Senin, 16 Juli 2012

Bisnis; Berani atau Tidak



Ini hal yang sangat paradigmatis dan konseptual menurut saya. Dalam berbisnis dibutuhkan suatu ambisiusitas untuk selalu inovatif dan kompetisi dalam bergulat didalamnya. Karena sgala unsur terkait dengan kemanusian yang dipenuhi untuk selalu inigin menguasa-i/kan. Perbeutan akan semakin ketat tatkala seorang pebisnis telah menunjukan pamornya kepada orang lain. isu untuk tidak ingin tersaingi akan melejit. Baik aspek sosial, bahkan politik dipertaruhkan untuk saling terunggulkan, contoh rilnya ialah pebisnis New York yang juga berkesempatan menduduki kursi walikota disana. Ini menandakan sebuah inovatif terbaru harus terus dimunculkan untuk mengembangkan potensi diri dan mengubah peradaban yang terpenting.

Isu-isu terkait revolusi bisnis atau hal-hal yang bersangkut paut dengan ekonomi, perlu adanya perubahan. Dinamika yang berjalan stagnan ini perlulah adanya dinamika yang berjalan secara dinamis. Kita berbicara Indonesia, pemasaran produk-produk dunia yang kian mencekik kantong warga yang ingin selalu berebut pemegang menjadi pemicu adanya disorientasi hubbul waton terhadap negerinya. Contoh ril dari etika yang kurang wajar ini antusiasme warga yang sudah terlalu kepincut dengan produk makanan luar seperti roti. Ini hal yang paling terkecil, “roti”. Negeri kita telah kita ketahui beriklim tropis yang mana tanahnya sangat sukar untuk ditanami gandum. Secara otomatis seperti produk mie instan, biskuit, dan lain-lain sangatlah membutuhkan gandum sebagai bahan utama dari usaha mereka secara langsung mereka akan mengimport bahan makanan dari luar untuk diolah kembali. Hal ini terus dilakukan untuk memenuhi tuntutan konsumen.

Dari contoh kecil diatas, sudah dapat menandakan nilai dedikasi diri pada kecintaan pada tanah air sendiri dipertaruhkan untuk menjunjung nama usaha. Dan terkadang juga, ada pemberitaan bahwa ekonomi juga dimaksudkan sebagai alat politik. Mungkin juga dengan melejitnya bahan gandum yang diimport dari luar ke Indonesia, juga sebagai misi politik yang feodal dari basis perekonomian. Hal ini sangatlah mengkhawatirkan, maka saya mengatakan berrbisnis harus berani. Segala aspek disini (bisnis) diperjuangkan, terutama aspek dedikasi terhadap etnik, negara dan kemanusiaan. Hari ini dipublikasikan oleh Jawa Pos bahwa menteri BUMN Dahlan Iskandar telah mencoba mencari terobosan baru guna meminimalisirkan atau menstabilkan angka import dan eksport terkait dengan gandum. Dijelaskan bahwa baru-baru ini lembaga BUMN akan mencoba menanamkan Sorgum, sebuah tanaman yang sejenis seperti tepung, tapi Sorgum tidak bisa mengembang seperti halnya pada tepung-tepung lainnya, harus ada sedikit campuran gandum agar Sorgum dapat mengembang atau layak sebagai bahan produksi roti, kue, dan lain-lain.

Jelaslah, dalam berbisnis diperlukan suatu keberanian. Saya ulangi sekali lagi, karena segala aspek dalam berbisnis itu dipertaruhkan. Maka hanya ada dua pilihan dalam berbisnis yaitu LABA atau RUGI. Hal yang sangatlah lumrah dan sering kita dengar, tetapi apa yang kita dengar dari laba dan rugi itu kita proyeksikan dan transformasikan dalam lapangan kehidupan kita sehari, bukan hanya kita menjadikan sebagai kerangka konseptual yang teramat usang dalam fikiran kita. Hanya ada dua kata untuk bertindak BERANI atau TIDAK!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren