Ada
hal-hal yang berbeda tatkala kita memaknai sebuah perjuangan. Ada yang
mengartikan sekedar berjuang untuk diriya sendiri, keluarganya, keturunannya,
kampungnya, negaranya, atau umat manusia. Semua itu tergantung pada prespektif
kita masing-masing. Dan prespektif itu terkonstruksi akibat regulasi kehidupan
kita dari berbagai metamorfosis.
Tatkala
manusia dalam tingkah pekerjaannya, ada yang menganggap sebagai usaha
mempertahankan hidup. Ada yang menganggap untuk kemaslahatan. Ada yang
menganggap sebagai pertahanan hidup dan kemaslahatan.
Masih
sempitkah kacamata analisis kita saat segala persoalan tidak langsung mengenai
kita dan masalah yang secara langsung menimpa kita untuk meudian mengakomodir
segala peroalan itu menjadi satu kompleksitas arah tindakan. Tindakan yang
dapat mempengaruhi laju kemajuan, kemajuan kebijakan, kemajuan teknologi,
kemajuan pemikiran, dan kemajuan intistusi.
Apakah
hanya akan menjadi sebuah mimpi, kalau ternyata semua itu menjadi pendaman yang
semu. Tanpa orientasi, tanpa aktualisasi, dan tanpa evaluasi. Berkehendak bukan
berarti menuntut agar cepat terjadi, tapi berkehendak adalah salah satu wujud
tugas wajib seorang khalifah al-ardh . dari serangkaian kehendak itu
adalah segala macam keinginan yang beragam, dan kemudian bersatu padu. Untuk manjadi
satu padu dalam kehendak itu tadi, perlu ijtihad yang berkeringat, untuk
memecahkan teka-teki orientatif manusia yang terbelenggu modernitas.
Jauh
dari realita hari ini gagasan Durkheim, suara hati kolektif. Tergantikan
oleh digit-digit angka, konsep, teknologi, dan individualitas yang sudah tidak
mampu lagi dibelenggu menjadi laku objektif yang “bersama” (kooperatif). Maka
teka-teki orientatif manusia modern, masih suram dicari akar gagasannya.
Ada
kemungkinan kalau ternyata realita itu yang mengubah subjek, dan tidak
dimungkinkan juga kalau ternyata subjek-subjek yang mengubah realita. Dunia ini
memang saya percaya terkonstruksi yang kata Hegel oleh roh absolute. Tetapi
ada yang lebih dari sekedar roh itu sendiri, yaitu pola-fikir manusia yang
senantiasa dinamis. Dan itu, saya terkadang beranggapan bahwa dunia ini
terbentuk oleh para pemikir-pemikir.
Kanjeng
Nabi Muhammad SAW adalah Nabi paripurna dari 25 Nabi utusan gusti Allah
SWT. Berkat beliau gerakan-gerakan perubahan orientatif manusia menjadi garda
depan untuk diperjuangkan. Dari jahiliyah menuju islamiyah itu
yang sering terdengar. Ungkapan yang sering dianalogikan dari zaman kegelapan
menuju zaman terang benerang adalah satu ungkapan eksplisitas garakan masa
lampau untuk membombardir puing-puing kejahiliyahan. Hal itu juga
menjadi salah satu bukti bagaimana dunia terbentuk dari kontektualisasi
pemikiran dan gagasan manusia. Berangkat dari akal waras manusia, menumbangkan
angkara murka.
Sekali
lagi, apakah hanya sekedar mimpi, kalau ternyata di era sekarang sudah tidak
lagi layak melakukan gerakan revolusi. Tapi revolusi yang bagaimana dulu?. Revolusi
yang ber-anarkis, revolusi yang ber-sosialis, atau revolusi yang
ber-diplomatis. Beragam dan tergantung pada konteks realita. Boleh jadi
sekarang kita ditundukan oleh realita, tapi realita-realita yang menundukan
kita terkadang terbangun dari gagasan-gagasan manusia dari kaum lain, yang tak
kita sadari. Zaman pertengahan atau skolastik menenggelamkan realita filsafat, Renaissance
mampu menundukan ketundukan pada dogmatis, sosialisme Marx mampu menekan
realita borjuis.
Apa artinya ini ada kompetisi?. Kompetisi hanya
ada dua hal, mau berbicara protagonist atau antagonis. Tapi hal itu jangan
menjadi belenggu kita untuk berproses. Setiap perjuangan ada yang disebut kawan
dan adapula lawan. Kedua entitas itu yang senantiasa mewarnai pola kehidupan
dan perjuangan. Kemudian bagaimana kita tahu mereka lawan atau kawan?. Dari sudut
manakah kita tahu? Akal budi kah?. Akal budi semacam apakah yang mampu
memposisikan pemikirannya di atas segala entitas modernitas. Sangat mudah
membedakan laku lawan dan kawan di zaman kejahiliyahan. Tapi masih
bisakah kita berspekulasi mana itu lawan
dan kawan di zaman yang mana segala apapun instistusi dilebur, dilumat, di
ratakan dengan mengatas nama “pluralitas”. Orang kafir berprilaku islam, dan
islam berprilaku kafir. Sudah menjadi konsumsi di era saat ini.
Lalu,
apakah hanya sebatas mimpi?. Jika ternyata masih sangat sulit untuk mencari
akar orientasi manusia saat ini. Dari mana mereka berangkat, dan kemana arah
yang akan mereka tuju. Sedikit dari manusia yang mampu selamat dari jurang
alienasi, dan banyak manusia yang berakhir
dengan terbuang ke liang alienasi.
Masih
adakah…. Re.. vo.. lu.. si..
#Catatan Singa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren