Indonesia yang dikenal dari beberapa negara lain di seluruh belahan
dunia, sebagai negara yang berparan menjadi jantung dunia. Mengapa bisa saya
katanakan jantung dunia. Karena sangat jelas sekali bahwa di Indonesia dikenal
negara yang memiliki lahan pertanian yang sangat luas sekali jumplahnya yang
bertempat dibeberapa pulau contohnya jawa, kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain.
Dari luasnya skala lahan pertanian ini. Indonesia pernah dinobatkan
menjadi negara macan asia karena Indonesia menjadi pengeksport hasil pertanian
terbesar, tatkala Indonesia masih dalam rezim Orde baru tepatnya pada saat
pemerintahan Suharto. Pertanian lebih dimajukan. Karena menurut kalkulasi
hampir seluruh penduduk Indonesia berpenghasiulan dari pertanian. Maka melihat
potensi yang sangat brilian sekali apabila mau diperkembangkan lagi akan
menjadi sumber import dari negara-negara asing. Dan hasilnya memang sangat
memuaskan. Tapi dalam tanda kutip ketika dahulu kala.
Kemarin Mentan (Menteri Pertanian) Suswono. Memberikan sanggahannya
tatkala melihat keterpurukan Indonesia dalam pengelolaan hasil panen yang
menurun dari tahun ke tahun, mungkin dikarenakan bertambahnya harga pupuk dan
pengaruh global warming yang berdampak pada perubahan cuaca yang
signifikan, sehingga petani sangat sukar dapat mencocokan iklim yang tepat
untuk bercocok tanam. Dan kemorosotan yang paling mengkhawatirkan adalah saat
ini banyak dijumpai di seluruh belahan Indonesia sawah-sawah kini diganti
bangunan-bangunan dengan corak modern, seperti perindustrian dan perumahan yang
sangat banyak dijumpai di desa-desa.
Seringnya tindakan konversi lahan pertanian ke bangunan-bangunan
yang dilandaskan kepentingan pribadi atau swasta ini apabila terus menerus akan
berdampak pada merosotnya nilai jual Indonesia di pasar dunia. Padahal mengaca
dari nilai jual Indonesia saat ini masih ketinggalan jauh sekali dengan
negara-negara maju seperti Amerika dan Jepang, dikarenakan kalahnya produk
buatan Indonesia sendiri yang mengakibatkan seruapa diatas atau mungkin lebih
parah.
Kekuatan Indonesia
Indonesia masih mempunyai kekuatan. Kekuatan Indonesia bukanlah
terletak pada SDM-nya, ini tidak boleh kita sesali dan jangan dipungkiri bahwa
manusia-manusia pribumi Indonesia pada umumnya bersifat konsumtif artinya kita
sebagai warga Indonesia kebanyakan lebih bangga memakai barang-barang buatan
luar dibanding barang buatan negara sendiri. Bahkan hingga ilmu pengetahuan
saja Indonesia lebih didominasi ilmu-ilmu dari luar. Sangat jarang sekali
ditemukan di Indonesia beberapa pencetus ilmu pengetahuan. Umumnya hanya
mengembangkan ilmu yang sudah ditemukan. Ini tidak boleh dipungkiri.
Kekuatan Indonesia yang paling ampuh untuk dapat mengalahkan
negara-negara yang menduduki peringkat wahid dalam klasemen pasar dunia,
hanyalah dengan pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam) yang sangat melimpah ruah di
Indonesia. Namun konsep pemikiran warga Indonesia yang terlalu pragmatis hanya
berujung pada untung dan untung tanpa mempertimbangkan akibat kedepan nasib
bangsa. Hutan-hutan banyak ditebang, minimnya kesadaran memakai produk-produk
dalam negeri, penjualan barang-barang mentah secara ilegal, dan konversi
lahan-lahan bercocok tanam baik itu berupa pengalihan menjadi bangunan-bangunan
ataupun pengalihan dari yang semula difokuskan bercocok padi menjadi bercocok
cabe. Hal-hal seperti ini walau terdengar sepele namun perlu untuk dicegah. Kekhawatiran
yang sangat tidak diinginkan adalah mengurangnya pekerja-pekerja petani yang
lebig berminat menjadi buruh yang lebih jelas penghasilannya daripada bercocok
tanam.
Paradigma Indonesia
Oleh sebab itu Mentan Suswono dengan penuh kesadaran dari UU nomor
41 yang berisi tentang perlindungan dan pengelolaan lahan pertanian. Beliau menghimbau
kepada seluruh Gubernur dan Walikota di seluruh Indonesia untuk melakukan
tindakan tegas untuk membatasi ulah konversitas lahan yang sangat merugikan. Dimulai
dari pembuatan kontitusi baru atau disebut perda dari tiap daerah untuk melarang
pembangunan ataupun pengalihan produksi yang bersifat individual dan pragmatis.
Sangat dimungkinkan sekali apabila pemerintah di tiap daerah di
indonesia tidak bertindak tegas dalam menyikapi permasalahan ini, akan
menjadikan Indonesia mengulangi kejadian masa silam. Pada suatu peristiwa yang
melatarbelakangi kapitalisme yaitu feodalisme atau penguasaan tanah. Importir-importir
telah banyak meracuni bangsa dengan produk-produk mereka yang terlihat apik,
yang sedikit demi sedikit akan mengekspansi pasar Indonesia yang nantinya
berdampak kurang layaknya produk Indonesia sendiri pada kacamata masyarakat
untuk bersaing dengan produk luar. Maka pemerintah daerah harus bersikap tegas
dan idealis, banyaknya pelegalan pasar-pasar modern seperti supermarket,
hypermarket dan mall, menjadi bukti terulangnya feodalisme di era 20-an ini di
Indonesia. Perlu saya tambahkan perlu ada tindakan intensifitas kepada petani
berkenaan dengan kesadaran mereka dalam bercocok tanam yang bukan hanya diniati
pada kebutuhan diri sendiri melainkan juga sebagai tidakan patriotisme yang
tidak hanya dipahami berjibaku dengan medan perang tapi pada pemberdayaan alam.
Revitalisasi dan insentifitas perlu digalang sejak dini untuk menumbuhkan
gairah baru dalam mengelola pertanian.
Revitalisasi yang saya artikan sebagai tindakan penyerahan sumber
daya alam untuk dikelola kembali oleh masyarakat agar lebih bisa berkembang
secara mandiri. Kemudian insentifitas ini bersifat pengayoman oleh lembaga yang
bersangkutan dalam pengelolaan, karena insentif sendiri adalah penambahan gaji
pada petani khusunya agar mereka memiliki pandangan hidup yang lebih cerah
dengan pekerjaan mereka sebagai petani.
Indonesia yang dikenal dari beberapa negara lain di seluruh belahan
dunia, sebagai negara yang berparan menjadi jantung dunia. Mengapa bisa saya
katanakan jantung dunia. Karena sangat jelas sekali bahwa di Indonesia dikenal
negara yang memiliki lahan pertanian yang sangat luas sekali jumplahnya yang
bertempat dibeberapa pulau contohnya jawa, kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain.
Dari luasnya skala lahan pertanian ini. Indonesia pernah dinobatkan
menjadi negara macan asia karena Indonesia menjadi pengeksport hasil pertanian
terbesar, tatkala Indonesia masih dalam rezim Orde baru tepatnya pada saat
pemerintahan Suharto. Pertanian lebih dimajukan. Karena menurut kalkulasi
hampir seluruh penduduk Indonesia berpenghasiulan dari pertanian. Maka melihat
potensi yang sangat brilian sekali apabila mau diperkembangkan lagi akan
menjadi sumber import dari negara-negara asing. Dan hasilnya memang sangat
memuaskan. Tapi dalam tanda kutip ketika dahulu kala.
Kemarin Mentan (Menteri Pertanian) Suswono. Memberikan sanggahannya
tatkala melihat keterpurukan Indonesia dalam pengelolaan hasil panen yang
menurun dari tahun ke tahun, mungkin dikarenakan bertambahnya harga pupuk dan
pengaruh global warming yang berdampak pada perubahan cuaca yang
signifikan, sehingga petani sangat sukar dapat mencocokan iklim yang tepat
untuk bercocok tanam. Dan kemorosotan yang paling mengkhawatirkan adalah saat
ini banyak dijumpai di seluruh belahan Indonesia sawah-sawah kini diganti
bangunan-bangunan dengan corak modern, seperti perindustrian dan perumahan yang
sangat banyak dijumpai di desa-desa.
Seringnya tindakan konversi lahan pertanian ke bangunan-bangunan
yang dilandaskan kepentingan pribadi atau swasta ini apabila terus menerus akan
berdampak pada merosotnya nilai jual Indonesia di pasar dunia. Padahal mengaca
dari nilai jual Indonesia saat ini masih ketinggalan jauh sekali dengan
negara-negara maju seperti Amerika dan Jepang, dikarenakan kalahnya produk
buatan Indonesia sendiri yang mengakibatkan seruapa diatas atau mungkin lebih
parah.
Kekuatan Indonesia
Indonesia masih mempunyai kekuatan. Kekuatan Indonesia bukanlah
terletak pada SDM-nya, ini tidak boleh kita sesali dan jangan dipungkiri bahwa
manusia-manusia pribumi Indonesia pada umumnya bersifat konsumtif artinya kita
sebagai warga Indonesia kebanyakan lebih bangga memakai barang-barang buatan
luar dibanding barang buatan negara sendiri. Bahkan hingga ilmu pengetahuan
saja Indonesia lebih didominasi ilmu-ilmu dari luar. Sangat jarang sekali
ditemukan di Indonesia beberapa pencetus ilmu pengetahuan. Umumnya hanya
mengembangkan ilmu yang sudah ditemukan. Ini tidak boleh dipungkiri.
Kekuatan Indonesia yang paling ampuh untuk dapat mengalahkan
negara-negara yang menduduki peringkat wahid dalam klasemen pasar dunia,
hanyalah dengan pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam) yang sangat melimpah ruah di
Indonesia. Namun konsep pemikiran warga Indonesia yang terlalu pragmatis hanya
berujung pada untung dan untung tanpa mempertimbangkan akibat kedepan nasib
bangsa. Hutan-hutan banyak ditebang, minimnya kesadaran memakai produk-produk
dalam negeri, penjualan barang-barang mentah secara ilegal, dan konversi
lahan-lahan bercocok tanam baik itu berupa pengalihan menjadi bangunan-bangunan
ataupun pengalihan dari yang semula difokuskan bercocok padi menjadi bercocok
cabe. Hal-hal seperti ini walau terdengar sepele namun perlu untuk dicegah. Kekhawatiran
yang sangat tidak diinginkan adalah mengurangnya pekerja-pekerja petani yang
lebig berminat menjadi buruh yang lebih jelas penghasilannya daripada bercocok
tanam.
Paradigma Indonesia
Oleh sebab itu Mentan Suswono dengan penuh kesadaran dari UU nomor
41 yang berisi tentang perlindungan dan pengelolaan lahan pertanian. Beliau menghimbau
kepada seluruh Gubernur dan Walikota di seluruh Indonesia untuk melakukan
tindakan tegas untuk membatasi ulah konversitas lahan yang sangat merugikan. Dimulai
dari pembuatan kontitusi baru atau disebut perda dari tiap daerah untuk melarang
pembangunan ataupun pengalihan produksi yang bersifat individual dan pragmatis.
Sangat dimungkinkan sekali apabila pemerintah di tiap daerah di
indonesia tidak bertindak tegas dalam menyikapi permasalahan ini, akan
menjadikan Indonesia mengulangi kejadian masa silam. Pada suatu peristiwa yang
melatarbelakangi kapitalisme yaitu feodalisme atau penguasaan tanah. Importir-importir
telah banyak meracuni bangsa dengan produk-produk mereka yang terlihat apik,
yang sedikit demi sedikit akan mengekspansi pasar Indonesia yang nantinya
berdampak kurang layaknya produk Indonesia sendiri pada kacamata masyarakat
untuk bersaing dengan produk luar. Maka pemerintah daerah harus bersikap tegas
dan idealis, banyaknya pelegalan pasar-pasar modern seperti supermarket,
hypermarket dan mall, menjadi bukti terulangnya feodalisme di era 20-an ini di
Indonesia. Perlu saya tambahkan perlu ada tindakan intensifitas kepada petani
berkenaan dengan kesadaran mereka dalam bercocok tanam yang bukan hanya diniati
pada kebutuhan diri sendiri melainkan juga sebagai tidakan patriotisme yang
tidak hanya dipahami berjibaku dengan medan perang tapi pada pemberdayaan alam.
Revitalisasi dan insentifitas perlu digalang sejak dini untuk menumbuhkan
gairah baru dalam mengelola pertanian.
Revitalisasi yang saya artikan sebagai tindakan penyerahan sumber
daya alam untuk dikelola kembali oleh masyarakat agar lebih bisa berkembang
secara mandiri. Kemudian insentifitas ini bersifat pengayoman oleh lembaga yang
bersangkutan dalam pengelolaan, karena insentif sendiri adalah penambahan gaji
pada petani khusunya agar mereka memiliki pandangan hidup yang lebih cerah
dengan pekerjaan mereka sebagai petani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren