Negara-negara yang
sering menjadi buah bibir dalam setiap topik utama dalam pembicaraan, sering
kali yang disebut negara-negara yang memiliki ikon kebudayaan dan pariwisata
yang mampu menyedot perhatian khalayak ramai. Bukan hal yang mengherankan lagi,
justru negara yang demikian lebih dibilang dapat mengundang simpatisan orang-orang
dari negara pendatang untuk, belajar, meneliti, dan menikmati segala yang
terhampar pada lingkungkan tersebut.
Dapat
kita ambil contoh seperti negara Prancis, Italia, Cina, Mesir, dan India. Negara-negara
tersebut mempunyai ikon kebudayaan yang terkenal ke seluruh pelosok dunia. Mengundang
daya tarik dan rasa keinginan tahuan dari kebanyakan orang untuk mengetahui seluk
beluk di dalamnya yang mengapa mampu begitu menarik, berkarakter, dan bahkan
misterius.
Prancis
terkenal dengan ikonnya, menara Eiffel. Cina dengan tembok Besar Cina yang menyimpan
nilai kesejarahan, kebudayaan, dan kebudayaan yang begitu tinggi. Mesir
memiliki corak kemisteriusan artefak pra-sejarah dengan Piramidnya, spiral,
hingga Mumi yang sangat mengandung kemisteriusan atas sejarah dibalik yang
melatar belakangi fenomena demikian.
Akhirnya,
tak khayal banyak para tokoh arkeolog, pemikir, sejarawan, dan budayawan. Berbondong-bondong
untuk meneliti dan mencari tahu sampai ke-akar-akarnya akan misteri dibalik
semua kebudayaan dan artefak-artefak yang ditinggalkan.
Namun, belakangan ini. Justru para arkeolog,
sejarawan, dan budayawan yang sangat berambisius mencari akar pengetahuan dari
suatu budaya, kebanyakan datang dari bangsa asing. Dan figur-figur yang
memiliki budaya tersebut justru dijadikan objek dari kegiatan penelitian
tersebut.
Masak
karena tidak penting ?
Bisa
jadi karena tidak penting, karena sebagai aktor sejarah kebanyakan menunggu
datangnya bola atau menunggu datangnya cerita yang selalu terwariskan dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Aktor budaya atau sejarah juga memainkan peran
penting dalam perputaran sejarah dan budaya, sehingga seringkali jarang
mencatat suatu peristiwa. Tapi hal ini mungkin tidak dibenarkan karena faktanya,
banyak di Indonesia tersebar prasasti-prasasti yang mencatat suatu peristiwa
dengan simbol-simbol. Baik berupa gambar, atau tulisan kuno.
Seperti
History of Java, karangan Arnold. Seorang jenderal Belanda, pada waktu
era kolonial. Isi karangan tersebut berisi mengenai sejarah perkembangan Jawa. Atau
sejarah tokoh, seperti Hary Pooze. Seorang Belanda yang meneliti figur kesatria
Tan Malaka dan Greg Barton yang meneliti figur kontroversial K.H Abdurrahman
Wahid. Tidak hanya di Indonesia, kebanyakan di belahan negara budaya lain
ditemukan fenomena demikian.
Perkembangan
ilmu pengetahuan menjadi penyebab awal. Mengapa orang-orang dari ke-barat-an
yang lebih mengawali gerakan dalam penggalian kesejarahan. Berawal dari negara
Inggris dan Amerika ilmu pengetahuan yang disebut sebagai Antropologi
berkembang. De Saussure, sampai pada Jurgen Habermas dengan knowledge and
human interest , tokoh-tokoh yang mengembangkan Antropologi ini berkembang
sangat pesat.
Dan
Menjadi Penting
Karena:
1. Ada kesalahan dalam penulisan kesejarahan, seperti penentuan tahun, dan 2. Adanya
kompetisi. Apakah akan membiarkan saja, jika sejarah dan budayanya
dieksploitasi, disabotase, dimanipulasi, atau bahkan jika “dipalsukan” oleh
orang asing?. Adalah pertanyaan basa-basi dalam proyeksi kita terhadap
urgensitas nilai kesejarahan dan kebudayaan sendiri. Ini harusnya segera kita
selamatkan. Jangan dibiarkan mengambang, fifti-fifti, dan abu-abu.
Demi,
bangsa, anak cucu, dan generasi kita. Agar tidak disalah artikan. Dari wacana
demikian, saya pribadi merekomendasikan kepada siapapun. Bangkitkan semangat
budayawan di negeri kita tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren