Emha Ainun Najib, atau disapa Cak Nun, dapat dikatakan 'man of the match' atau 'man of the year' di abad ini. Pemikirannya yang 'fresh' dan perjuangannya tiada henti menebarkan pesan perdamaian, dan pesan revolusi. Memberikan lecutan semangat baru di tengah pesimisme masyarakat dan sesatnya pemaknaan Islam di Indonesia.
Semalam, dengan mutelak dunia merayakan tahun baru 2017 (sekaligus merayakan ulang tahun bumi, kalau definisi 'tahun' kita maksudkan umurnya bumi). Berbagai macam acara, gaya, dan atribut turut diciptakan, sekedar mengisi 'warna' dan 'suara' di detik-detik menjelang tahun baru. Saya bersama Farid Bawazir, Bayhaqi Farhan, Wildan Amrin Hidayat, Budiyanto Suprayogi, dan Alaika Sa'dulloh punya akal sendiri, menyambut tahun baru. Yaitu 'lenggah' dan 'nyemak' pengajian dan diskusi Maiyah di pelataran RS. Angkatan Laut Surabaya bersama 'The Man of The Year' itu, Cak Nun.
Sebelumnya, saya kerap merayakan tahun baru dengan menyalakan kembang api, atau berkumpul ke pusat kota lalu menghitung bersama-sama detik demi detik tahun baru, atau bakar-bakar ikan. Hanya saja, semalam, saya merayakan tahun baru dengan berdiskusi (semalam juga diajak Kholid, demisioner ketua Komisariat PMII STAI Ar-Rosyid, bakar-bakar bebek di halaman sekretariat PK PMII STAI Ar-Rosyid. Tapi tidak saya 'iya' kan. Lebih mendahulukan Maiyah). Alih-alih pertamakali menyaksikan (belajar) langsung pada Cak Nun dan Maiyah. Sebab sebelumnya hanya belajar pada Cak Nun dari sumber Youtube.
Bagi saya 'pribadi', ini baru cara menikmati tahun baruan. Karena tahun baru itu kita kan merayakan 'pergantian' tahun, bukan? Sedang kita akan memasuki di tahun yang selanjutnya, yaitu 2017. Dan di setiap momen tahun baru, orang-orang punya resolusinya sendiri. Tentang harapan, perwujudan, dan kemajuan apa di tahun 2017. Kalau tahun baru dimaknai untuk menyemangati diri, dan memajukan diri. Sedangkan, tidak mungkin tidak ada permasalahan dan kekurangan kita di tahun 2016. Sehingga tidak mungkin kita berharap 'lebih maju', tetapi kita tidak memperbaiki kekurangan dan kesalahan kita selama tahun 2016 pada tahun 2017, agar tak terulang agar 'move on' agar lebih dan lebih dari sebelumnya.
"Saudara-saudara, kita tidak sedang mencari siapa yang salah. Semuanya baik pejabat sampai rakyat biasa punya kesalahan dan kebenaran. Mereka tidak mutlak salah, mereka juga tidak mutelak benar. Tetapi kita mencari apa yang salah dan apa yang benar," ujar Cak Nun dengan lantang.
Bersama Cak Nun, di tahun yang baru, jemaah Maiyah (Bangbang Wetan?) diajak mengevaluasi diri dan menganalisis fenomena di Indonesia sepanjang 2016. Dari membahas Al Maidah 51, polemik fatwa institusi keagamaan (sini bilang 'haram' sana bilang 'halal'), hadis tentang persamaan pada kaum, pemerintahan, kemaritiman, sampai ajakan revolusi.
"Sebaiknya, institusi keagamaan dari lembaga bahtsul masa'il NU, lembaga tarjihnya perserikatan Muhammadiyah, dan MUI duduk bersama. Membicarakan fatwa untuk menyikapi suatu persoalan baru. Disanalah tempatnya berargumen, berpendapat, dan 'tukaran'. Baru setelah selesai, dengan hasil fatwa yang matang, baru diserahkan ummat menyantapnya. Bukan membikin fatwa sendiri-sendiri lalu diserahkan ke ummat. Sedang ummat sendiri yang disuruh berdebat, sampai 'tukaran'." Kata Cak Nun dengan nada kecewa.
"Lagian sekarang musimnya tukaran. Sampai pelajar ada pertukaran pelajar!" Pak Suko, moderator, menyelingi penjelasan Cak Nun dengan canda. Disambut tawa jemaah. Bahwa tukar dalam bahasa Indonesia artinya 'ganti' (bisa jadi take and give), sedang dalam bahasa Jawa artinya 'perkelahian'.
Tentang pernyataan Cak Nun berkenaan pertentangan fatwa itu. Kita jadi teringat, warna dan suara (kegaduhan) yang mengisi di sekitar aksi yang konon disebut 'Bela Islam'. Dimana protokoler aksi GNPF-MUI menuntut Ahok agar dipenjarakan karena dianggap menistakan kitab suci agama. Di saat itu, kita melihat masyarakat Indonesia dirundung kekacauan. Dimana ada yang pro dan ada yang kontra.
"Sekarang kalau kita menyelesaikan masalah kan selalu dilihat dari sudut pro dan kontra. Kalau bagi kubu pro semuanya serba benar dan serba baik. Bagi kubu kontra semuanya serba salah dan serba buruk. Ini tidak tepat. Melainkan, mari kita selesaikan permasalahan dari sudut pandang NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Bahwa kita mencari dan menyelidiki apa yang salah dan apa yang benar. Mana yang harus dihilangkan mana yang harus diteruskan." Kata Cak Nun.
Memang, kalau menyelesaikan masalah ditinjau dari pro dan kontra akan menimbulkan perkelahian yang tak berkesudahan. Padahal setiap permasalahan dunia itu sifatnya kompeks. Dan paradoks, tidak bisa dikatakan 100℅ salah, dan tidak bisa 100℅ dibenarkan. Persoalannya, setiap kita berargumen itu bentuknya bukan musyawarah melainkan mengajari. Tidak diterima suatu kebenaran jika tidak darinya. Tapi seharusnya saling mengambil kebaikan dan kebenarannya dari sisi-sisi lain.
Pemerintah sendiri sebagai pengayom rakyat. Seakan lalai dari tanggung jawabnya. Justeru, sikap yang ditunjukan Jokowi sangat populis. Sekedar untuk menurunkan tensi ketegangan ummat. Bukan benar-benar memberi ketegasan kebijaksanaan. Misal, memberikan penjelasan dan pencerahan. Bagaimana status fatwa MUI? Apakah itu setingkat hukum negara dan sama, ataukah hanya sekedar fatwa? Apakah wajib melaksanakan fatwa MUI bagi muslim Indonesia? Dan bagaimana jika mengumpulkan seluruh ulama di Indonesia di berbagai kalangan dan aliran dalam bingkai kebhinekaan?
Tentang kesalahan dan kebenaran itu. Cak Nun berpendapat lagi:
"Kalau kita mencari kebenaran dari sudut pro atau kontra, tak akan selesai. Misal, kalau sudah tidak menyukai Soeharto maka selamanya tidak suka. Tapi mari kita telusuri mana yang baik dari sebuah rezim Orde Baru. Dan mana yang buruk dari Orde Baru."
Kemudian Cak Nun mengajak jemaah untuk revolusi.
"Kita itu membutuhkan pemimpin yang besar. Yang mampu melakukan revolusi dalam segala bidang. Bukan revolusi untuk memenangkan calon (pemimpin). Tapi mencari pemimpin yang mengajak revolusi. Revolusi itu dimulai dari men-set up pemikiran atau soft wear kita. Bukankah kekacauan dalam pembangunan dan tata kelola mula-mula disebabkan karena kekacauan berfikir, sehingga tindakan yang timbul pun kacau."
Yap! Presiden Jokowi sudah menyerukan revolusi, sejak semula mencalonkan diri. Bukan revolusi sembarangan, yaitu revolusi mental. Saya menilai ada keselarasan revolusi yang dimaksud Cak Nun dan Presiden Jokowi. Cak Nun pun berkomentar:
"Kita itu sudah membayar pajak. Pemerintah itu sudah kita bayar. Mbok ya pemerintah yang lebih pro-aktif mensejahterakan. Bukan rakyat disuruh kerja ! Kerja ! Kerja !" Disini nampak jelas apa yang dimaksudkan Cak Nun tentang revolusi berseberangan dengan Presiden Jokowi. Cak Nun mengharapkan semua lembaga bekerja efektif, pro aktif, gesit, dan profesional. Seharusnya, rakyat tanpa diminta bekerja jelas bekerja. Kalau tidak bekerja mereka tak mendapat uang. Kalau tidak dapat nafkah atau uang, rakyat akan kelaparan akan nelangsa. Kalau kelaparan terus menerus maka rakyat akan binasa. Jelas rakyat tidak ingin mati. Bukan pemerintah yang menuntut rakyat, tetapi rakyat yang menuntut pemerintah agar melaksanakan amanat, dan segudang janji-janji sepanjang kampaye.
Sedang pemimpin 'revolusioner' yang diidealkan Cak Nun itu:
"Pemimpin yang revolusioner itu tidak akan dicintai oleh agresor (kapitalisme/kelompok jahat). Justru dibenci. Kalau pemimpin (pejabat) itu dipuji dan dicintai oleh agresor dengan kata lain pemimpin itu didukung agresor. Kalau didukung agresor artinya pemimpin itu mendukung keinginan agresor. Perlu diketahui, anugrah penghargaan berupa nobel, dan penghargaan lain dari asing jangan dijadikan acuan sebuah kemajuan negara. Termasuk menilai pemimpin yang baik berarti pernah mendapat penganugrahan oleh asing. Kita harus punya ukuran kemajuan sendiri." Benar, dan saya setuju. Terkadang memang kita salah mengukur kemajuan. Selalu dibandingkan dan dipersamakan dengan ukuran asing. Padahal asing tidak selalu berangkat dari kepentingan Indonesia. Sehingga ketepatan ukurannya layak diperagukan, walaupun asing memang maju dalam hal IPTEK. Kalau Cak Nun berpendapat (tentang sudut pandang kebenaran) ukuran itu dari sudut pandang "NKRI".
Cak Nun mengajak jemaah agar sadar dan tercerahkan. Pesan revolusi yang disampaikannya, bukan hendak mengajak menggulingkan pemerintahan yang sah. Sebagaimana marak kasus 'makar'. Tetapi menyadarkan bahwa kita Indonesia, kita memiliki hak dan tanggung jawab di Indonesia. Kita menempati, mendiami, dan tinggal di Indonesia bukan sekedar jadi tempat tinggal saja, tetapi menjadi bagian nasionalisme, yang harus kita jaga, kita bela, dan kita perjuangkan.
Selamat tahun baru !
Selamat tahun baru !
Selamat tahun baru !
Di 2017
2017? Hip-hip-hura !
Surabaya, 1 Januari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren