Di kereta Kertajaya, pada saat perjalanan ke Jakarta. Saya menyaksikan dengan urat dan mata telanjang saya sendiri. Manusia-manusia bawahan yang beridiskusi, terkait pandangan mereka akan kontestasi politik Indonesia baru-baru ini.
Sebagaian besar dari mereka kecewa. Kecewa akan tingkah pejabat yang kian lama, kian tak patut tauladani. Dari berbagai proses politik, dari PEMILU, kebijakan, dan hukum. Mereka banyak kecewa. Lantaran hukum yang seperti pisau. Tumpul diatas, tapi tajam ke bawah. PEMILU yang dirancang semakin canggih, canggih penipuannya. Janji palsu. Dan kebijakan yang tak pernah bijak, kontestasi kenaikan harga BBM dengan konsekuensi akan ada dana kompensasi. Sayangnya, politik di Indonesia bukan politik langsung, sama halnya yang ada di Yunani. Sedikit ada intervensi politis maka resistensi masyarakat akan kentara adanya. Politik di Indonesia, politik air kran. Air yang dipancurkan di waktu awal tak sama persis ukuran dan takarannya ketika sudah diterima. Maka banyak kesangsian setiap apapun yang dijanjikan, diputuskan, dirumuskan, disusun, dan dirapatkan oleh pemerintah. Masyarakat sudah bisa menilai, masyarakat sudah cukup cerdas untuk sekarang ini.
Setetes tinta hitam yang dicelupkan ke air di bak ember, yang menghitamkan seisi air di bak tersebut. kira-kira seperti itu, gambaran tingkah laku pejabat dan para tokoh penting yang sewenang-wenang dalam bertindak, sehingga hasil pemerkosaan mereka meng-hitam-kan, memperburuk citra berdaulat, berkonstitusi, beretika dalam berbangsa dan bernegara.
Rakyat sudah semakin cerdas. Kesadaran akan kesewenang-wenangan birokrasi sudah semakin terlihat gamblang. Dan itulah yang akan tersadari oleh segala elemen masyarakat dari sabang sampai merauke.
Ada pesan penting yang harus kalian camkan baik-baik para orang-orang yang mengatakan "wakil rakyat". Jadilah orang pintar yang tidak menipu bangsanya sendiri !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren