Paradigma
kehidupan dari tahun ke tahun mengalami perubahan yang di luar keniscayaan.
Pada umumnya manusia saat ini tidak lah berprilaku seperti manusia pada
hakikatnya yang diciptakan oleh tuhan sebagai sebaik-baiknya bentuk. Demikian
terlihat dari cara hidup mereka yang jauh dari moral kemanusian bahkan lebih
parah.
Moralitas
kemanusian semakin anjlok ini disebabkan beberapa faktor, penyebab paling umum
karena perkembangan informatika sehingga mereka mulai menghiraukan nilai-nilai
budaya yang berlaku. Beberapa adat istiadat yang dijalankan sejak dahulu mulai
ditinggalkan mulai berganti dengan perilaku yang jelas sangat menyimpang.
Contohnya di perkotaan belakangan ini mulai semakin banyaknya persaingan dalam
pencaharian keuangan sehingga mereka mau tak mau menghalalkan segala macam cara
untuk memperolehnya. Namun yang disayangkan apabila sebagian dari mereka gagal
dalam memperolehnya tak jarang yang nekat bunuh diri, mungkin karena terhimpit
utang sampai tak mampu melunasinya, mungkin juga karena beban ekonomi yang
berkepanjangan, atau yang sering tren karena patah hati. Semua permasalahan di
atas dikarenakan kurang memiliki konsep hidup yang tak jelas. Kurang adanya
kekuatan mental agar kuat menghadapi segala macam cobaan.
Sungguh
ironi sikap yang mereka ambil di luar nalar. Padahal masih banyak cara yang
dapat dilakukan untuk menutup krisis yang berkepanjangan. Dari data yang
diambil di sejumplah negara belahan Asia Korea Selatan menjadi negara yang
memuliki jumplah terbanyak pada kasus bunuh diri. Tercatat ada 42 orang yang
bunuh diri pada setiap harinya. Jumplah yang sangat fantastis besar untuk
ukuran negara Korea Selatan, hingga negara tersebut menjadi negara yang
terbanyak mengalami kasus bunuh diri di bawahnya disusul kasus tabrakan, dan
kanker. Bahkan di negara tersebut bunuh diri adalah sebagai gaya hidup
sampai-sampai ada sebuah kelompok jaringan yang mengajak bunuh diri bersama.
Tapi oleh pemerintah setempat mencoba untuk menengani masalah itu.
Tak
hanya itu di negara kita Indonesia, hangat ini ditemui kasus bunuh diri yang
dilakukan seoeang anak kecil yang masih duduk di bangku SD. Hanya karena di
marahin oleh sang ayah, sang anak nekat untuk melakukan bunuh diri.
Permasalahan ini pada orang tua yang terlalu keras dalam mendidik sang anak
sehingga berprilaku demikian. Hal yang tidak umum di kalangan masyarakat
seorang anak kecil bunuh diri.
Masalah
seperti ini memerlukan penanganan khusus untuk penanggulangi permasalahan yang
berkpanjangan lebar. Motif yang mendasari bunuh diri kebanyakan karena merasa
putus asa tak mampu berbuat apa-apa lagi seperti kasus Hitler penggawa NAZI
yang akhir mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di Bunker setelah ia kalah
dalam perang dunia kedua dan juga seperti seorang sastrawan asal Iran yang hanya
tak mampu menciptakan karya sastra yang sepadan dengan karya sastra yang pernah
terkenal ia mengakhiri putus asanya dengan bunuh diri. Ada pula karena
menganggap bunuh diri adalah suatu kehormatan yang melakukannya makanya tak
heran di Korea Selatan bunuh menjadi seakan gaya hidup.
Sampai
hari ini belum ada kabar menyoal solusi kasus bunuh diri yang berkepanjangan.
Terdengar aneh bahkan tak mungkin sekali. tapi kalau tidak cepat di tangani
masalah ini akan menyebar luas, yang paling ditakutkan bila bunuh diri menjadi
sebuah gaya hidup. Ini akan menjadi permasalahan dalam populasi manusia. Mudah
mencari obat untuk penyakit fisik, tapi begaimana menangani penyakit bunuh diri
ini. Tak terlihat memang penyakitnya namun bisa dirasakan pada tiap orang yang
akan melakukannya, diantaranya depresi yang tak henti. Sebuah solusi yang saya
tawarkan ialah dengan langkah mensosialisikan kepada masyarakat akan indahnya
hidup ini bila di jalani dengan gigih dan semangat. Kami menunggu kabar dari
pemerintah atau dari badan LSM yang menangani masalah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren