
Mula-mula artikel ini, saya menjelaskan latar belakang dari penyusunannya. Saya berawal pada inspirasi yang dapatkan setelah menyaksikan film berjudul 1911 Revolusi yang dibintangi oleh mega aktor Jackie Chan yang mungkin kini telah berusia 56. Cukup usia yang fantastis sebagai seorang Jackie. Dalam film yang dibintangi Jackie, ia memerankan seorang revolusioner bernama Huan Xing. Diceritakan pada masa-masa pemerintahan Cina yang masih berbentuk pemerintahan monarki yang diduduki oleh Dinasty Qing. Cukup ironis sekali bila mana sebuah gencatan revolusi yang dilayangkan pada Dinasty Qing secara bertubi-tubi. Pemerintahan Dinasty Qing selama 100 tahun itu sama sekali tidak menimbulkan efek baik bagi rakyat Cina pada saat itu. Pemerintahan yang lama kelamaan semakin korup dan nepotis, membuat rakyat gerang dengan ulah pemerintah. Barulah pada saat itu munculah letupan gerakan revolusi Cina pada tahun 1911. Dalam serangkaian kisah revolusi itu tidak terlepas dari orang-orang pemiliki modal dan usaha. Semua saling berintegrasi dalam suatu manifestasi revolusis untuk menuju perubahan.
Disini saya bukan bermaksud menguraikan secara lugas dan detail terkait dengan apa yang terisi dalam kapitalis, akan tetapi hanya sebatas manifesto tujuan dari kapitalis yang diarahkan ke jalan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula.
Gambaran inspirasi saya diatas yang telah saya paparkan, akan tujuan kapitalis yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula. Karena pada dasarnya kapitalis yang sering kita dengar dengan pengertian orang yang memiliki modal. Tetapi pengertian kapitalis yang sangat sempit dan bukti ril pada lapangan yang membuat wacana publik saat mendengar kata kapitalis selalu berbuntut negatif. Perlu ada gagasan terbaru dalam mengusulkan pengertian kapitalis yang dapat mengakomodir seluruh kepentingan kemanusiaan bukan semata sebagai kepuasan yang hanya dimiliki oleh diri sendiri. Bila memang demikian yang terjadi pada kapitalis saat ini, maka tidak terlalu mengejutkan bahwa masih banyak anak-anak yang terlantar, tidak banyak dari mereka yang dapat mencicipi pendidikan, pengangguran ada dimana-mana, hal ini tidaklah jauh beda apa yang terjadi dengan Indonesia pada beberapa tahun silam. Saat pergulatan politik terbungkus secara otoriter dan esoterik, rakyat hanya diberikan wewenang tanpa jarang mendapatkan hak mereka sebagai warga negara.
Hal serupa bila mana kapitalis di sini hanya sebagai pemuas individu, yang akan dialami oleh agama. Contoh saja Islam, dalam Islam terdapat sebuah anjuran untuk memberikan sedekah, infaq, zakat, bahkan wakaf kepada orang yang berhak dan pantas menerimanya, sebagai penyambung kehidupan orang tersebut. Semangat egalitarian yang diusung oleh Islam dapat membuahkan hasil yang dapat menciptakan masyarakat yang madani. Dimana dalam masyarakat tersebut jarang sekali diteukan sebuah tindak kekeran, kemiskinan, dan lain sebagainya. Semua dapat berjalan lancar. Andaikata sebuah ungkapan kapitalis yang telah meluas ini dapat dirubah dengan pengaplikasian yang berbeda. Contoh saja, bagi setiap orang yang memiliki modal atau dana lebih agar dapat menyumbangkan kepada orang-orang yang tertimpa bencana. Dari contoh kecil itu saja namun dapat terlaksana secara instrumental maka doktrinatas kapitalis yang selalu memilki backgraound buruk dapat terminimalisir.
Jadi disnini dalam ungkapan kapitalis disini, ialah orang yang memilki modal yang wajib hukumnya untuk menyumbangkan separoh atau seperempat dari hartanya untuk disumbangkan. Tetapi untuk mengusung semangat egalitarian dalam kapitalis ada beberapa tahapan yang menurut saya perlu untuk dilakukan terlebih dulu agar dapat tercapai. 1) Haruslah ada sebuah UU atau aturan yang menekankan pembatasan kekeyaan. 2) Diadakan sebuah lembaga kontrol dalam perekonomian yang lebih bersifat humaniora, dan tidak pragmatis. 3) Menekankan kepada setiap oknum yang bersangkutan agar dapat menerapkan sistem bagi hasil yang terlepas dari hal nepotisme dan korupsi. 4) Pemerintah haruslah dapat mendukung dalam semangat ini sebagai pendobrak kepada kaum kapitalis agar dapat juga mendukung. Kesemua tahapan ini adalah proses dan sebuah rencana kedepan yang belum tentu dapat terjadi atau terlaksana sepertia apa yang tertera. Namun paling tidak dari keempat itu yang intinya kita dapat menerapkan prinsip Bhineka Tunggal Ika, dalam segala aspek di kehidupan kita.
Dari prinsip Bhineka Tunggal Ika tersebut ada beberapa macam tujuan yang harus dicapai dalam penerapannya di sistem kapitalis.
Kapitalis sebagai Pemberdayaan Masyarakat
Maksud dari kapitalis sebagai pemberdayaan masyarakat ialah, seperti yang saya terangkan pada paragraf sebelumnya bahwa kapitaslis atau orang pemilik modal diwajibkan untuk menyumbangsihkan hartanya kepada orang yang berhak dan pantas menerimanya. Di sini orang kapitalis mebagi-bagikan hartanya bukan semata-mata hanya sekedar melaksanakan kewajibannya, akan tetapi juga memberikan sosialisasi dan juga interaksi kepada orang-orang yang disumbangsihkannya. Maka tidak hanya sistem membagi harta yang akan terjadi, tetapi juga membuka lowongan pekerjaan bagi mareka yang tidak memilki perkerjaan atau pekerjaan tetap. Pada tanggal 4 Juli kemarin, para elit pemerintah yang duduk di kursi MPR memploklamirkan empat pilar bangsa (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945) kepada HIMPAUD dan INTI. Tetapi yang paling mengesankan adalah responsif dari organisasi INTI atau organisasi orang-orang etnis Tionghoa. Mereka dengan sepakat akan menyumbangsihkan 10% dari hartanya, setelah dibekali dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan. Hal ini menurut saya juga adalah upaya peminimalisiran kemiskinan, dan upaya memberdayakan para kaum kapitalis.
Tidak hanya di Indonesia, paling tidak kita dapat mempraktikan hal serupa yang dimulai pada diri kita sendiri untuk membuktikan dan merubah (revolusi) makna kapitalis yang selalu disejajarkan dengan hal negatif dapat berubah.
hohohohho uuuuuueeeeeeeellleeeeekkk tenan ah :(
BalasHapus