Senin, 30 April 2012

Konversi Lahan Pertanian; Ancaman Feodalisme Kekinian



Indonesia yang dikenal dari beberapa negara lain di seluruh belahan dunia, sebagai negara yang berparan menjadi jantung dunia. Mengapa bisa saya katanakan jantung dunia. Karena sangat jelas sekali bahwa di Indonesia dikenal negara yang memiliki lahan pertanian yang sangat luas sekali jumplahnya yang bertempat dibeberapa pulau contohnya jawa, kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain.
Dari luasnya skala lahan pertanian ini. Indonesia pernah dinobatkan menjadi negara macan asia karena Indonesia menjadi pengeksport hasil pertanian terbesar, tatkala Indonesia masih dalam rezim Orde baru tepatnya pada saat pemerintahan Suharto. Pertanian lebih dimajukan. Karena menurut kalkulasi hampir seluruh penduduk Indonesia berpenghasiulan dari pertanian. Maka melihat potensi yang sangat brilian sekali apabila mau diperkembangkan lagi akan menjadi sumber import dari negara-negara asing. Dan hasilnya memang sangat memuaskan. Tapi dalam tanda kutip ketika dahulu kala.
Kemarin Mentan (Menteri Pertanian) Suswono. Memberikan sanggahannya tatkala melihat keterpurukan Indonesia dalam pengelolaan hasil panen yang menurun dari tahun ke tahun, mungkin dikarenakan bertambahnya harga pupuk dan pengaruh global warming yang berdampak pada perubahan cuaca yang signifikan, sehingga petani sangat sukar dapat mencocokan iklim yang tepat untuk bercocok tanam. Dan kemorosotan yang paling mengkhawatirkan adalah saat ini banyak dijumpai di seluruh belahan Indonesia sawah-sawah kini diganti bangunan-bangunan dengan corak modern, seperti perindustrian dan perumahan yang sangat banyak dijumpai di desa-desa.
Seringnya tindakan konversi lahan pertanian ke bangunan-bangunan yang dilandaskan kepentingan pribadi atau swasta ini apabila terus menerus akan berdampak pada merosotnya nilai jual Indonesia di pasar dunia. Padahal mengaca dari nilai jual Indonesia saat ini masih ketinggalan jauh sekali dengan negara-negara maju seperti Amerika dan Jepang, dikarenakan kalahnya produk buatan Indonesia sendiri yang mengakibatkan seruapa diatas atau mungkin lebih parah.
Kekuatan Indonesia
Indonesia masih mempunyai kekuatan. Kekuatan Indonesia bukanlah terletak pada SDM-nya, ini tidak boleh kita sesali dan jangan dipungkiri bahwa manusia-manusia pribumi Indonesia pada umumnya bersifat konsumtif artinya kita sebagai warga Indonesia kebanyakan lebih bangga memakai barang-barang buatan luar dibanding barang buatan negara sendiri. Bahkan hingga ilmu pengetahuan saja Indonesia lebih didominasi ilmu-ilmu dari luar. Sangat jarang sekali ditemukan di Indonesia beberapa pencetus ilmu pengetahuan. Umumnya hanya mengembangkan ilmu yang sudah ditemukan. Ini tidak boleh dipungkiri.
Kekuatan Indonesia yang paling ampuh untuk dapat mengalahkan negara-negara yang menduduki peringkat wahid dalam klasemen pasar dunia, hanyalah dengan pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam) yang sangat melimpah ruah di Indonesia. Namun konsep pemikiran warga Indonesia yang terlalu pragmatis hanya berujung pada untung dan untung tanpa mempertimbangkan akibat kedepan nasib bangsa. Hutan-hutan banyak ditebang, minimnya kesadaran memakai produk-produk dalam negeri, penjualan barang-barang mentah secara ilegal, dan konversi lahan-lahan bercocok tanam baik itu berupa pengalihan menjadi bangunan-bangunan ataupun pengalihan dari yang semula difokuskan bercocok padi menjadi bercocok cabe. Hal-hal seperti ini walau terdengar sepele namun perlu untuk dicegah. Kekhawatiran yang sangat tidak diinginkan adalah mengurangnya pekerja-pekerja petani yang lebig berminat menjadi buruh yang lebih jelas penghasilannya daripada bercocok tanam.
Paradigma Indonesia
Oleh sebab itu Mentan Suswono dengan penuh kesadaran dari UU nomor 41 yang berisi tentang perlindungan dan pengelolaan lahan pertanian. Beliau menghimbau kepada seluruh Gubernur dan Walikota di seluruh Indonesia untuk melakukan tindakan tegas untuk membatasi ulah konversitas lahan yang sangat merugikan. Dimulai dari pembuatan kontitusi baru atau disebut perda dari tiap daerah untuk melarang pembangunan ataupun pengalihan produksi yang bersifat individual dan pragmatis.
Sangat dimungkinkan sekali apabila pemerintah di tiap daerah di indonesia tidak bertindak tegas dalam menyikapi permasalahan ini, akan menjadikan Indonesia mengulangi kejadian masa silam. Pada suatu peristiwa yang melatarbelakangi kapitalisme yaitu feodalisme atau penguasaan tanah. Importir-importir telah banyak meracuni bangsa dengan produk-produk mereka yang terlihat apik, yang sedikit demi sedikit akan mengekspansi pasar Indonesia yang nantinya berdampak kurang layaknya produk Indonesia sendiri pada kacamata masyarakat untuk bersaing dengan produk luar. Maka pemerintah daerah harus bersikap tegas dan idealis, banyaknya pelegalan pasar-pasar modern seperti supermarket, hypermarket dan mall, menjadi bukti terulangnya feodalisme di era 20-an ini di Indonesia. Perlu saya tambahkan perlu ada tindakan intensifitas kepada petani berkenaan dengan kesadaran mereka dalam bercocok tanam yang bukan hanya diniati pada kebutuhan diri sendiri melainkan juga sebagai tidakan patriotisme yang tidak hanya dipahami berjibaku dengan medan perang tapi pada pemberdayaan alam. Revitalisasi dan insentifitas perlu digalang sejak dini untuk menumbuhkan gairah baru dalam mengelola pertanian.
Revitalisasi yang saya artikan sebagai tindakan penyerahan sumber daya alam untuk dikelola kembali oleh masyarakat agar lebih bisa berkembang secara mandiri. Kemudian insentifitas ini bersifat pengayoman oleh lembaga yang bersangkutan dalam pengelolaan, karena insentif sendiri adalah penambahan gaji pada petani khusunya agar mereka memiliki pandangan hidup yang lebih cerah dengan pekerjaan mereka sebagai petani.






Indonesia yang dikenal dari beberapa negara lain di seluruh belahan dunia, sebagai negara yang berparan menjadi jantung dunia. Mengapa bisa saya katanakan jantung dunia. Karena sangat jelas sekali bahwa di Indonesia dikenal negara yang memiliki lahan pertanian yang sangat luas sekali jumplahnya yang bertempat dibeberapa pulau contohnya jawa, kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain.
Dari luasnya skala lahan pertanian ini. Indonesia pernah dinobatkan menjadi negara macan asia karena Indonesia menjadi pengeksport hasil pertanian terbesar, tatkala Indonesia masih dalam rezim Orde baru tepatnya pada saat pemerintahan Suharto. Pertanian lebih dimajukan. Karena menurut kalkulasi hampir seluruh penduduk Indonesia berpenghasiulan dari pertanian. Maka melihat potensi yang sangat brilian sekali apabila mau diperkembangkan lagi akan menjadi sumber import dari negara-negara asing. Dan hasilnya memang sangat memuaskan. Tapi dalam tanda kutip ketika dahulu kala.
Kemarin Mentan (Menteri Pertanian) Suswono. Memberikan sanggahannya tatkala melihat keterpurukan Indonesia dalam pengelolaan hasil panen yang menurun dari tahun ke tahun, mungkin dikarenakan bertambahnya harga pupuk dan pengaruh global warming yang berdampak pada perubahan cuaca yang signifikan, sehingga petani sangat sukar dapat mencocokan iklim yang tepat untuk bercocok tanam. Dan kemorosotan yang paling mengkhawatirkan adalah saat ini banyak dijumpai di seluruh belahan Indonesia sawah-sawah kini diganti bangunan-bangunan dengan corak modern, seperti perindustrian dan perumahan yang sangat banyak dijumpai di desa-desa.
Seringnya tindakan konversi lahan pertanian ke bangunan-bangunan yang dilandaskan kepentingan pribadi atau swasta ini apabila terus menerus akan berdampak pada merosotnya nilai jual Indonesia di pasar dunia. Padahal mengaca dari nilai jual Indonesia saat ini masih ketinggalan jauh sekali dengan negara-negara maju seperti Amerika dan Jepang, dikarenakan kalahnya produk buatan Indonesia sendiri yang mengakibatkan seruapa diatas atau mungkin lebih parah.
Kekuatan Indonesia
Indonesia masih mempunyai kekuatan. Kekuatan Indonesia bukanlah terletak pada SDM-nya, ini tidak boleh kita sesali dan jangan dipungkiri bahwa manusia-manusia pribumi Indonesia pada umumnya bersifat konsumtif artinya kita sebagai warga Indonesia kebanyakan lebih bangga memakai barang-barang buatan luar dibanding barang buatan negara sendiri. Bahkan hingga ilmu pengetahuan saja Indonesia lebih didominasi ilmu-ilmu dari luar. Sangat jarang sekali ditemukan di Indonesia beberapa pencetus ilmu pengetahuan. Umumnya hanya mengembangkan ilmu yang sudah ditemukan. Ini tidak boleh dipungkiri.
Kekuatan Indonesia yang paling ampuh untuk dapat mengalahkan negara-negara yang menduduki peringkat wahid dalam klasemen pasar dunia, hanyalah dengan pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam) yang sangat melimpah ruah di Indonesia. Namun konsep pemikiran warga Indonesia yang terlalu pragmatis hanya berujung pada untung dan untung tanpa mempertimbangkan akibat kedepan nasib bangsa. Hutan-hutan banyak ditebang, minimnya kesadaran memakai produk-produk dalam negeri, penjualan barang-barang mentah secara ilegal, dan konversi lahan-lahan bercocok tanam baik itu berupa pengalihan menjadi bangunan-bangunan ataupun pengalihan dari yang semula difokuskan bercocok padi menjadi bercocok cabe. Hal-hal seperti ini walau terdengar sepele namun perlu untuk dicegah. Kekhawatiran yang sangat tidak diinginkan adalah mengurangnya pekerja-pekerja petani yang lebig berminat menjadi buruh yang lebih jelas penghasilannya daripada bercocok tanam.
Paradigma Indonesia
Oleh sebab itu Mentan Suswono dengan penuh kesadaran dari UU nomor 41 yang berisi tentang perlindungan dan pengelolaan lahan pertanian. Beliau menghimbau kepada seluruh Gubernur dan Walikota di seluruh Indonesia untuk melakukan tindakan tegas untuk membatasi ulah konversitas lahan yang sangat merugikan. Dimulai dari pembuatan kontitusi baru atau disebut perda dari tiap daerah untuk melarang pembangunan ataupun pengalihan produksi yang bersifat individual dan pragmatis.
Sangat dimungkinkan sekali apabila pemerintah di tiap daerah di indonesia tidak bertindak tegas dalam menyikapi permasalahan ini, akan menjadikan Indonesia mengulangi kejadian masa silam. Pada suatu peristiwa yang melatarbelakangi kapitalisme yaitu feodalisme atau penguasaan tanah. Importir-importir telah banyak meracuni bangsa dengan produk-produk mereka yang terlihat apik, yang sedikit demi sedikit akan mengekspansi pasar Indonesia yang nantinya berdampak kurang layaknya produk Indonesia sendiri pada kacamata masyarakat untuk bersaing dengan produk luar. Maka pemerintah daerah harus bersikap tegas dan idealis, banyaknya pelegalan pasar-pasar modern seperti supermarket, hypermarket dan mall, menjadi bukti terulangnya feodalisme di era 20-an ini di Indonesia. Perlu saya tambahkan perlu ada tindakan intensifitas kepada petani berkenaan dengan kesadaran mereka dalam bercocok tanam yang bukan hanya diniati pada kebutuhan diri sendiri melainkan juga sebagai tidakan patriotisme yang tidak hanya dipahami berjibaku dengan medan perang tapi pada pemberdayaan alam. Revitalisasi dan insentifitas perlu digalang sejak dini untuk menumbuhkan gairah baru dalam mengelola pertanian.
Revitalisasi yang saya artikan sebagai tindakan penyerahan sumber daya alam untuk dikelola kembali oleh masyarakat agar lebih bisa berkembang secara mandiri. Kemudian insentifitas ini bersifat pengayoman oleh lembaga yang bersangkutan dalam pengelolaan, karena insentif sendiri adalah penambahan gaji pada petani khusunya agar mereka memiliki pandangan hidup yang lebih cerah dengan pekerjaan mereka sebagai petani.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren