Sabtu, 30 Maret 2013

Kemorosotan Pergerakan (Kabar Kontemporer)



           
Organisasi pergerakan dengan atas nama ORMAS (Organisasi Masyarakat), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Telah mencapai puncak kedegradasiannya dalam berkiprah mewarnai pergolakan di Indonesia. degradasi itu dapat ditinjau dari beberapa hal. Sistem kaderisasi yang absurd, administrasi yang carut-marut, dan hilangnya peran kesosialannya (akibat konspirasi kekuasaan).
            Sebenarnya persoalan ini jarang sekali yang mau dan berani mengungkapkan. Mungkin karena terbelit kepentingan, atau telah menekan kontrak diplomasi politik atau ideologis fanatik. Tapi, atas nama kebenaran akan diungkapkan secara perlahan sesuai dengan kemampuan penulis. Semoga isinya dapat mewakili dengan keadaan yang ada.

            Sistem Kaderisasi Yang Absurd
            Dimana-mana, di sekolah, pesantren, angkatan militer, kepolisian, kemahasiswaan dan kedokteran. Pasti di sana terdapat sebuah istilah kaderisasi, yaitu sesuatu yang berwujud pembelajaran bermodel advokatif kepada objek, untuk menciptakan suatu orientasi yang sama.

Walau terkadang di setiap instansi memiliki istilah kederisasi yang berbeda. Ada yang menyebutnya pendidikan, penggemblengan, dan penataran. Tapi, pada dasarnya mengerucut pada pengertian pengkaderan atau kaderisasi.

Di dalam PMII dikenal dengan istilah NDP (Nilai Dasar Pergerakan) yang disebut-sebut sebagai ideologi. Kemudian ada lagi, yang disebut ASWAJA sebagai motodologis teoritis aplikatif dalam memecahkan suatu permasalahan.

Berikut isi dari NDP. Tauhid, hunbungan dengan tuhan, hubungan dengan manusia, hubungan kepada alam. Pertanyaannya, mau dipergunakan untuk apa asas NDP itu dalam pergerakan. Umumnya, yang sering terjadi bahwa NDP hanya dikenal sebagai ruh pergerakan. Tanpa mau tahu secara mendalam, terkait bagaimana proses aplikasi NDP dalam keseharian, dan tujuan NDP bagi pergerakan dan umumnya bagi kader pergerakan.

Hal ini yang saya katakan absurd, tidak masuk akal. Pengakaderan yang selalu berbasis ontologis. Yaitu hanya menyentuh pada tataran pengenalan, bukan pemahaman menjadikan NDP hanya sekedar baju, yang tidak tahu kegunaannya. Di sini, tranformasi NDP yang tidak masif, menjadikan kader-kader pergerakan melaksanakan tugasnya dalam pergerakan sesuai posisinya masing-masing, tanpa menyadari secara tuntas isi ideologinya atau isi NDP-nya.

Oleh karena itu, sering terjadi persoalan yang kadang-kadang  dianggap kader-kader sebagai hal biasa. Seperti contoh kecil, di IAIN atau UIN yang memiliki status quota peminat pergerakan yang membludak. Sering kali disebut prestasi atau kebanggaan yang luar biasa. Tapi kadang disebut kerugian, karena tidak mampu mengakomodir semua kader dalam satu ideologis kokoh, bahwa kader yang sebegitu banyaknya akan dididik bagaimana, untuk memperoleh penguasaan bidang intelektual, dan kesosialan, yang merata. Bukan berdasar kedekatan khusus (agama, teman, dan ras) yang mendapatkan perlakuan khusus, untuk dikader menjadi kader militan. Seringkali kali kader-kader yang umumnya lebih senior mengacuhkan kader yang kurang dan tidak berkualitas untuk digembleng. Maka banyak sekali kader-kader pergerakan yang pada awalnya mencapai nominal 200-an atau 500-an merosot tajam, hingga pada angka-angka yang paling konservatif, mungkin tersisa 5 atau 10 saja. Ini keadaan kritis, tapi dianggap biasa.

Ini lah kelamahan pergerakan yang seharusnya dapat segera ditutupi lubangnya. Agar efek yang ditimbulkan tidak terlalu membengkak.

Ada lagi contoh kasus yang ingin saya paparkan.  Umumnya kader-kader pergerakan dididik untuk menjadi kader fanatik. Bedakan antara kader ideal dan kader fanatik. Kader yang ideal, adalah kader yang mengacu pada asas-asas pergerakan secara kokoh. Jika kader fanatik adalah kader sama mengacu dengan asas-asas pergerakan tapi kurang kokoh. Disinilah, mungkin terletak fungsi ASWAJA (Tasammuh, Ta’adul, Tawazun, dan Tawasuth). Dimana tidak ada lagi keberpihakan apapun. Selagi benar kita bela, dan melanggar kita tindak.

Banyak sekali kasus perkelahian, antara pergerakan dengan ORMAS lain, seperti KAMMI atau HMI. Kasus-kasus itu sering kali disebebkan karena perbedaan ideologi. Menurut saya pribadi, persaingan dengan antar ORMAS hanya pada tataran rekrutmen,bukan karena tidak adanya titik temu ideologi. Hal ini menjadi keadaan yang sangat menghawatirkan, yang secepatnya dibereskan.

Administrasi Yang Carut-marut
Banyak kader pergerakan yang terlalu terekstasi dengan dunia pergerakannya, sehingga dalam persoalan administrasi dikesampingkan. Ini sudah menjadi fenomena, akhirnya banyak kalangan akademisi menganggap pergerakan sebagai organisasi yang terdidik dalam faham premanisme.  

Istilah pokoke budal, sudah menjadi term umum dalam pergerakan. Ini yang menjadikan pergerakan sering kecolongan.

Dalam administrasi ini saya mengartikan sebagai sistem dan prosedur yang seharusnya berjalan.
contoh kasus, seperti dalam kepanitaan acara. Dalam organisasi pergerakan yang diatas sempat dipaparkan ke-absurd-annya dalam pengkaderan, berefek pada lingkaran administrasi. Seperti kasus, ada seorang ketua panitia, dan ia memiliki beberapa anggota pelaksana yang telah terbagi tugas-tugasnya, karena sejak dahulu dalam pengkaderan kurang tuntas dan masif, mengakibatkan anggota dari pelaksanaan acara tersebut memilih diam, dan menunggu arahan dan perintah. Bukan bergerak secara mandiri dan militan. Akibat terparah, ketua panitia yang posisinya sebagai pengarah dan instruktur acara, merangkap peran ganda, bahkan lebih.

Demikian pula dalam pengelolahan keuangan, saya rasa PMII sangat jauh dari angan-angan untuk tertib. Budaya-budaya keuangan yang tidak transparantif, seringkali dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Mungkin, ini yang menjadi penyebab mengapa bangsa ini masih sangat sulit untuk bersih dari korupsi. Dengan terang, saya katakan fenomena seperti ini sangat bobrok!. Dibanding angka-angka uang yang telah ditelan untuk kepentingan pribadi, ada hal yang paling urgen yaitu kepercayaan. Maka sudah jarang orang-orang yang mau mempercayai kalau pada kenyataannya seperti demikian.

Hilangnya Peran Kesosialan
Moral seseorang adalah cerminan dari kesehariannya. Kalau kesehariannya baik, maka bisa dipastikan moralnya baik. Kalau kesehariannya buruk, maka moralnya pasti buruk (melihat kondisi).

Begitupun dengan keadaan pergerakan atau PMII hari ini. Jika PMII sukses mentransformasikan nilai-nilai dasarnya dalam keseharian, maka dapat dipastikan PMII bermoral mulia. Tapi, oleh pembaca sendiri dapat mengukur elektabilitas moral pergerakan setelah membaca di keterangan sebelumnya, apakah PMII baik atau buruk ?, atau mungkin pembaca sudah mempunyai wawasan menganai pergerakan saat ini, akan lebih bijak mencerna keterangan-keterangan yang telah diterangkan.

Bahwa apakah benar pergerakaan pada hari ini, bermoral baik atau buruk ?. Mungkin ukuran saya yang terlalu subjektif yang meninjau dari satu arena. Bukan kebulatan dari berbagai arena, artinya objektif. Mengapa saya paparkan demikian, karena pergerakan di setiap wilayah instansi memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dimana, model pengkaderan satu kampus dengan kampus lainnya berbeda. Tapi pembaca jangan khawatir, hipotesa yang saya ambil dari satu sempel kampus yang dinomor satukan pergerakan. Jadi maksudnya hampir dapat mewakili model-model pengkaderan lainnya.

Kata Soe Hok Gie, “Politik adalah lubang hitam dan lumpur-lumpur yang menjijikan. Tapi, jika keadaan tengah memaksa perubahan, maka harus terjun”, kira-kira demikian. Demikian pula dengan PMII semestinya, peluang-peluang dalam politik, terlebih khusus politik kampus dapat dimanfaatkan untuk menciptakan peranan sosial. Ini yang saya tekankan pada persoalan moral dan peran sosial yang diambil dari kasus politik.

Berbalik dengan pemahaman idealisme kita. Kekuasaan politik malah menjadikan pergerakan sebagai rezim penguasa, atau yang telah dipaparkan di atas sebagai wadah berfaham premanisme.

Hal ini tidak terlepas dari moral keseharian yang diterapkan dalam pergerakan. Hampir dapat dipastikan keidealismean seorang kader yang tengah menduduki posisi strategis dalam birokrasi kampus atau selepas ia manjadi alumni, artinya ia menjadi pejabat, kebanyakan luntur dengan usaha-usaha kepentingan pihak lain. Yang konon katanya mempunyai banyak keuntungan.

Maka, perlunya disini seorang mentoring, yang tugasnya selayaknya MPR dalam bidang kepemerintahan sebagai pengawas berjalannya kepemerintahann,  kalau di pergerakan sebagai badan penasehat dan pengawasan pengkaderan. Memang saat ini sudah ada, yang disebut alumni. Lebih objektifnya dalam istilah pergerakan disebut IKA-PMII (Ikatan Alumni PMII). Tapi kelembagaan ini masih bersifat paguyuban, belum menjadi badan organisasi yang terorganisir dan orientatif yang sepantasnya menjadi satu badan dengan PMII. Tapi masih ada kelembagaan lain. karena jenjang dalam PMII bertingkat, maka nasehat dan pengawasan dipegang oleh tingkat di atasnya, seperti pengurus cabang mengurus pengurus komisariat, tapi sistem ini belum maksimal.

Di samping, persoalan politik yang sudah menekan keidealisan kader hingga pada tataran kritis. Kemudian, ditambah menurunnya minat untuk menyumbangkan jasa (material-non material) kepada masyarakat. Ukuran penyebabnya belum jelas, bisa karena kekurangan dana, atau tidak adanya kader yang berminat ke arah situ. Padahal dalam nilai dasar, tercantum jelas Hubungan Sesama Manusia. Lalu, masih saja banyak ditemukan kader-kader yang kurang berminat ke arah sana. Inilah dampak dari sistem pengkaderan yang absurd, dan administrasi yang carut marut.  

Sebagai penutup, saya selaku penulis berpesan. Memohon kepada yang tengah menjadi kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, untuk ingat siapa jati diri kalian?. Dan saya memohon doa agar kekritisan ini dapat sesegera mungkin diatasi dan kita tetap idealis, terjaga dari konspirasi-konpirasi manifesto kekuasaan. amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren