pula “biasanya di negara-negara seperti Vietnam, Malaysia, Thailand. Pada umumnya warganya sebelum mengkonsumsi nasi mereka biasanya makan salad, sup, atau roti sebelumnya baru kemudian nasi”. Di bandingkan dengan negara kita sendiri selalu mengawali makannya dengan setumpuk nasi langsung.
     
       Gita wirjana memberikan sebuah gagasan barangkali Indonesia mampu untuk mengurangi jatah nasi dari 140 kg pertahun menjadi 100 kg saja. Bila gagasan ini bisa terwujud tambah beliau, Maka sangat dimungkinkan Indonesia menjadi salah satu negara pengimport barang pangan pokok terbesar dibanding dengan negara lain. Karena Indonesia sangat lah berpotensi apabila mau sedikit saja berhemat.

            Memang dari menteri perdagangan mentaksir kebutuhan beras di Indonesia aman sampai tibanya tahun baru. Akan tetapi jika masalah keterbatasan panganan pokok ini tidak secepatnyam ditangani maka yang ditakutkan terjadinya kelaparan.

            Tak mengherankan apabila masyarakat terkadang terganggu dalam kesehatannya. Karena dari cara pola makannya saja sudah salah. Tak kaget apabila sering terjadi gangguan dalam kesehatan terkait dengan pencernaan, seperti mag, sakit perut, dan kembung. Sakit atau sehatnya seseorang sebetulnya bergantung pada pola makan, apabila benar seterusnya akan tetap sehat. Pada pagi hari makanan yang ideal bukanlah sebongkah nasi melainkan roti, susu, salad, dan makanan lain yang mengandung nilai karbohidrat. Terkadang orang yang salah persepsi mengartikan makan roti, minum susu mana bisa mengenyangkan.


            Namun akhir-akhir ini di sejumplah daerah di Jawa Barat mulai menerapkan singkong sebagai pangan pokok, dan syukur lah mereka tetap sehat walau hanya sekedar singkong. Pola-pola hidup sederhana atau pola penghematan sumber pangan seperti ini perlu di terapkan di berbagai daerah di Indonesia guna mencegah kekurangan pangan yang sama sekali tidak diinginkan.

            Masyarakat perlu dihimbau agar dapat menghemat pasokan pangan pokok, guna mempertahankan kelangsungan. Toh kalau bisa hemat akan dapat menaikan nilai import barang pangan pokok Indonesia, devisa negara akan bertambah dan keuntungannya akan dinikmati kita bersama. Terkecuali apabila dari anggota yang bersangkutan tidak melakukan tindak penyelewengan baik berbentuk uang, semoga saja tidak terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren