Menurut
Dr. Sartono Kartodijo, bahwa pesantren dengan santri dari beragam daerah,
menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang penuh percampuran
kebudayaan, sehingga berangkat dari realitas pesantren pemahaman
multikulturalisme bisa terbangun. Dengan demikian, pesantren dengan penduduknya
yang sangat heterogen menjadi senjata paling ampuh dalam menolak segala bentuk
rasisme.
Kalau membandingkan rasisme yang
bergejolak akhir-akhir ini tidak separah dari gejolak sebelumnya. Seperti
pertikaian antar ras Sampit dan Madura, yang menewaskan puluhan korban. Tapi
rasisme terkahir ini direduksi dalam suatu event, semisal olah raga sepak bola.
Kalau kita melihat realita dalam liga dan cup yang diadakan di Indonesia selalu
berbuntut ricuh. Kalau tidak ricuh dalam arena stadion, juga ricuh di luar
stadion. Mengapa bisa demikian?, ini lah yang ingin saya katakan, bahwa bangsa
ini belum bisa memahami multikulturalisme/keberagaman. Sedangkan di pesantren
multikulturalisme bukan lagi menjadi sub pembelajaran, tapi sudah melakat
menjadi sosial-kultur tersendiri, sehingga dalam maenstream para santri terbentuk untuk
menghargai perbedaan.
Boleh dikatakan, dari segudang
santri dalam pesantren menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang
seakan menjadi miniatur sebuah negara. karena di pesantren, santri dari
sumatra, sulawesi, Papua, dan Jawa berkumpul menjadi satu dalam satu wadah yang
disebut pesantren. Ditambah lagi, dalam sistem penataan pendidikan pesantren tidak
ada pembedaan, mana yang anak Kiai, bangsawan, pengusaha, atau kerajaan,
semuanya dianggap sama. Dalam prakteknya, mereka menempati kamar tidur yang
sama dan sekolah yang sama.
Tidak ada perbedaan dalam santri,
kecuali perbedaan dalam tingkat kepatuhan dan ketekunan dalam belajar. Karena
dalam pesantren bukan kecerdasan kognitif atau intelektual yang dijadikan
patokan utama, tetapi kecerdasan emosional dan spiritual yang ditekankan, dalam
prakteknya pesantren selalu membina santri untuk berakhlaqul karimah. Dalam
belajar atau ngaji pun harapan santri bukan agar diberi kecerdasan dan
kepintaran, tetapi memohon agar diberi keridhoan guru dan keberkahan dalam
belajar.
Dalam masalah perbedaan, seorang
pemikir Islam yang berangkat dari pendidikan pesantren, Gus Dur. Beliau
mengatakan “Semakin Berbeda Kita, Semakin Kita Menemukan Titik Persatuan”. Beliau
menggagas, bahwa perbedaan bukan dijadikan akar sebuah konflik tapi menjadi
solusi. Pemikiran nyentrik dan alternatif dari Gus Dur yang tentunya dipengaruhi
dari pesantren menjelaskan kepada kita, bahwa dengan perbedaan bukan menjadi
halangan bagi kita untuk bersosialisasi.
Banyak anggapan, kaum sarungan
selalu berfikiran kolot, eksklusif, anti-perubahan. Sekarang anggapan demikian,
dibalik 180 derajat oleh Gus Dur dan para tokoh Islam lainnya, bahwa gagasan
multikulturalisme berangkat dari sebuah pendidikan sederhana, yang hanya
menekankan nilai etika dan spiritual bukan ambisius dalam soal intelektual
(kognitif), sebagaimana di sekolah-sekolah pada umumnya yang selalu berambisi
menduduki peringkat atas.
“Padi, semakin dia tinggi, maka
akan semakin menunduk ke bawah”, itulah peribahasa dalam pola pendidikan
pesantren. Kita maknai pondok pesantren sebagai wujud pendidikan mencetak
karakter dalam bingkai akhlaqul karimah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren