Rabu, 14 Oktober 2015

GERBANG CINTA




Ibarat pecahan kaca, yang menjadi serpihan-serpihan kecil,
tak terhitung jumlahnya, kau lah penjumlahan serpihan itu yang memadat
serpihan yang lama hilang dari bagianku, memenuhi kerangka
pada ronggaku, sehingga ku tegak berdiri. Dan kerangka hati
sehingga aku tak goyah menerjang derasnya ombak

Kau simpul tali yang mengikat sekujur tubuh,
tali yang bersih, suci, dan halus sehalus sutra tapi tetap kuat
tetap seperti itu, sampai miliyuran tahun ke depan.
tidak rapuh dan kian kokoh

Samudera atlantik yang hangat, itu lah kau
pada dirimu tiada kemustahilan, es kau ubah panas, api kau ubah dingin
genggamlah erat tanganku, jangan biarkan jari lentik itu,
tak memenuhi tiap ruas jemariku, menebalkan keyakinanku

Antar aku ke gerbang, duhai sayang
disana laksana muara pengharapan kita
tempat kita menuju, lurus ke langit, singgah di khayangan
mimpi kita tentang suatu “Perubahan”

Tunggu aku disini, di hatimu,
telah kubangun istana megah di sana. Kau bebas bermain dengan anak Maryam
mandi di kolam renang, menikmati air mancur, pemandangan taman apel
suguhan yang akan membuatmu betah, tenang, sampai aku datang kembali

Hatimu yang bening, seperti kaca, sedikit saja ada noda menggugurkan keindahan
noda ketidakpercayaanmu, kau bisa memastikan, kesetianku,
lewat hati beningmu yang memantul, cahaya cinta yang kukirim

Antar aku ke gerbang…

Kita pernah bersama-sama memimpikan suatu tatanan Negara idaman
masyarakat yang harmoni, saling menjaga hak nya masing-masing
cintamu yang tajam, seperti busur panah, menancap di hati
jangan kau tancapkan dalam-dalam, agar esok, atau lusa, atau dasawarsa
bisa kau cabut, dan kau hunuskan pada sisi jahat penguasa yang lalim
bumihanguskan angkara murka. Merubah, wajah bermuram durja menjadi pelangi

Cinta kita, bukan cinta mati, tapi cinta yang hidup
cinta yang senantiasa bergerak, mengubah kemarau menjadi sejuk
juga bukan cinta yang statis, tidak berdiam diri, cinta yang dinamis
karena senantiasa ada warna yang mempercantik, anggun, ialah konflik

Kekuatan cinta kita bukan menyakiti diri sendiri, seperti
Romeo dan Juliet. Kita tidak perlu menyesap racun, agar menjadi bukti.
cinta kita tidak perlu bukti, keberadaan kita melampaui akal inderawi
Rama dan Shinta itu lah kita. Cinta kita adalah bazooka,
menghancurkan segala kebencian: keserakahan, KKN, totaliter, kriminalitas

Kau dan aku, adalah matahari dan bulan
sebuah kombinasi anggun. Dengan sinarnya, bulan memantulkan cahaya remang
keteguhan matahari dan bulan, tetap melaju di jalur orbitnya, keseimbangan semesta
cinta kita tetap teguh di jalurnya, tak pernah tersandung di tikungan godaan, untuk
tidak terhayut dalam aliran cinta Korea, India, Amerika, Inggris dan sekawannya
kau menulis lirik, aku meneguhkan nadanya.  Mencipta aliran kita sendiri
tidak terombang-ambing dengan cinta yang merubuhkan adat-istiadat ke-timur-an
aku membangun pondasinya, kau yang mengecat dindingnya. Cinta kita memperkuat:
moralitas, dan spirtualitas. Sendi kehidupan; kemanusiaan dan ketuhanan

Kau dan aku adalah keberadaan, cinta kita bukan ilusi, ini adalah kenyataan
kita tidak sedang membayangkan: aku ialah Jaka Tarub, dan kau ialah dewi kayangan
sehingga kuharus mencuri selendangmu, berbohong, agar kau mau menyatu dengan sukmaku
ibarat dalam hikayat, cinta kita sebuah kemustahilan, khayalan belaka. TIDAK.
tapi kubangun cinta ini dengan sendi-sendi kejujuran, keyakinan, dan tanggung jawab
kita tidak sedang di dunia dongeng, hidup bahagia selamanya, TIDAK.
kau dan aku berada di bumi manusia, hidup dengan segala konflik dan persoalan manusia.
dunia bukan milik kita berdua, udara bukan untuk kita saja. Kita berbagi udara dengan rakyat, cinta kita senafas dengan rakyat, cinta kita senyawa dengan rakyat. Cinta kita dekat dengan rakyat, seirama

Cinta kita yang sederhana, hidup bersama rakyat
sesederhana puisi cinta Sapardi Djoko Damono:

AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat
Diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu..
Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat
Disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada

Sayang, bukankah kesederhanaan itu kemewahan yang tiada tara
kemilaunya melampaui berlian, kemegahannya melebihi kastil.
kesederhanaan cinta kita itu,
ketika di pagi hari, menyeduh kopi, dengan asap yang masih mengepul,
di sana ada senyummu yang membuatnya legit dan pahit.

Surabaya, 13 Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren