Al-Muvti
Dalam Pengantar Filsafat Ilmu karangan Jujun Suriasumantri, disana
ia berkata bahwa bahasa merupakan sarana berfikir ilmiah. Tanpa adanya bahasa
maka transformasi pengetahuan tidak akan pernah terjadi. Bahasa sebagai alat
komunikasi menjadi sarana utama dimanapun dan kapanpun dipergunakan, terlebih
di Organisasi. Di dalam organisasi terdapat permasalahan kompleks, baik
permasalahan internal organisasi (kepemimpinan, individu, administrasi, dan
program) maupun di eksternal organisasi. Intensitas komunikasi akan membuat
jalannya organisasi menjadi baik. Sayangnya, bahasa yang digunakan sebagai alat
komunikasi memiliki kekurangan. Hal ini musti diwaspadai.
Sebelum membahas kekurangan bahasa akan lebih baik kita akan membahas
mengenai definisi bahasa itu sendiri.
Bahasa merupakan serangkaian bunyi yang disampaikan dari satu orang ke orang
lain. Dari proses penyampaian serangkaian bunyi ini antar orang di sana, maka
dapat dikatakan sebagai komunikasi verbal. Kemudian dimana masyarakat yang
menggunakan bunyi atau suara sebagai alat komunikasi utama dapat digolongkan
dalam masyarakat verbal. Walau komunikasi tidak selamanya menggunakan bunyi,
maka bahasa juga memiliki alat lain dalam penyampaiannya seperti bahasa isyarat
yang biasanya digunakan orang yang difable/bisu atau orang asing
berwisata ke luar negeri tapi tak tahu bahasa keseharian disana, tetapi hal itu
tidak dapat dikategorikan sebagai komunikasi verbal (Baca: Jujun S.
Suriasumantri, Pengantar Filsafat Ilmu).
Selain memiliki arti suara dan bunyi, bahasa juga merupakan lambang. Dari
sebuah bahasa itu untuk melambangkan pada sesuatu yang disebut “kata”. Semisal botol
untuk menyebut benda yang berbentuk tabung dan ujungnya berlubang kecil. Karena
bahasa merupakan lambang yang didapat dari proses pengalaman (ruang dan waktu)
dan pemikiran yang berbeda, sehingga di daerah satu dengan daerah yang lain
memiliki bahasa yang berbeda. Di Inggris disebut botle dan di Indonesia
disebut sebagai botol. Selain berbeda, ada kesamaan antara menyebut botle
dalam bahasa Inggris dan botol dari bahasa Indonesia, kata dari dua
daerah yang berbeda dapat dikatakan sebagai kata serapan. Seperti komunikasi
yang diserap dari kata comunication, dst. Hal ini dampak dari pergaulan
internasional yang terintegrasi.
Dengan adanya bahasa, manusia dapat berfikir dalam benak fikiran mereka,
karena mampu menandai istilah kata dalam fikiran, sehingga dengan begitu dalam
benak fikiran akan terjadi komunikasi antar “manusia dan fikiran”. Dengan
berfikir tersebut memungkinkan manusia untuk berhati-hati dalam bertindak dan
bertutur, mampu meramalkan sesuatu, dan mampu mengontrol/merubah sesuatu. Hal
itu adalah keniscayaan, sebab perbedaan pendidikan manusia dengan hewan
terletak pada tujuannya: manusia belajar (berfikir) untuk berbudaya sedangkan
hewan untuk mempertahankan jenisnya (Baca: Jujun). Kemudian, menurut Sigmund
Freud: kebudayaan membentuk manusia dengan menekan dorongan-dorongan alami
mereka, mensublimasikannya menjadi sesuatu yang berbudaya, yang kemudian
menjadi dasar pembentukan kebudayaan (Baca: Erich Fromm, Escape from Freedom).
Betapa luar biasa, pengaruh dari bahasa yang berawal sebagai alat komunikasi,
sarana berfikir, sarana belajar, dan sampai alat yang membentuk kebudayaan di
tengah masyarakat. Maka, peradaban dunia yang maju seperti Persia, Arab, Eropa,
dan China menjadikan bahasa sebagai faktor yang menentukan kemajuan kekuasaan
negara, sastra, keilmuan, dan teknologi yang berdampak dan berguna pada
kehidupan manusia secara luas. Sebagaimana kata Francis Bacon, pengetahuan
adalah kekuasaan.
Sebagai sarana belajar dan berfikir, bahasa juga memiliki fungsi lain yakni
sebagai sarana dalam berkomunikasi. Bahasa sebagai sarana komunikasi
memungkinkan akan terjadinya interaksi antar sesama manusia. Dimana hubungan
antar manusia, ada sebuah kebutuhan yang menjadi tujuan dari komunikasi itu,
baik kebutuhan untuk menyampaikan pemikiran dan perasaan (Baca: Jujun).
Sehingga dalam mencapai kebutuhannya dengan komunikasi, maka terciptalah sebuah
upaya tolong menolong, dan kemudian proses kerja sama antar manusia. Dengan
adanya bentuk kerja sama, maka terciptalah kelompok-kelompok di dalam manusia
yang memiliki kesamaan baik ideologi, hobi, kerja, daerah, suku dan agama.
Sekali lagi, bahasa merupakan ujung pangkal adanya peradaban maju yang
dihasilkan dari serangkaian komunikasi antar kelompok-kelompok (suku, suku,
agama, ideologi, dst) sehingga kehidupan dipenuhi warna dan dibingkai sebuah
tujuan bersama baik berbentuk nilai, iman, moral, dan estetika.
Meskipun bahasa disebutkan diatas merupakan sarana dan faktor adanya kebudayaan
dan perkembangan kelompok (negara/partai/komunitas/ormas). Tetapi, perlu
diketahui bahwa bahasa bersifat multifungsi sehingga penerjemahannya menjadi
multitafsir atau berbeda penangkapan/pemahaman setiap individu. Sifat-sifat
multifungsi bahasa diantaranya:
1. Simbolik : sesuatu yang bersifat melambangkan
2. Emotif : Bersifat menimbulkan emosi
3. Afektif : Berkenaan dengan pesukuaan (Baca:
Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Karena bahasa memiliki kekurangan, disebabkan bahasa yang multifungsi.
Sehingga dalam realita proses bekerja sama dalam organisasi sering terjadi
sebuah kesalahpahaman dalam menerima pernyataan dan pertanyaan pada setiap
individu (pemimpin dan anggota). Seperti percapakan berikut, antara ketua dan
anggota organisasi:
Contoh pertama
Ketua : Dimana kamu
semalam mas?
Anggota : Aku semalam sedang
tidak enak badan
Ketua : Jika seandainya
kamu totalitas (berjuang sungguh-sungguh) berada di organisasi.
Walau badanmu tidak enak atau enak,
seharusnya kamu berangkat ke agenda!
Anggota : Maaf, saya tidak
sanggup (sanggup dalam hal apa?)
Ketua : Kalau kamu tidak
sanggup silakan bisa keluar
(si ketua menafsiri tidak sanggup berorganisasi? Ketua ini terjebak dalam
sifat bahasa yang multifungsi (emotif, afektif, dan simbolik) tanpa
mengkonfirmasi maksud dari pernyataan (tidak sanggup dalam hal apa?))
Sebelum menelusuri lebih jauh tentang komunikasi organisasi dan membedah
isi percakapan dari contoh diatas. Perlu diketahui bahwa komunikasi berasal
dari kata communis atau commo. Dalam bahasa Inggris berarti
“sama”. Sehingga dapat diartikan secara terminologi, bahwa komunikasi adalah
usaha untuk mencapai kesamaan makna atau commonness. Oleh karenanya,
walau komunikasi terkadang terdapat perbedaan pendapat dan perpektif, jika
komunikasi itu berjalan baik maka akan tercipta kesamaan (Baca:
Ahmad Subkhi, M.M dan Mohammad Jauhar, S.Pd, Pengantar Teori dan Perilaku
Organisasi). Maka komunikasi dalam organisasi biasanya diarahkan
untuk mencapai kesamaan antar individu, bukan menganggap pendapat pribadi
sebagai pendapat yang paling benar, tetapi mengambil makna dari setiap pendapat
(pernyataan) yang memiliki kesamaan agar organisasi dapat berjalan dinamis.
Komunikasi dalam organisasi ini memiliki beberapa fungsi seperti, fungsi
informatif, fungsi regulatif, fungsi persuasif, dan fungsi integratif. Dimana
suatu komunikasi organisasi ini memungkinkan setiap anggota agar mengetahui
informasi, mampu berpartisipasi, dan mampu saling bekerja sama pada agenda yang
akan dilaksanakan organisasi. Oleh karenanya dalam melakukan komunikasi
organisasi setidaknya mampu mencakup keempat fungsi tersebut.
Pada contoh nomor satu memiliki satu kesamaan dalam memaksakan
pendapatnya pada anggotanya. Cermati bahwa contoh diatas menyebutkan kata harus
tanpa menyertakan kata tetapi sebagai wujud toleransi kepada anggota
dan tidak adanya two way communication atau komunikasi timbal balik.
Dimana memungkinkan anggota tertarik empatinya dan memungkinkan anggota untuk
mempengaruhi forum. Kemudian, si ketua terjebak dalam multifungsinya bahasa
yang ia tafsiri sekenanya. Perkataan tidak sanggup oleh anggota ditafsiri oleh
si ketua dengan artian tidak sanggup berorganisasi.
Dalam organisasi yang baik tentunya disana proses komunikasinya berjalan
baik dan dinamis. Hal tersebut dapat terjadi apabila dalam suatu kepemimpinan
(pemimpin dan anggota) menyadari akan asas kebutuhan komunikasi dalam
organisasi, diantara kebutuhan itu ialah:
- Kasih sayang
- Partisipasi/diikutsertakan
- Kontrol
Dimana kebutuhan kasih sayang, karena rasa peduli dan kasih antar
sesama anggota untuk saling tolong menolong baik menolong demi kepentingan
organisasi ataupun untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Partisipasi sebagai
kebutuhan dalam komunikasi untuk memberikan dan membentuk peran anggota dalam
mempengaruhi proses organisasi. Kontrol menjadi alasan sebagai kebutuhan
komunikasi agar terkendalinya proses organisasi sesuai amanat dan tujuan yang
telah disepakati. Tetapi kebutuhan untuk mengontrol ini memiliki perbedaan pada
sisi kekuatan dan cara menyatakan, diantaranya:
- Abdikrat :
Yaitu seseorang yang sangat patuh dan bergantung pada orang lain.
- Autokrat :
Ialah seseorang yang tak patuh dan cenderung ingin menguasai orang
lain. - Demokrat :
Ialah seseorang yang kebutuhan kontrolnya terpuaskan. Seseorang yang
nyaman berada dalam posisi manapun, dan ia mampu menerima
masukan dari orang lain.
Perhatikan contoh ketiga
Ketua : “Sahabat-sahabati yang saya muliakan. Saya mendapat kabar bahwa
kita masih mendapatkan peserta sejumlah 22 mahasiswa. Ini adalah hasil
perjuangan yang meletihkan dan penuh pengorbanan dari sahabat-sahabati sekalian.
Mari kita beri aplause untuk keberhasilan kita semua”
(Semuanya bertepuk tangan)
Ketua : “Tetapi sahabat-sahabati, dalam proses perekrutan kita masih kurang
maksimal. Saya persilahkan sahabat-sahabati untuk mengomentari proses kita”
Anggota A : “Ada panitia yang tidak punya jam kosong, jadi tidak maksimal
merekrut”
Ketua : “Iya itu kita bisa memaklumi, mungkin sahabat kita itu dilanda
kerepotan dan tanggup jawab yang tidak bisa ditanggalkan. Terus ada lagi
sahabat-sahabati yang ingin berkomentar, nanti kita akan rembug bersama” (ketua
memberikan toleransi, sebagai tanggapan penuh hati-hati)
Oleh sebab itu dalam proses organisasi, terutama dalam melakukan
komunikasi. Setidaknya dalam kepemimpinan organisasi mampu mengaplikasikan
fungsi komunikasi (informatif, regulatif, persuasif, dan integratif), dan sadar
akan kebutuhan komunikasi organisasi baik kasih sayang, partisipasi, dan
kontrol. Selain itu yang perlu diketahui, bahwa dibutuhkan pendekatan
komunikasi, agar proses komunikasi timbul timbal balik dan dinamis. Pendekatan
tersebut terdapat banyak, tetapi penerapannya dapat disesuaikan dengan konteks
organisasi. Pendekatan itu antara lain: pendekatan ilmiah, pendekatan antar
manusia (sosial), pendekatan sistem dan pendekatan kultural.
Dalam pendekatan ini, bahasa merupakan alat vital dalam menjalin
komunikasi. Sehingga pemilihan bahasa yang tepat akan mempengaruhi situasi
komunal dan psikologi personal dengan baik. Pemilihan bahasa ini biasanya
mengingat dan menyesuaikan forum. Biasanya, jika dalam forum formal, maka
bahasa yang dipilih adalah bahasa nasional, tetapi jika dalam forum yang
in-formal, pilihan bahasa jatuh pada bahasa daerah. Bahasa formal biasanya
mengesankan kekakuan dan kurang akrab dibandingkan bahasa daerah. Akan tetapi, jika
dalam suatu organisasi terdiri dari jenis-jenis suku dan daerah lain, maka
dalam forum non-formal pun pilihan bahasa agar tetap jatuh pada bahasa nasional.
Kemunduran organisasi jika dalam komunikasi sehari-hari ia menggunakan
bahasa daerah yang mendistorsi anggota yang berdaerah lain. Terlebih apalagi
jika organisasi itu dipimpin oleh orang dari perwakilan daerah yang mendominasi
dan pemimpin itu tergolong autokrat yang tidak mau menerima masukan dari
sahabat, dan senior. Hal itu terjadi di tempat saya melakukan studi,
dimana bahasa keseharian yang dilakukan mahasiswa di sana menggunakan bahasa
daerah tertentu.
Pada suatu hari, saya diajak oleh Pengurus PMII Komisariat Sunan Ampel
Surabaya untuk ikut serta dalam rapat Pelatihan Kader Menengah (PKM). Dalam
acara pelatihan tersebut mengangkat sebuah tema sebagai berikut: Pemuda VS
Budaya; Gerakan Membangun Kebudayaan Nusantara. Sebentar, alam bawah sadar saya
secara intuitif teringat tentang “bahasa”. Saya sampaikan kepada
sahabat-sahabat yang hadir dalam rapat tersebut. Jika memang kita menggunakan
tema tersebut yang bernuansa “budaya nusantara” dengan tujuan membangun
organisasi dan gerakan yang lebih baik, apakah kita siap untuk merubah atau
setidaknya meminimalkan bahasa Madura dalam organisasi, karena membaca entitas
organisasi PMII UIN Sunan Ampel tidak terdiri dari suku Madura saja, tetapi
juga terdapat suku Jawa dan suku lain. Jika tetap diteruskan, hal ini akan
mendikotomi anggota, dan selanjutnya akan mendistorsi anggota yang non-Madura.
Walau demikian, saya tidak mendapat jawaban yang signifikan dari
sahabat-sahabat saat itu.
Kembali pada pernyataan di atas, bahwa binatang belajar hanya untuk
mempertahankan jenisnya, sedangkan manusia belajar untuk berbudaya. Disini,
jelas jauh perbedaan antar manusia yang berilmu dan kaya wawasan dan perspektif
dibandingkan hewan yang hanya memiliki insting dan naluri fisiologis dan
biologis saja. Hidup manusia tidak hanya makan-minum dan berhubungan seksual
tetapi manusia membutuhkan kasih sayang, pengetahuan, kehormatan, dan pengakuan
(Baca: Abraham Maslow), sebagaimana menurut Sigmund Freud bahwa kebudayaan membentuk
manusia dengan menekan dorongan-dorongan alami mereka, mensublimasikannya
menjadi sesuatu yang berbudaya, yang kemudian menjadi dasar pembentukan
kebudayaan (Baca: Erich Fromm..). Dari pernyataan Freud tersebut, kata
“menekan” ini berarti luas. Bahwa manusia yang memiliki hasrat dan nafsu akan
cenderung berbuat kriminal, asusila, dan amoral, maka dengan budaya, nafsu dan
hasrat itu ditekan dan diarahkan pada sesuatu yang positif atau bagi Freud
disebut berbudaya.
Permasalahan komunikasi dalam organisasi ini tidak pernah dikaji secara
formal dan dievaluasi secara kritis, ada upaya pembiaran disana karena selama
tidak menimbulkan kekacauan dan perpecahan di tubuh organisasi. Sebagaimana
bahasa bersifat multifungsi: simbolik, emotif, dan afektif. Penggunaan bahasa
daerah (Madura), secara simbolis bagi sahabat (anggota) yang berasal dari
daerah lain tidak akan berarti apa-apa, dan sekaligus tidak berarti dalam
memunculkan sifat emotif dan afektifnya. Bagaimana bisa bahasa yang tidak
dimengerti satu arti pun dapat menimbulkan ekspresi personal baik pemikiran
maupun perasaan?. Bahkan akan memunculkan kesalahpahaman dan sampai
kekecewaan. Memang, pada dasarnya bahasa
tidak berarti harus kata dan suara, tetapi juga dari tindakan isyarat. Sehingga
tanpa mengetahui bahasa suara, tetapi dengan melihat ekspresi dan perilakunya
kita sudah dapat menangkap arti bahasa secara substansial. Hal ini memungkinkan bagi orang yang memiliki
jiwa demokrat untuk berlapang dada menerima keadaan, sedangkan
bagi orang yang tidak bisa menerima bagaimana? Akankah begitu saja dibuang.
Akan diadakannya PKM PMII Komisariat UIN Sunan Ampel, dengan mengangkat
tema “kebudayaan”, harapannya fenomena bahasa keseharian dalam tubuh organisasi
yang dapat dikategorikan sub kebudayaan dikaji secara kritis dan penuh
kesadaran. Sebab budaya adalah ekspresi fikir, dan rasa (cipta rasa dan karsa
manusia), terlebih wacana yang akan dibangun adalah “gerakan membangun
budaya nusantara”. Dimana kebudayaan nusantara yang komleks dan kaya raya,
kemudian dicari inti-inti kebudayaan nusantara yang mampu difahami dan dihayati
oleh sahabat-sahabat sebagai agenda untuk melawan budaya global yang
menjangkiti. Demikian pemahaman penulis tentang tema tersebut. Hal ini bukan
satu upaya melemahkan dan mencemarkan intitusi organisasi pergerakan yang saya
cintai, tetapi sebagai bentuk introspeksi diri agar kita mampu berbenah lebih
baik.
Demikianlah, peran bahasa dalam komunikasi sangat berpengaruh dalam kerja
organisasi. Teringat pada bagian Sumpah Pemuda yang berisi “Kami
putera-puteri Indonesia bersumpah, berbahasa satu, bahasa Indonesia”. Pernyataan
sumpah untuk memegang bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah wujud
persatuan dari segenap kelompok/organisasi kepemudaan saat itu untuk berpaling
dari pemahaman etno-nasionalisme (nasionalisme yang berdasar suku/daerah) menjadi
sosial-nasionalisme, yaitu nasionalisme yang tidak memandang suku, agama, dan
golongan apapun. Tetapi nasionalisme yang difahami berangkar dari persamaan
nasib dan persamaan perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan (Demikian kata
Soekarno tentang pengertian bangsa). Memilih bahasa Indonesia dan bukan bahasa
Melayu, bahasa Jawa, atau bahasa Belanda karena untuk mengintegrasikan
komunikasi: semangat, informasi, gagasan seluruh rakyat Indonesia melalui
bahasa yang difahami dan disepakati bersama, bahasa Indonesia!. Kalau kebudayaan
adalah hasil cipta rasa dan karsa manusia, maka bahasa Indonesia adalah bahasa
budaya nusantara.
PMII kan punya janji tho, berkomitmen mendukung cita-cita
kemerdekaan Indonesia. Dimanakah komitmenmu menjunjung bahasa persatuan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren