Senin, 02 Januari 2017

MUSCLE MEMORY ALIAS OTAK DENGKUL

PRAKTIK tak segampang berteori, dan berspekulasi tinggi-tinggi. Terbukti, setelah teman saya (Wahyu Utomo, sahabat PMII Tuban), tutor, memberikan panduan teknik nyetir mobil, yang saya rasa "sederhana". Praktiknya sungguh tidak sederhana, dan sungguh susah. 

Beruntung, Wahyu Utomo (sahabat ini yang mengenalkan pertamakali, pada semester 2, dalam hidup saya pada nama 'Wiji Thukul. Maka sebagai buah tangan, saya beri oleh-oleh buku 'Nyanyian Akar Rumput' yang berisi kumpulan puisi progresifnya Wiji Thukul) yang seumuran dengan saya. Dengan kadar emosionalnya yang tidak jauh berbeda dengan saya, tetap sabar dan telaten memberikan pengarahan dan pengajaran di sepanjang latihan. Sampai ia luangkan waktu kerjanya, berjualan kelapa, di pasar demi mengajari saya nyetir mobil.

Saya jadi teringat pada istilah "muscle memory" atau memori otot. Selain otak diangugerahi Tuhan berupa daya ingat, pun otot juga memiliki daya ingatnya sendiri. Jadi, puncak dari tingginya daya ingat otot tatkala gerak tubuh begitu lentur dan luwes.

Sebelumnya kaki saya tidak pernah berkenalan dengan pedal kopling, pedal rem, dan pedal gas. Tangan saya juga belum pernah berjabatan dengan setir, porsneling, dan pengukit lampu. Pun mata saya dan kesadaran saya belum pernah sebelumnya memiliki keseimbangan rata kanan dan rata kiri mobil. Pun mobil yang saya gunakan adalah Daihatsu L300, seperti nampak stirnya pada gambar. Akhirnya di jalanan, saya sering salah teknik. Kadang ngerem mendadak. Kadang mobil terlalu condong ke tengah jalan, kadang ke kiri jalan sampai amblas. 

Ditambah kondisi lapangan yang lumayan berat. Bagaimana tidak? Jalanan Jatirogo Tuban, tempat latihan, yang ruas jalannya sempit, berkelok-kelok, dan kontur tanah yang naik-turun. Apalagi latihan selalu di malam hari, yang jalan-jalannya jarang sekali lampu jalan. Lampu jalan yang nampak pada gambar hanyalah pembuka awal, dan selanjutnya gelap gulita! 

Tidak perlu mengeluh atau menggerutu. Justru semakin tingkat kesulitannya maka semakin membuat berfikir keras, awas, dan sigap. Disinilah pengendara atau nahkoda yang tangguh dan cerdas akan lahir, menghadapi segala medan apapun. Ini menarik, dan sungguh Resolusi 2017 saya terijabahi ternyata. 

"Dilipatgandakan tingkat kesulitan dan tantangan pada diri saya. Agar saya terus mawas diri, introspeksi, dan meningkatkan kualitas kepribadian."

Saya punya kesimpulan yang intuitif. Bagi masyarakat Jawa, ada istilah 'otak dengkul', untuk merumpamakan kebodohan seseorang atau rendahnya tingkat intelejensi. Ternyata itu keliru, karena otak dengkul benar-benar ada! Itu muscle memory. Dan otak dengkul saya yang belum pernah mengerti mobil dan bagaimana mengendarainya, kini saya latih pelan-pelan tapi pasti.

Silakan ketawa (ha-ha-ha) tapi bagi saya ini membanggakan !

Beribu-ribu terimakasih pada Wahtu Utomo. Semoga dikau senantiasa tersenyum, bahagia, sehat, dan segera dipertemukan dengan jodohnya. Amiin

Tuban, 2 Januari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren