Jumat, 19 Februari 2016

BAHASA SEBAGAI SARANA KOMUNIKASI ORGANISASI (Akan Diajukan Sebagai Materi Diskusi PKM PMII UIN Sunan Ampel Surabaya)


Al-Muvti
Dalam Pengantar Filsafat Ilmu karangan Jujun Suriasumantri, disana ia berkata bahwa bahasa merupakan sarana berfikir ilmiah. Tanpa adanya bahasa maka transformasi pengetahuan tidak akan pernah terjadi. Bahasa sebagai alat komunikasi menjadi sarana utama dimanapun dan kapanpun dipergunakan, terlebih di Organisasi. Di dalam organisasi terdapat permasalahan kompleks, baik permasalahan internal organisasi (kepemimpinan, individu, administrasi, dan program) maupun di eksternal organisasi. Intensitas komunikasi akan membuat jalannya organisasi menjadi baik. Sayangnya, bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi memiliki kekurangan. Hal ini musti diwaspadai.

Sebelum membahas kekurangan bahasa akan lebih baik kita akan membahas mengenai definisi  bahasa itu sendiri. Bahasa merupakan serangkaian bunyi yang disampaikan dari satu orang ke orang lain. Dari proses penyampaian serangkaian bunyi ini antar orang di sana, maka dapat dikatakan sebagai komunikasi verbal. Kemudian dimana masyarakat yang menggunakan bunyi atau suara sebagai alat komunikasi utama dapat digolongkan dalam masyarakat verbal. Walau komunikasi tidak selamanya menggunakan bunyi, maka bahasa juga memiliki alat lain dalam penyampaiannya seperti bahasa isyarat yang biasanya digunakan orang yang difable/bisu atau orang asing berwisata ke luar negeri tapi tak tahu bahasa keseharian disana, tetapi hal itu tidak dapat dikategorikan sebagai komunikasi verbal (Baca: Jujun S. Suriasumantri, Pengantar Filsafat Ilmu).

Selain memiliki arti suara dan bunyi, bahasa juga merupakan lambang. Dari sebuah bahasa itu untuk melambangkan pada sesuatu yang disebut “kata”. Semisal botol untuk menyebut benda yang berbentuk tabung dan ujungnya berlubang kecil. Karena bahasa merupakan lambang yang didapat dari proses pengalaman (ruang dan waktu) dan pemikiran yang berbeda, sehingga di daerah satu dengan daerah yang lain memiliki bahasa yang berbeda. Di Inggris disebut botle dan di Indonesia disebut sebagai botol. Selain berbeda, ada kesamaan antara menyebut botle dalam bahasa Inggris dan botol dari bahasa Indonesia, kata dari dua daerah yang berbeda dapat dikatakan sebagai kata serapan. Seperti komunikasi yang diserap dari kata comunication, dst. Hal ini dampak dari pergaulan internasional yang terintegrasi.

Dengan adanya bahasa, manusia dapat berfikir dalam benak fikiran mereka, karena mampu menandai istilah kata dalam fikiran, sehingga dengan begitu dalam benak fikiran akan terjadi komunikasi antar “manusia dan fikiran”. Dengan berfikir tersebut memungkinkan manusia untuk berhati-hati dalam bertindak dan bertutur, mampu meramalkan sesuatu, dan mampu mengontrol/merubah sesuatu. Hal itu adalah keniscayaan, sebab perbedaan pendidikan manusia dengan hewan terletak pada tujuannya: manusia belajar (berfikir) untuk berbudaya sedangkan hewan untuk mempertahankan jenisnya (Baca: Jujun). Kemudian, menurut Sigmund Freud: kebudayaan membentuk manusia dengan menekan dorongan-dorongan alami mereka, mensublimasikannya menjadi sesuatu yang berbudaya, yang kemudian menjadi dasar pembentukan kebudayaan (Baca: Erich Fromm, Escape from Freedom).
Betapa luar biasa, pengaruh dari bahasa yang berawal sebagai alat komunikasi, sarana berfikir, sarana belajar, dan sampai alat yang membentuk kebudayaan di tengah masyarakat. Maka, peradaban dunia yang maju seperti Persia, Arab, Eropa, dan China menjadikan bahasa sebagai faktor yang menentukan kemajuan kekuasaan negara, sastra, keilmuan, dan teknologi yang berdampak dan berguna pada kehidupan manusia secara luas. Sebagaimana kata Francis Bacon, pengetahuan adalah kekuasaan.   

Sebagai sarana belajar dan berfikir, bahasa juga memiliki fungsi lain yakni sebagai sarana dalam berkomunikasi. Bahasa sebagai sarana komunikasi memungkinkan akan terjadinya interaksi antar sesama manusia. Dimana hubungan antar manusia, ada sebuah kebutuhan yang menjadi tujuan dari komunikasi itu, baik kebutuhan untuk menyampaikan pemikiran dan perasaan (Baca: Jujun). Sehingga dalam mencapai kebutuhannya dengan komunikasi, maka terciptalah sebuah upaya tolong menolong, dan kemudian proses kerja sama antar manusia. Dengan adanya bentuk kerja sama, maka terciptalah kelompok-kelompok di dalam manusia yang memiliki kesamaan baik ideologi, hobi, kerja, daerah, suku dan agama. Sekali lagi, bahasa merupakan ujung pangkal adanya peradaban maju yang dihasilkan dari serangkaian komunikasi antar kelompok-kelompok (suku, suku, agama, ideologi, dst) sehingga kehidupan dipenuhi warna dan dibingkai sebuah tujuan bersama baik berbentuk nilai, iman, moral, dan estetika.

Meskipun bahasa disebutkan diatas merupakan sarana dan faktor adanya kebudayaan dan perkembangan kelompok (negara/partai/komunitas/ormas). Tetapi, perlu diketahui bahwa bahasa bersifat multifungsi sehingga penerjemahannya menjadi multitafsir atau berbeda penangkapan/pemahaman setiap individu. Sifat-sifat multifungsi bahasa diantaranya:

1.      Simbolik          : sesuatu yang bersifat melambangkan
2.      Emotif             : Bersifat menimbulkan emosi
3.      Afektif            : Berkenaan dengan pesukuaan (Baca: Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Karena bahasa memiliki kekurangan, disebabkan bahasa yang multifungsi. Sehingga dalam realita proses bekerja sama dalam organisasi sering terjadi sebuah kesalahpahaman dalam menerima pernyataan dan pertanyaan pada setiap individu (pemimpin dan anggota). Seperti percapakan berikut, antara ketua dan anggota organisasi:

Contoh pertama

Ketua              : Dimana kamu semalam mas?

Anggota          : Aku semalam sedang tidak enak badan

Ketua              : Jika seandainya kamu totalitas (berjuang sungguh-sungguh) berada di organisasi.  
                          Walau badanmu tidak enak atau enak, seharusnya kamu berangkat ke agenda!

Anggota          : Maaf, saya tidak sanggup (sanggup dalam hal apa?)

Ketua              : Kalau kamu tidak sanggup silakan bisa keluar

(si ketua menafsiri tidak sanggup berorganisasi? Ketua ini terjebak dalam sifat bahasa yang multifungsi (emotif, afektif, dan simbolik) tanpa mengkonfirmasi maksud dari pernyataan (tidak sanggup dalam hal apa?))

Sebelum menelusuri lebih jauh tentang komunikasi organisasi dan membedah isi percakapan dari contoh diatas. Perlu diketahui bahwa komunikasi berasal dari kata communis atau commo. Dalam bahasa Inggris berarti “sama”. Sehingga dapat diartikan secara terminologi, bahwa komunikasi adalah usaha untuk mencapai kesamaan makna atau commonness. Oleh karenanya, walau komunikasi terkadang terdapat perbedaan pendapat dan perpektif, jika komunikasi itu berjalan baik maka akan tercipta kesamaan (Baca: Ahmad Subkhi, M.M dan Mohammad Jauhar, S.Pd, Pengantar Teori dan Perilaku Organisasi). Maka komunikasi dalam organisasi biasanya diarahkan untuk mencapai kesamaan antar individu, bukan menganggap pendapat pribadi sebagai pendapat yang paling benar, tetapi mengambil makna dari setiap pendapat (pernyataan) yang memiliki kesamaan agar organisasi dapat berjalan dinamis.

Komunikasi dalam organisasi ini memiliki beberapa fungsi seperti, fungsi informatif, fungsi regulatif, fungsi persuasif, dan fungsi integratif. Dimana suatu komunikasi organisasi ini memungkinkan setiap anggota agar mengetahui informasi, mampu berpartisipasi, dan mampu saling bekerja sama pada agenda yang akan dilaksanakan organisasi. Oleh karenanya dalam melakukan komunikasi organisasi setidaknya mampu mencakup keempat fungsi tersebut.

Pada contoh nomor satu memiliki satu kesamaan dalam memaksakan pendapatnya pada anggotanya. Cermati bahwa contoh diatas menyebutkan kata harus tanpa menyertakan kata tetapi sebagai wujud toleransi kepada anggota dan tidak adanya two way communication atau komunikasi timbal balik. Dimana memungkinkan anggota tertarik empatinya dan memungkinkan anggota untuk mempengaruhi forum. Kemudian, si ketua terjebak dalam multifungsinya bahasa yang ia tafsiri sekenanya. Perkataan tidak sanggup oleh anggota ditafsiri oleh si ketua dengan artian tidak sanggup berorganisasi.

Dalam organisasi yang baik tentunya disana proses komunikasinya berjalan baik dan dinamis. Hal tersebut dapat terjadi apabila dalam suatu kepemimpinan (pemimpin dan anggota) menyadari akan asas kebutuhan komunikasi dalam organisasi, diantara kebutuhan itu ialah:
  1. Kasih sayang
  2. Partisipasi/diikutsertakan
  3. Kontrol
Dimana kebutuhan kasih sayang, karena rasa peduli dan kasih antar sesama anggota untuk saling tolong menolong baik menolong demi kepentingan organisasi ataupun untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Partisipasi sebagai kebutuhan dalam komunikasi untuk memberikan dan membentuk peran anggota dalam mempengaruhi proses organisasi. Kontrol menjadi alasan sebagai kebutuhan komunikasi agar terkendalinya proses organisasi sesuai amanat dan tujuan yang telah disepakati. Tetapi kebutuhan untuk mengontrol ini memiliki perbedaan pada sisi kekuatan dan cara menyatakan, diantaranya:
  1. Abdikrat          : Yaitu seseorang yang sangat patuh dan bergantung pada orang lain.
  2. Autokrat          : Ialah seseorang yang tak patuh dan cenderung ingin menguasai orang
                               lain.
  3. Demokrat        : Ialah seseorang yang kebutuhan kontrolnya terpuaskan. Seseorang yang
                               nyaman berada dalam posisi manapun, dan ia mampu menerima
                               masukan dari orang lain.
Perhatikan contoh ketiga

Ketua : “Sahabat-sahabati yang saya muliakan. Saya mendapat kabar bahwa kita masih mendapatkan peserta sejumlah 22 mahasiswa. Ini adalah hasil perjuangan yang meletihkan dan penuh pengorbanan dari sahabat-sahabati sekalian. Mari kita beri aplause untuk keberhasilan kita semua”
(Semuanya bertepuk tangan)

Ketua : “Tetapi sahabat-sahabati, dalam proses perekrutan kita masih kurang maksimal. Saya persilahkan sahabat-sahabati untuk mengomentari proses kita”

Anggota A : “Ada panitia yang tidak punya jam kosong, jadi tidak maksimal merekrut”

Ketua : “Iya itu kita bisa memaklumi, mungkin sahabat kita itu dilanda kerepotan dan tanggup jawab yang tidak bisa ditanggalkan. Terus ada lagi sahabat-sahabati yang ingin berkomentar, nanti kita akan rembug bersama” (ketua memberikan toleransi, sebagai tanggapan penuh hati-hati)

Oleh sebab itu dalam proses organisasi, terutama dalam melakukan komunikasi. Setidaknya dalam kepemimpinan organisasi mampu mengaplikasikan fungsi komunikasi (informatif, regulatif, persuasif, dan integratif), dan sadar akan kebutuhan komunikasi organisasi baik kasih sayang, partisipasi, dan kontrol. Selain itu yang perlu diketahui, bahwa dibutuhkan pendekatan komunikasi, agar proses komunikasi timbul timbal balik dan dinamis. Pendekatan tersebut terdapat banyak, tetapi penerapannya dapat disesuaikan dengan konteks organisasi. Pendekatan itu antara lain: pendekatan ilmiah, pendekatan antar manusia (sosial), pendekatan sistem dan pendekatan kultural.

Dalam pendekatan ini, bahasa merupakan alat vital dalam menjalin komunikasi. Sehingga pemilihan bahasa yang tepat akan mempengaruhi situasi komunal dan psikologi personal dengan baik. Pemilihan bahasa ini biasanya mengingat dan menyesuaikan forum. Biasanya, jika dalam forum formal, maka bahasa yang dipilih adalah bahasa nasional, tetapi jika dalam forum yang in-formal, pilihan bahasa jatuh pada bahasa daerah. Bahasa formal biasanya mengesankan kekakuan dan kurang akrab dibandingkan bahasa daerah. Akan tetapi, jika dalam suatu organisasi terdiri dari jenis-jenis suku dan daerah lain, maka dalam forum non-formal pun pilihan bahasa agar tetap jatuh pada bahasa nasional.

Kemunduran organisasi jika dalam komunikasi sehari-hari ia menggunakan bahasa daerah yang mendistorsi anggota yang berdaerah lain. Terlebih apalagi jika organisasi itu dipimpin oleh orang dari perwakilan daerah yang mendominasi dan pemimpin itu tergolong autokrat yang tidak mau menerima masukan dari sahabat, dan senior. Hal itu terjadi di tempat saya melakukan studi, dimana bahasa keseharian yang dilakukan mahasiswa di sana menggunakan bahasa daerah tertentu.

Pada suatu hari, saya diajak oleh Pengurus PMII Komisariat Sunan Ampel Surabaya untuk ikut serta dalam rapat Pelatihan Kader Menengah (PKM). Dalam acara pelatihan tersebut mengangkat sebuah tema sebagai berikut: Pemuda VS Budaya; Gerakan Membangun Kebudayaan Nusantara. Sebentar, alam bawah sadar saya secara intuitif teringat tentang “bahasa”. Saya sampaikan kepada sahabat-sahabat yang hadir dalam rapat tersebut. Jika memang kita menggunakan tema tersebut yang bernuansa “budaya nusantara” dengan tujuan membangun organisasi dan gerakan yang lebih baik, apakah kita siap untuk merubah atau setidaknya meminimalkan bahasa Madura dalam organisasi, karena membaca entitas organisasi PMII UIN Sunan Ampel tidak terdiri dari suku Madura saja, tetapi juga terdapat suku Jawa dan suku lain. Jika tetap diteruskan, hal ini akan mendikotomi anggota, dan selanjutnya akan mendistorsi anggota yang non-Madura. Walau demikian, saya tidak mendapat jawaban yang signifikan dari sahabat-sahabat saat itu.

Kembali pada pernyataan di atas, bahwa binatang belajar hanya untuk mempertahankan jenisnya, sedangkan manusia belajar untuk berbudaya. Disini, jelas jauh perbedaan antar manusia yang berilmu dan kaya wawasan dan perspektif dibandingkan hewan yang hanya memiliki insting dan naluri fisiologis dan biologis saja. Hidup manusia tidak hanya makan-minum dan berhubungan seksual tetapi manusia membutuhkan kasih sayang, pengetahuan, kehormatan, dan pengakuan (Baca: Abraham Maslow), sebagaimana menurut Sigmund Freud bahwa kebudayaan membentuk manusia dengan menekan dorongan-dorongan alami mereka, mensublimasikannya menjadi sesuatu yang berbudaya, yang kemudian menjadi dasar pembentukan kebudayaan (Baca: Erich Fromm..). Dari pernyataan Freud tersebut, kata “menekan” ini berarti luas. Bahwa manusia yang memiliki hasrat dan nafsu akan cenderung berbuat kriminal, asusila, dan amoral, maka dengan budaya, nafsu dan hasrat itu ditekan dan diarahkan pada sesuatu yang positif atau bagi Freud disebut berbudaya.

Permasalahan komunikasi dalam organisasi ini tidak pernah dikaji secara formal dan dievaluasi secara kritis, ada upaya pembiaran disana karena selama tidak menimbulkan kekacauan dan perpecahan di tubuh organisasi. Sebagaimana bahasa bersifat multifungsi: simbolik, emotif, dan afektif. Penggunaan bahasa daerah (Madura), secara simbolis bagi sahabat (anggota) yang berasal dari daerah lain tidak akan berarti apa-apa, dan sekaligus tidak berarti dalam memunculkan sifat emotif dan afektifnya. Bagaimana bisa bahasa yang tidak dimengerti satu arti pun dapat menimbulkan ekspresi personal baik pemikiran maupun perasaan?. Bahkan akan memunculkan kesalahpahaman dan sampai kekecewaan.  Memang, pada dasarnya bahasa tidak berarti harus kata dan suara, tetapi juga dari tindakan isyarat. Sehingga tanpa mengetahui bahasa suara, tetapi dengan melihat ekspresi dan perilakunya kita sudah dapat menangkap arti bahasa secara substansial.  Hal ini memungkinkan bagi orang yang memiliki jiwa demokrat untuk berlapang dada menerima keadaan, sedangkan bagi orang yang tidak bisa menerima bagaimana? Akankah begitu saja dibuang.
Akan diadakannya PKM PMII Komisariat UIN Sunan Ampel, dengan mengangkat tema “kebudayaan”, harapannya fenomena bahasa keseharian dalam tubuh organisasi yang dapat dikategorikan sub kebudayaan dikaji secara kritis dan penuh kesadaran. Sebab budaya adalah ekspresi fikir, dan rasa (cipta rasa dan karsa manusia), terlebih wacana yang akan dibangun adalah “gerakan membangun budaya nusantara”. Dimana kebudayaan nusantara yang komleks dan kaya raya, kemudian dicari inti-inti kebudayaan nusantara yang mampu difahami dan dihayati oleh sahabat-sahabat sebagai agenda untuk melawan budaya global yang menjangkiti. Demikian pemahaman penulis tentang tema tersebut. Hal ini bukan satu upaya melemahkan dan mencemarkan intitusi organisasi pergerakan yang saya cintai, tetapi sebagai bentuk introspeksi diri agar kita mampu berbenah lebih baik.  

Demikianlah, peran bahasa dalam komunikasi sangat berpengaruh dalam kerja organisasi. Teringat pada bagian Sumpah Pemuda yang berisi “Kami putera-puteri Indonesia bersumpah, berbahasa satu, bahasa Indonesia”. Pernyataan sumpah untuk memegang bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah wujud persatuan dari segenap kelompok/organisasi kepemudaan saat itu untuk berpaling dari pemahaman etno-nasionalisme (nasionalisme yang berdasar suku/daerah) menjadi sosial-nasionalisme, yaitu nasionalisme yang tidak memandang suku, agama, dan golongan apapun. Tetapi nasionalisme yang difahami berangkar dari persamaan nasib dan persamaan perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan (Demikian kata Soekarno tentang pengertian bangsa). Memilih bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu, bahasa Jawa, atau bahasa Belanda karena untuk mengintegrasikan komunikasi: semangat, informasi, gagasan seluruh rakyat Indonesia melalui bahasa yang difahami dan disepakati bersama, bahasa Indonesia!. Kalau kebudayaan adalah hasil cipta rasa dan karsa manusia, maka bahasa Indonesia adalah bahasa budaya nusantara.


PMII kan punya janji tho, berkomitmen mendukung cita-cita kemerdekaan Indonesia. Dimanakah komitmenmu menjunjung bahasa persatuan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren