Jumat, 02 Maret 2012

SIKAP KURANG TEGAS PEMERINTAH



Kemiskinan yang melanda warga sipil Indonesia dengan nilai angka yang kian menambah. Dari warga yang miskin hingga sangat miskin. Semakin menurunnya sumber daya manusia di tanah air menandakan melemahnya pula nilai jual Indonesia oleh negara-negara lain,

Dari bidang ekonomi Indonesia mengalami penurunan kurs USD Dollar. Hal ini dikarenakan nilai import lebih tinggi dari pada nilai eksport. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), menuturkan dari sekian banyaknya import yang masuk ke Indonesia itu adalah kiriman dari Tiongkok.

Masalah ini segara mendapat perhatian pemerintah denggan kebijakan mendag Gita Wirjana, dengan menciptakan 20 pasar percontohan di berbagai kota selama tahun 2011 telah disahkan 4 pasar percontohan, dan pemerintah juga mendanai pasar-pasar domerstik. Pemerintah mematok anggaran untuk pasar-pasar dengan kisaran  RP 400 Milliar.

Masalah juga mendera BBM bersubsidi yang tengah digarap para anggota birokrat. Pada sekitar tiga tahun lalu, pemerintahan berani menurunkan harga BBM tapi pemerintah kurang memperhatikan perkembangan harga minyak mentah dunia yang bisa saja melonjak. Penurunan BBM disambut meriah oleh masyarakat. Tapi BBM pada hari ini berkata lain, harga minyak mentah kian melonjak. Alhasil pemerintah kebingungan dengan keputusannya tempo hari lalu, saat ini mereka harus merasakan akibat dari keputusan mereka yang kurang proporsional.

Sebagian kebjakan pun di keluarkan oleh pemerintah, seperti dengan dinaikannya harga BBM pada awal april nanti. Tapi pemerintah juga memikirkan nasib warga yang kian melangitnya angka kemiskinannya, oleh sebab itu mereka mencetuskan BBM bersubsidi bagi 74 juta warga, tapi masih diperkirakan terdapat warga – warga yang belum terdata dari pendataan subsidi tersebut.

Tidak hanya BBM berrsubsidi yang diupayakan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan, namun dengan kebijakan barunya sepert BLSM atau Bantuan Langsung Sementara. Jika dahulu disebut BLT atau Bantuan Langsung Tunai. Ada perbedaan dari BLT dan BLSM, jika BLT program memberikan bantuan tunai senilai Rp 100 ribu per delapan bulan, tapi jika BLSM itu memberikan bantuan uang senilai Rp 150 ribu per sembilan bulan. Subsidi sedikit memang dapat membantu mengentaskan kemiskinan. Tapi dari subsidi ini pemerintah membentuk mental rakyat yang manja. Perlu pemerintah membuka lapangan kerja baru atau pemerintah dapat menempatkan rakyatnya kepada pekerjaan – pekerjaan yang layak. Angka kriminal tidak lain karena angka pengangguran semakin melonjak.

\Pihak kontra pun bermunculan. Dari pihak Badan Pengusaha Angkutan bernama Lorena merasa kurang setuju dengan keputusan pemerintah menaikan harga BBM. Ketidak setujuannya ternyata timbul karena instansinya tidak diundang rapat kenaikan BBM, padahal tahun – tahun sebelumnya diajak untuk rapat. pihaknya selaku mewakili nasib para angkutan tidak mendapat imbauan subsidi dari pemerintah. Akibatnya angkutan – angkutan akan serentak menaikan harga pada tanggal yang ditentukan yaitu awal April. Menurut lorena, semakin naiknya harga angkutan sekitar 33 – 35% dikhawatirkan para warga sipil akan lebih memilih kendaraan pribadi motor dan mobil dari pada penggunaan angkutan umum.

Perlu Pembenahan

Kejadian seperti ini, dihimbau pemerintah jangan akan mengulanginya lagi. Pemerintah harus lebih tegas dalam menyikapi masalah. Masalah kenaikan BBM adalah bukti dari kecerobohan pemerintah dalam memberikan kebikajakan. Yang seharusnya pada tahun sebelumnya harga BBM memang harus naik untuk mencegah kenaikan harga minyak dunia, tapi mungkin pemerintah ingin memanjakan rakyat dengan nekat menurunkan harga. Saya sepaham dengan pendapat dari anggota DPR dari fraksi PPP, yang menuntut kenaikan BBM agar lebih bijak, jangan ada inflasi keungan yang terjadi. Jika kenaikan harga terlalu tinggi maka inflasi yang terjadi. Hal ini harus benar - benar disikapi dengan tegas dan bijaksana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren