Kamis, 09 Mei 2013

Sebuah Mimpi Revolusi



            Ada hal-hal yang berbeda tatkala kita memaknai sebuah perjuangan. Ada yang mengartikan sekedar berjuang untuk diriya sendiri, keluarganya, keturunannya, kampungnya, negaranya, atau umat manusia. Semua itu tergantung pada prespektif kita masing-masing. Dan prespektif itu terkonstruksi akibat regulasi kehidupan kita dari berbagai metamorfosis.

            Tatkala manusia dalam tingkah pekerjaannya, ada yang menganggap sebagai usaha mempertahankan hidup. Ada yang menganggap untuk kemaslahatan. Ada yang menganggap sebagai pertahanan hidup dan kemaslahatan.

            Masih sempitkah kacamata analisis kita saat segala persoalan tidak langsung mengenai kita dan masalah yang secara langsung menimpa kita untuk meudian mengakomodir segala peroalan itu menjadi satu kompleksitas arah tindakan. Tindakan yang dapat mempengaruhi laju kemajuan, kemajuan kebijakan, kemajuan teknologi, kemajuan pemikiran, dan kemajuan intistusi.

            Apakah hanya akan menjadi sebuah mimpi, kalau ternyata semua itu menjadi pendaman yang semu. Tanpa orientasi, tanpa aktualisasi, dan tanpa evaluasi. Berkehendak bukan berarti menuntut agar cepat terjadi, tapi berkehendak adalah salah satu wujud tugas wajib seorang khalifah al-ardh . dari serangkaian kehendak itu adalah segala macam keinginan yang beragam, dan kemudian bersatu padu. Untuk manjadi satu padu dalam kehendak itu tadi, perlu ijtihad yang berkeringat, untuk memecahkan teka-teki orientatif manusia yang terbelenggu modernitas.

            Jauh dari realita hari ini gagasan Durkheim, suara hati kolektif. Tergantikan oleh digit-digit angka, konsep, teknologi, dan individualitas yang sudah tidak mampu lagi dibelenggu menjadi laku objektif yang “bersama” (kooperatif). Maka teka-teki orientatif manusia modern, masih suram dicari akar gagasannya.

            Ada kemungkinan kalau ternyata realita itu yang mengubah subjek, dan tidak dimungkinkan juga kalau ternyata subjek-subjek yang mengubah realita. Dunia ini memang saya percaya terkonstruksi yang kata Hegel oleh roh absolute. Tetapi ada yang lebih dari sekedar roh  itu sendiri, yaitu pola-fikir manusia yang senantiasa dinamis. Dan itu, saya terkadang beranggapan bahwa dunia ini terbentuk oleh para pemikir-pemikir.

            Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah Nabi paripurna dari 25 Nabi utusan gusti Allah SWT. Berkat beliau gerakan-gerakan perubahan orientatif manusia menjadi garda depan untuk diperjuangkan. Dari jahiliyah menuju islamiyah itu yang sering terdengar. Ungkapan yang sering dianalogikan dari zaman kegelapan menuju zaman terang benerang adalah satu ungkapan eksplisitas garakan masa lampau untuk membombardir puing-puing kejahiliyahan. Hal itu juga menjadi salah satu bukti bagaimana dunia terbentuk dari kontektualisasi pemikiran dan gagasan manusia. Berangkat dari akal waras manusia, menumbangkan angkara murka.

Sekali lagi, apakah hanya sekedar mimpi, kalau ternyata di era sekarang sudah tidak lagi layak melakukan gerakan revolusi. Tapi revolusi yang bagaimana dulu?. Revolusi yang ber-anarkis, revolusi yang ber-sosialis, atau revolusi yang ber-diplomatis. Beragam dan tergantung pada konteks realita. Boleh jadi sekarang kita ditundukan oleh realita, tapi realita-realita yang menundukan kita terkadang terbangun dari gagasan-gagasan manusia dari kaum lain, yang tak kita sadari. Zaman pertengahan atau skolastik menenggelamkan realita filsafat, Renaissance mampu menundukan ketundukan pada dogmatis, sosialisme Marx mampu menekan realita borjuis.

 Apa artinya ini ada kompetisi?. Kompetisi hanya ada dua hal, mau berbicara protagonist atau antagonis. Tapi hal itu jangan menjadi belenggu kita untuk berproses. Setiap perjuangan ada yang disebut kawan dan adapula lawan. Kedua entitas itu yang senantiasa mewarnai pola kehidupan dan perjuangan. Kemudian bagaimana kita tahu mereka lawan atau kawan?. Dari sudut manakah kita tahu? Akal budi kah?. Akal budi semacam apakah yang mampu memposisikan pemikirannya di atas segala entitas modernitas. Sangat mudah membedakan laku lawan dan kawan di zaman kejahiliyahan. Tapi masih bisakah kita berspekulasi  mana itu lawan dan kawan di zaman yang mana segala apapun instistusi dilebur, dilumat, di ratakan dengan mengatas nama “pluralitas”. Orang kafir berprilaku islam, dan islam berprilaku kafir. Sudah menjadi konsumsi di era saat ini.

Lalu, apakah hanya sebatas mimpi?. Jika ternyata masih sangat sulit untuk mencari akar orientasi manusia saat ini. Dari mana mereka berangkat, dan kemana arah yang akan mereka tuju. Sedikit dari manusia yang mampu selamat dari jurang alienasi, dan banyak manusia yang berakhir  dengan terbuang ke liang alienasi.

Masih adakah…. Re.. vo.. lu.. si..

#Catatan Singa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren