Berbeda
dengan masa – masa sebelumnya, pada awal kemerdekaannya. Di Indonesia pada
waktu tengah sibuk-sibuknya memikirkan garis paten haluan dalam bernegara.
Apalagi dengan sisa-sisa siklus revolusi paska kemerdekaan yang tengah marak di
kalangan bawah, utamanya kalangan pemuda. Sangat menguntungkan dalam
perkembangannya. Masyarakat pada saat itu berfikir untuk menolak segala bentuk
imperialis, dan membuang jauh-jauh sisa peninggalan penjajahan untuk tidak terulang
kembali trauma yang berkelanjutan.
Fase
panas ini, membakar masyarakat untuk membentuk basis-basis militer, laskar,
jurnalistik, dan intelektual guna membentengi serangan asing yang selanjutnya.
Karena pada saat itu masayarakat masih merasa terancam, walau kemerdekaan telah
diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 tidak menjadikan sepenuhnya hati
masyarakat lega 100%. Sebab usaha asing untuk merebut kemerdekaan Indonesia
masih berlanjut (lihat: situasi di bawah – Soe Hok gie)[1].
Dengan
propaganda asing yang berniat merebut kembali Indonesia, memancing emosi
masyarakat untuk semakin memperkuat diri. Di sini akan menguntungkan para
birokrasi saat itu, untuk sesegera mungkin menyelesaikan konflik antar negara
yang tak kunjung selesai. Sebab rakyat yang emosional terhadap asing, dan
birokrasi yang juga berpentingan untuk menuntaskan persoalan itu menjadikan
Indonesia pada saat itu benar-benar hidup, menyala.
Dimana
pada saat itu segala basis sosial antusias dalam agenda besar negara
“Revolusi”. Baik dari jajaran pendidikan, keagamaan, ekonomi, dan militer
serentak berpartisipasi untuk mempertahankan kemerdekaan. Dengan gerakan
revolusi masal pada saat itu, saat Ir. Sukarno masih menjabat sebagai presiden
memudahkan negara Indonesia.
Dalam
catatan Tan Malaka, ia berkata pada saat itu “Rebut kemerdekaan yang 100%!”, yang
semakin membakar emosi masyarakat untuk rela berperang kemerdekaan[2].
Karena pada saat itu Belanda yang melakukan kontrak Politik dengan Indonesia
terkait pembagian kekuasaan, yang menurut Tan tidak perlu. Indonesia diberi
bagian kekuasaan politik, dan ekonomi tetap dipegang oleh Belanda. ini yang
dipermasalahkan Tan, hingga ia mengecam “Kenapa kita berunding dengan maling,
kalau kita sudah tahu dia maling?”[3].
Demikianlah
sekelumit gambaran bagaimana panas api yang membakar rakyat dan semangat
birokrasi yang ingin kedaulatan Indonesia tetap utuh tidak ingin dikuasi
sedikitpun oleh pihak asing. Maka upaya untuk menutup segala kemungkinan asing
untuk masuk ke indonesia, ditutup rapat-rapat.
Namun
semangat patriotisme yang diperankan masyarakat dan birokrasi saat itu jauh
berbeda dengan peran politik yang dimainkan masyarakat dan birokrasi saat ini.
Sudah melenceng jauh, dan keluar dari jalur rel yang seharusnya. Untuk mencapai
tujuan yang diharapkan, maka menghalalkan berbagai macam cara. Adanya money
politic sudah memberikan intepretasi kita terhadap politik saat ini yang
lebih “pragmatis”. Akibat dari itu adalah adanya korupsi. Rakyat kita tidak
memahami persoalan dengan utuh. Umumnya hanya dipahami secara partikular, tanpa
memperdulikan basis yang lain. sehingga terkadang sebuah Partai yang besar
sekalipun tapi dalam prosesnya ia lebih terfokus pada tujuan tanpa menoleh
samping kiri-kanannya akan mencederai partai itu sendiri dalam prosesnya.
Rakyat
kita memikirkan politik hanya sebatas politik, tanpa memikirkan basis lainnya
yang dapat mempengaruhi. Seperti basis sosial, ekonomi, agama, dan budaya yang
tidak bisa dilepaskan. Jika tugas politik terus berjalan tanpa memandang
ekonomi yang berkecukupan, situasi sosial, agama, dan budaya, alhasil akan
terjadi suatu clash antara politik dengan ekonomi, politik dengan
sosial, dan politik dengan agama, dan politik dengan budaya.
Perlunya
kita dewasa ini memahami manusia atau yang berkaitan dengannya sebagai suatu “sistem”[4].
Ini perlu sekali, karena kita harus melibatkan akibat yang lainnya di samping
kita memikirkan tujuan. Bahwa masyarakat itu tidak bisa tersusun tanpa pondasi
ekonomi, sosial, dan agama, kesemua itu kebutuhan mereka, maka memahami mereka
juga dengan kesemua itu. Bukan hanya sebatas keterangan agama, atau sosial,
atau ekonomi. Jika pemahaman kita terhadap mansia, maka kita hanya menjadikan
manusia sebagai objek-objek pasif.
Apalagi
dalam persoalan politik saat ini, yang sudah mengacuhkan unsur manusia lainnya.
Bahkan tidak memandang partai itu berbasis agama, bahwa tetap mereka juga
menghalalkan berbagai macam cara untuk mensukseskan partai mereka. Contoh kasus
seperti korupsi. Kasus tersebut bisa terjadi dalam partai karena sebelumnya
tidak difikirkan persoalan kesiapan modal sebagai roda dari kampaye mereka,
atau agenda mereka. Tapi yang lebih terfokuskan pada soal bagaimana rakayat
terpikat dengan partainya, dan bagaimana roda partai tetap berjalan. Sehingga
ketika menyentuh persoalan keuangan mereka tidak lagi memeperdulikan, intinya
bagaimana uang itu ada pada tangan mereka dengan apapun cara untuk
memperolehnya.
Demikianah
yang saya maksud dengan politik pragmatis, beda dengan politik terhadulu yang
melibatkan segala basis kehidupan sehingga tugas politik pun mendapat capaian
yang benar-benar diharapkan dan tidak bertabrakan dengan basis yang lainnya.
[1]
Lihat Soe Hok Gie – pada saat itu situasi masyarakat yang tengah memanas dengan
agresi militer yang dilakukan Belanda. dan kemdian siklus panas dengan mengatas
namakan revolusi. Yang pada akhirnya membakar emosi rakyat, terutama pemuda
untuk melakukan perubahan total, baik tradisi yang mungkin dicurigai sebagai
kelemahan juga ditinggal. Dalam catatan Pram, ia merangkum situasi revolusi di
kalangan masyarakat dengan fiksinya “Keluarga Greliya”.
[2]
Lihat Gerpolek, Tan Malaka membagi dua macam perang. Pertama, perang penjajahan
yang dilakukan pihak Belanda untuk merebut kedaulatan Indnesia baik dari basis
politik dan ekonomi. Kedua, perang kemedekaan sama seperti yang dilakukan oleh
Indonesia untuk menumpas para pendatang yang berniat mengusik dan mengusir
mereka dari tanah air mereka sendiri.
[3]
Tan Malaka pada saat itu kecewa dengan tindakan konpirasi Sukarno dengan pihak
asing yang menekan kontrak Linggar jati maupun Renville. Ia merasa bahwa
Sukarno gagal dalam memegang amanah revolusi saat itu. Maka Tan sampai
melakukan politik koorperasi dengan Sutan Sjahrir dan mengadakan tastamer dengan
Sukarno untuk menyerahkan jabatannya sebagai presiden sewaku-waktu ia terbunuh.
Tapi itu gagal. Tan yang masih kecewa tetap berusaha bagaimana agar Sukarno
tidak lagi menduduki kursi sebagai presiden. Dengan Tan Malaka menggalang
kekuatan masa bersama Jenderal Sudirman dan basis-basis kerakyatan lainnya yang
diberi nama Persatuan Perjuangan yang bertempat di Yogya dan di Solo pada tahun
1947.
[4]
Lihat - Revolusi Pengharapan. Erich Fromm (1900-1980) memberikan pandangannya
terhadap masyarakat tahun 2000 yang tengah terjerumus oleh arus teknologi. Dan
kemudian orientasi fikiran manusia yang bertindak bukan berdasar asas
kemanusiaan tapi asas kepuasan. Sehingga terkadang manusia pada saat itu
melupakan unsur lain yang semestinya difikirkan. Mereka selaku ekonomi bertindak secara ekonomi, bukan
secara ekonomi budaya, atau ekonomi sosial. Demi kepuasan mereka. Erich Fromm
memberikan solusi dalam situasi seperti itu, kita harus memandang manusia
sebagai sistem, yang tidak bisa dipisahkan antara basis satu dengan basis yang
lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren