Selasa, 15 April 2014

Dari Pesantren Menuju Gagasan Multikulturalisme


Menurut Dr. Sartono Kartodijo, bahwa pesantren dengan santri dari beragam daerah, menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang penuh percampuran kebudayaan, sehingga berangkat dari realitas pesantren pemahaman multikulturalisme bisa terbangun. Dengan demikian, pesantren dengan penduduknya yang sangat heterogen menjadi senjata paling ampuh dalam menolak segala bentuk rasisme.

            Kalau membandingkan rasisme yang bergejolak akhir-akhir ini tidak separah dari gejolak sebelumnya. Seperti pertikaian antar ras Sampit dan Madura, yang menewaskan puluhan korban. Tapi rasisme terkahir ini direduksi dalam suatu event, semisal olah raga sepak bola. Kalau kita melihat realita dalam liga dan cup yang diadakan di Indonesia selalu berbuntut ricuh. Kalau tidak ricuh dalam arena stadion, juga ricuh di luar stadion. Mengapa bisa demikian?, ini lah yang ingin saya katakan, bahwa bangsa ini belum bisa memahami multikulturalisme/keberagaman. Sedangkan di pesantren multikulturalisme bukan lagi menjadi sub pembelajaran, tapi sudah melakat menjadi sosial-kultur tersendiri, sehingga dalam  maenstream para santri terbentuk untuk menghargai perbedaan.

            Boleh dikatakan, dari segudang santri dalam pesantren menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang seakan menjadi miniatur sebuah negara. karena di pesantren, santri dari sumatra, sulawesi, Papua, dan Jawa berkumpul menjadi satu dalam satu wadah yang disebut pesantren. Ditambah lagi, dalam sistem penataan pendidikan pesantren tidak ada pembedaan, mana yang anak Kiai, bangsawan, pengusaha, atau kerajaan, semuanya dianggap sama. Dalam prakteknya, mereka menempati kamar tidur yang sama dan sekolah yang sama.

            Tidak ada perbedaan dalam santri, kecuali perbedaan dalam tingkat kepatuhan dan ketekunan dalam belajar. Karena dalam pesantren bukan kecerdasan kognitif atau intelektual yang dijadikan patokan utama, tetapi kecerdasan emosional dan spiritual yang ditekankan, dalam prakteknya pesantren selalu membina santri untuk berakhlaqul karimah. Dalam belajar atau ngaji pun harapan santri bukan agar diberi kecerdasan dan kepintaran, tetapi memohon agar diberi keridhoan guru dan keberkahan dalam belajar.

            Dalam masalah perbedaan, seorang pemikir Islam yang berangkat dari pendidikan pesantren, Gus Dur. Beliau mengatakan “Semakin Berbeda Kita, Semakin Kita Menemukan Titik Persatuan”. Beliau menggagas, bahwa perbedaan bukan dijadikan akar sebuah konflik tapi menjadi solusi. Pemikiran nyentrik dan alternatif dari Gus Dur yang tentunya dipengaruhi dari pesantren menjelaskan kepada kita, bahwa dengan perbedaan bukan menjadi halangan bagi kita untuk bersosialisasi.

            Banyak anggapan, kaum sarungan selalu berfikiran kolot, eksklusif, anti-perubahan. Sekarang anggapan demikian, dibalik 180 derajat oleh Gus Dur dan para tokoh Islam lainnya, bahwa gagasan multikulturalisme berangkat dari sebuah pendidikan sederhana, yang hanya menekankan nilai etika dan spiritual bukan ambisius dalam soal intelektual (kognitif), sebagaimana di sekolah-sekolah pada umumnya yang selalu berambisi menduduki peringkat atas.

            “Padi, semakin dia tinggi, maka akan semakin menunduk ke bawah”, itulah peribahasa dalam pola pendidikan pesantren. Kita maknai pondok pesantren sebagai wujud pendidikan mencetak karakter dalam bingkai akhlaqul karimah.      

             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren