Globalisasi sudah menjadi habitus, dan populis di
kalangan masyarakat Indonesia. Perkembangan pemikiran, kebijakan, teknologi,
dan pembangunan membuat cara berfikir dan bertindak masyarakat berubah drastis. Sudah tidak ada lagi jarak dan kesulitan dalam melakukan
komunikasi, dan transportasi. Semula masyarakat serba melakukan berbagai hal
dengan cara tradisional, sebelum dikenal adanya teknologi, terlebih sebelum
adanya jam (baca: Nicholas Carr The Shallow), manusia dalam melaksanakan
aktivitas berdasar kebiasaan. Setelah ditemukan adanya jam pada abad
pertengahan atas tuntutan para pendeta gereja, semua aktivitas manusia lebih
teratur dan efisien. Apabila ada keterlambatan dan menyia-nyiakan waktu maka
sama dengan menghina Tuhan.
Kemajuan teknologi
yang memang tidak bisa dielak. Terlebih, penemuan komputer dan internet,
menjadi penanda pamungkas, akan adanya globalisasi. Seseorang akan begitu mudah
mengakses data, informasi, gambar, audio, dan video dari suatu situs yang
tersedia. Hal ini akan membuat perubahan cara berfikir dan bertindak untuk
lebih mengedepankan penggunaan internet daripada menggunakan cara seperti biasa.
Tidak perlu berkirim informasi, pesan, atau kabar melalui surat, tetapi bisa
menggunakan email, sms, atau chat. Setidaknya, seseorang akan lebih menyingkat
waktunya untuk pergi ke kantor pos, dengan langsung mengetik pesan di ponsel.
Dengan kemunculan
internet ini, merebak istilah “Dunia Maya” , seakan menggambarkan bahwa ada
dunia lain lagi selain dunia nyata. Internet dianggap seperti alam lain bagi
manusia, hal itu termanifestasi dengan kemunculan media sosial seperti,
facebook, twitter, instagram. Melalui avatar, foto, video, dan pernyataan di
status yang diunggah adalah medium dialog sesama manusia di dalam dunia nyata.
Sebagaimana dunia
nyata, maka dunia maya juga menyediakan peluang dan ancaman bagi manusia. Dalam
pemanfaatan secara positif, dengan adanya internet maka akan mempermudah
aktivitas ekonomi dengan adanya sistem bisnis online, seperti: toko bagus yang
sekarang berubah menjadi olx. Adanya internet juga membantu untuk menunjang
aktivitas politik, konon katanya penjaringan masa revolusi di mesir beberapa
tahun lalu akibat penjaringan melalui salah satu media sosial. Kampanye pun
yang biasanya diadakan secara tatap muka tidak selamanya menjadi satu-satunya
cara, tetapi dengan mengunggah gambar kampaye, dan pemaparan visi-misi di dalam
status. Konon, Jokowi yang disebut sebagai media darling, tokoh baru
yang dapat mendulang suara banyak karena didukung media-media online yang terus
meng-upload saat Jokowi melakukan blusukan.
Pada sisi negatif
penggunaan internet memunculkan peluang kejahatan baru yaitu: cyber crime. Kejahatan
yang dilakukan berbasis internet, dapat dicontohkan seperti: pelecehan,
pembajakan data (hacker), dan penipuan. Karena adanya modus kejahatan
baru itu, DPR RI menyusun UU 11 Tahun 2008 Tentang ITE (Informasi dan Transaksi
Elektronik) yang akan menjadi hukum formil atau landasan hukum yang dapat
menjerat dan mempidanakan pelaku cyber crime.
Ternyata, internet
tidak hanya mempengaruhi cara berfikir dan bertindak individu tetapi juga
mengubah pengorganisiran, manajemen, dan komunikasi organisasi. Baik di tataran
organisasi pemerintahan, ormas, organisasi kepemudaan, dan LSM hampir
keseluruhan menggunakan media internet sebagai media komunikasi dan
publikasinya. Oleh karena itu, dibuatlah situs-situs yang akan menjadi laman
publikasi dan komunikasinya. Terlebih dengan kemunculan media sosial, organisasi
dalam melaksanakan agenda tidak perlu terlalu banyak memasang pamflet, karena
dapat dilakukan dengan menyebar pesan elektronik. Bahkan rapat/meeting dapat
dilaksanakan dengan cara online tanpa harus tatap muka.
Di satu sisi,
dengan adanya internet ini akan menimbulkan manfaat yang luar biasa, kerja
organisasi lebih efisien dan efektif. Tetapi di lain hal membuat cara
berprilaku anggota komunitas/organisasi di dalamnya menjadi antipati. Terjadi sebuah
dehumanisasi dalam diri anggota organisasi. Karena dengan mengandalkan media
tulisan maupun gambar akan menyiratkan pengertian multitafsir yang kerap
mengundang emosi sentimen. Semangat kolektivitas juga akan mengalami penurunan
dalam melaksanakan kegiatan, lebih mengandalkan keterwakilan bukan kebersamaan.
Padahal ini bertentangan dengan semangat pancasila, yang menitik beratkan pada
gotong royong sebagai eka sila.
Tantangan PMII
Teknologi termasuk
internet sesuatu yang deterministik dan niscaya. Pelibatan dalam penggunaannya
tidak bisa dielak. Jika dielak, maka seseorang dan organisasi tertentu akan
mengalami kemunduran dan stagnanisasi dalam dinamisasi organisasi. Hal ini juga
dialami PMII sebagai organisasi pengkaderan mahasiswa yang berhaluan ahlu
sunnah wal jamaah, kehadiran teknologi dan internet tidak ditolak begitu
saja, tetapi juga penuh kehati-hatian dalam penggunaannya.
Dapat dipastikan
setiap struktur dari Pengurus Besar hingga Rayon memiliki alamat email dan situs
online agar dapat diakses dan menjadi media publikasi dari setiap agenda
kegiatannya. Hal ini menjadi jawaban dari PMII untuk memanfaatkan kemajuan demi
kemaslahatan, sebagaimana kaidah al-mukhafadzotu ala qodiimi ash-sholihu wa
akhdzu bil jadiidil ashlakhu; “Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil
tradisi baru yang lebih baik”.
Tetapi ada sebuah
keanehan, dengan semakin berkembangnya kemajuan ponsel dan internet sehingga
memunculkan gadget atau smarthphone membuat kerja organisasi menjadi
lebih buruk. Berbeda dengan kerja organisasi PMII terdahulu pada periode
1990-an sampai 2000-an awal. Walaupun banyak sekali terdapat keterbatasan dalam
kepemilikan alat komunikasi dan transportasi, tidak membuat kerja organisasi
menjadi terpolarisasi, terfragmentasi, dan kurang bersemangat.
Meski demikian,
media bukan menjadi satu-satunya kambing hitam atas kemerosotan gerakan
organisasi PMII. Tetapi bisa dianalisis dari konteks zamannya, jika pada orde
baru terdapat command enemy yaitu rezim Soeharto yang otoriter dan korup
yang membuat hampir keseluruhan rakyat Indonesia dan seluruh mahasiswa menjadi
geram dan bersatu padu ingin melawan rezim Soeharto. Dibandingkan sekarang,
hampir tidak ada command enemy atau sebatas isu komunal yang menjadi
titik tolak persatuan. Hal ini menjadi satu penyebab yang dominan.
Disini media sosial
atau internet menjadi satu tantangan yang mesti dipecahkan dan dicari solusinya,
sebab adanya gerakan yang masif dibutuhkan komunikasi yang dinamis dan
dialektis sebagai syarat utama. Ada beberapa kesalahan berfikir dalam
penggunaan media sosial atau internet bagi sebagian anggota PMII:
1.
Mereka yang mengeneralisir keseluruhan anggota memiliki
akun media sosial akan mengakibatkan anggota-anggota yang tidak memiliki akun media
sosial menjadi terasing. Jika anggota tersebut memiliki kekurangan finansial,
PMII tidak boleh diktatur kepada mereka, setidaknya tidak menjadikan rumusan
yang tercapai dalam percakapan di media sosial sebagai keputusan final. Sampai
keseluruhan anggota hadir dan menyepakati maka baru ada keputusan final.
2.
Berhati-hati dalam menulis status dalam media sosial,
karena jika meluapkan perasaan ketidaksukaan pada salah satu anggota di dalam
status, maka hal itu malah akan semakin memperkeruh suasana keharmonisasn
organisasi. Karena tidak tepat mengungkit atau mengumbar prasangka buruk dan
kebencian di dalam status yang dapat dilihat oleh puluhan orang.
Status
ibarat papan majalah dinding yang mana siapa saja dapat melihat dan menjadi
publik untuk mengetahui kebutuhan publik. Bukan menjadi personal yang bisa
sesuka hatinya mengumbar perasaan suka-duka di wilayah publik. Atau dapat
dikatakan sebagai; publikasi privat. Semestinya, jika suatu perkara itu hanya
melibatkan antar personal, maka persoalan itu harus diselesaikan antar personal
atau melibatkan pihak ketiga sebagai penengah apabila perkara itu sulit dicari
kemaslahatannya.
Dua poin di atas
menjadi faktor dominan yang kerap terjadi pada anggota PMII, bahkan anggota di
organisasi lain. Sangat disayangkan apabila terjadi pelemahan gerakan hanya
disebabkan rasa ketidaksukaan, prasangka buruk, dan kesalahpahaman antar sesama
anggota. Bagaimana PMII sebagai organisasi gerakan yang menuntut perubahan yang
lebih baik, jika tidak bisa menjalin hubungan harmonis dengan sesama
sahabatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren