Senin, 13 Mei 2013

Bangkitkan Semangat Budayawan




Negara-negara yang sering menjadi buah bibir dalam setiap topik utama dalam pembicaraan, sering kali yang disebut negara-negara yang memiliki ikon kebudayaan dan pariwisata yang mampu menyedot perhatian khalayak ramai. Bukan hal yang mengherankan lagi, justru negara yang demikian lebih dibilang dapat mengundang simpatisan orang-orang dari negara pendatang untuk, belajar, meneliti, dan menikmati segala yang terhampar pada lingkungkan tersebut.

            Dapat kita ambil contoh seperti negara Prancis, Italia, Cina, Mesir, dan India. Negara-negara tersebut mempunyai ikon kebudayaan yang terkenal ke seluruh pelosok dunia. Mengundang daya tarik dan rasa keinginan tahuan dari kebanyakan orang untuk mengetahui seluk beluk di dalamnya yang mengapa mampu begitu menarik, berkarakter, dan bahkan misterius.

            Prancis terkenal dengan ikonnya, menara Eiffel. Cina dengan tembok Besar Cina yang menyimpan nilai kesejarahan, kebudayaan, dan kebudayaan yang begitu tinggi. Mesir memiliki corak kemisteriusan artefak pra-sejarah dengan Piramidnya, spiral, hingga Mumi yang sangat mengandung kemisteriusan atas sejarah dibalik yang melatar belakangi fenomena demikian. 

            Akhirnya, tak khayal banyak para tokoh arkeolog, pemikir, sejarawan, dan budayawan. Berbondong-bondong untuk meneliti dan mencari tahu sampai ke-akar-akarnya akan misteri dibalik semua kebudayaan dan artefak-artefak yang ditinggalkan. 

             Namun, belakangan ini. Justru para arkeolog, sejarawan, dan budayawan yang sangat berambisius mencari akar pengetahuan dari suatu budaya, kebanyakan datang dari bangsa asing. Dan figur-figur yang memiliki budaya tersebut justru dijadikan objek dari kegiatan penelitian tersebut. 

            Masak karena tidak penting ?

            Bisa jadi karena tidak penting, karena sebagai aktor sejarah kebanyakan menunggu datangnya bola atau menunggu datangnya cerita yang selalu terwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Aktor budaya atau sejarah juga memainkan peran penting dalam perputaran sejarah dan budaya, sehingga seringkali jarang mencatat suatu peristiwa. Tapi hal ini mungkin tidak dibenarkan karena faktanya, banyak di Indonesia tersebar prasasti-prasasti yang mencatat suatu peristiwa dengan simbol-simbol. Baik berupa gambar, atau tulisan kuno. 

            Seperti History of Java, karangan Arnold. Seorang jenderal Belanda, pada waktu era kolonial. Isi karangan tersebut berisi mengenai sejarah perkembangan Jawa. Atau sejarah tokoh, seperti Hary Pooze. Seorang Belanda yang meneliti figur kesatria Tan Malaka dan Greg Barton yang meneliti figur kontroversial K.H Abdurrahman Wahid. Tidak hanya di Indonesia, kebanyakan di belahan negara budaya lain ditemukan fenomena demikian.

            Perkembangan ilmu pengetahuan menjadi penyebab awal. Mengapa orang-orang dari ke-barat-an yang lebih mengawali gerakan dalam penggalian kesejarahan. Berawal dari negara Inggris dan Amerika ilmu pengetahuan yang disebut sebagai Antropologi berkembang. De Saussure, sampai pada Jurgen Habermas dengan knowledge and human interest , tokoh-tokoh yang mengembangkan Antropologi ini berkembang sangat pesat.

            Dan Menjadi Penting

            Karena: 1. Ada kesalahan dalam penulisan kesejarahan, seperti penentuan tahun, dan 2. Adanya kompetisi. Apakah akan membiarkan saja, jika sejarah dan budayanya dieksploitasi, disabotase, dimanipulasi, atau bahkan jika “dipalsukan” oleh orang asing?. Adalah pertanyaan basa-basi dalam proyeksi kita terhadap urgensitas nilai kesejarahan dan kebudayaan sendiri. Ini harusnya segera kita selamatkan. Jangan dibiarkan mengambang, fifti-fifti, dan abu-abu. 

            Demi, bangsa, anak cucu, dan generasi kita. Agar tidak disalah artikan. Dari wacana demikian, saya pribadi merekomendasikan kepada siapapun. Bangkitkan semangat budayawan di negeri kita tercinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren