Selasa, 23 Juli 2013

Cukup Berada Di Ruang Kotak Persegi




Sudah dua hari ini saya berada di ruang kotak persegi, tepatnya di Kantot DPW Sarbumusi (Sarekat Buruh Muslimin Indonesia), Jln. Citarum No. 1 Darmokali. Kantor dengan gaya rumah ala Belanda menambah kemegahan dan mengandung nilai sejarah yang begitu tinggi, dengan sekilas memandang 20 atau 30 tahun perjalanan silam di sekitar kantor sudah mampu dibayang-bayangkan dengan daya nalar imajinasi seadanya yang kita miliki. 

Sudah 4 bulan kira-kira saya berada disini, tapi keadaan saya sekarang ini baru pertama kali saya mengalaminya, entah ada urusan keluarga, atau organisasi sehingga saya di sini tinggal seorang. Sebenarnya kemarin ada pertemuan PKL Nasional di sini, karena yang dateng cuman dua biji dengan terpaksa harus dibubarkan dengan cara halus-halus. 

Setelah sahabat dari Bangkalan itu pergi, suasana kantor yang begitu besar dan luas mendadak sunyi, yang ada hanya lah suara-suara motor, mobil, pedagang Tahu Tek, atau anak-anak kecil yang kalau datanngnya waktu sholat isya balap-balapan sepeda pancal di depan kantor. 

Tidak banyak yang saya lakukan di sini. Paling – paling cuman membaca, internetan, atau cari makan, tapi tidak lupa Sholat. Ada buku yang bagi saya sangat penting sekali untuk dibaca, yaitu buku autobiografinya Tan Malaka “Dari Penjara Ke Penjara Jilid satu”, terkadang juga melompat ke bacaan yang lainnya seperti buku novel Anwar Widjojo “2045”, yang mengisahkan seorang pelajar Indonesia yang belajar di negeri Cina. Dari kedua buku itu banyak kesan yang saya dapati. Buku Tan Malaka “Dari Penjara Ke Penjara” yang seakan sata memegang api berkobar, mengandung nilai-nilai humanisme dan patriotisme yang luar biasa. Walau awal penulisan buku tersebut Tan Malaka melakukan dengan setengah hati, karena dia tidak berniat menulis apapun terkait perjalanannnya, tetapi karena desakan dari kawan-kawan seperjuangannya Tan Malaka menulislah dengan sepenuh hati. Ia ingin menyampaikan kepada pembaca setelah generasinya agar tetap menjaga api nasionalisme yang dahulu sudah dikobarkan oleh para pahlawan pendahulu.

Terkadang dalam renungan saya terkait buku “Dari Penjara Ke Penjara” dengan realitas yang ada cukup membangun inspirasi bagi saya sendiri bahwa bangsa ini memang sebenarnya mempunyai harapan kembali untuk maju. Kita sudah dapat formula dari para pahlawan kita, tinggal kita mampu meneruskan apa tidak. Itu pertanyaan yang akan menentukan bangsa ini. Ada kisah tatkala Tan Malaka mendirikan sekolah rakyat bersama Semaun seorang pimpinan PKI Semarang, dan pimpinan Sarikat Sekerja Kereta Api. Tan Malaka berupaya membangun kepribadian bangsa Indonesia agar tidak lembek menghadapi kaum Belanda, dengan menancapkan doktrin dalam sekolah rakyat. Ada tiga tujuan Tan Malaka mendirikan sekolah rakyat, mempertajam kecerdasan, memeperkokoh kemauan, dan memeperhalus perasaan. 

Asumsi Tan Malaka dalam mendirikan sekolah rakyat, mungkin berdasar pengalamannya mengenyam pendidikan di negara kincir angin. Betapa tidak menjadi pengalaman dan satu pondasi pengetahuan untuk Tan Malaka sendiri karena di sana ia mengetahui karakter asli warga Belanda yang selalu ingin menang sendiri. Pernah seketika Tan Malaka tidak terima dengan seorang anak muda yang mengolok-olok orang yang sudah tua, oleh Tan Malaka anak muda tersebut diberi nasuhat dan diberinya hadiah. Dalam autobiografinya Tan Malaka mengungkapkan “Saya tidak begitu tahu, bagaimana dia bisa terpelanting sampai ke dinding?”. “Tetapi seletah kejadian itu, anak itu menjuluki saya “De Tijger” (Sang Harimau). Jelas disini Tan Malaka berangkat dari pengalamannya atas yang dia alami di negara Belanda, karena Tan sadar bahwa karakter masyarakat Indonesia berbanding terbalik dengan Belanda. kalau Belanda inginnya selalu menag sendiri, kalau orang Indonesia dan terkhusus Jawa ingin selalu mengalah. Maka bagi Tan Malaka Indonesia jangan semau-maunya mengalah kepada Belanda. 

Di samping kisah itu, saya menemukan kebenaran hakiki dari epos kemanusiaan yang terkandung dalam autobiografi Tan Malaka. Diceritakan ketika Tan Malaka hendak dibuang ke Eropa, ia dikunjungi oleh G.H Horensma bekas gurunya di Belanda. anehnya Tan Malaka yang ketika itu mengisyarakatkan kepada gurunya agar berhati-hati karena diawasi oleh beberapa penjaga dari pasukan Belanda. tetapi nasehat Tan Malaka segera dibantah langsung oleh Horensma, dengan mengatakan “Biarkan mereka itu, saya juga sudah jenuh dengan semuanya ini”. Tentunya akan menimbulkan keanehan kita senidiri, ketika kita menjadi Tan Malaka waktu itu, berbincang dengan orang Belanda dan Tan Malaka sendiri yang statusnya sebagai buangan. Tapi oleh gurunya ingin membela Tan Malaka, dan ditambah gurunya jenuh dengan prilaku bangsanya. tetapi percakapan hanya akan tinggal percakapan, sayangnya keduanya yang memang sefikiran, sefaham, tidak menjadi seperjuangan karena memang garis perjuangan keduanya yang berbeda.

Dua hari menyepi di kantor Sarbumusi bagi saya menjadi area muhasabah, serta dzkru an-nafs terhadap realita dunia yang sedemikian rupa. Baru-baru kemarin di tengah penyepian saya di sini. Ketika saya membikin status di facebook yang kira-kira begini “Buat Abah, dan umiku jangan tidak usah gusar, karena anakmu sudah tidak mondok lagi. Anakmu sudah terjaga dengan Islam, Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI, dan ditambah ajaran-ajaran tokoh-tokoh Internasional, maupun Nasional yang telah banyak berjasa bagi bangsa ini. Terutama bagi saya. Saya akan terjaga dengan itu semua, penjagaan yang lebih tebal dan kuat dibanding dinding-dinding pondok dan jeruji penjara sekalipun. Penjagaan itu yang akan mengantarkan anakmu”. 

Tak berapa lama dikoment oleh teman saya. Dia menuduh yang tidak-tidak kepada saya, sampai mempertanyakan keercayaan saya. Di akhir komentar saya menimpali dengan kata-kata “Apakah kurang cukup perjalanan Islam 14 abad untuk mengajari kita hakikat hidup ini?”. Tak lama berselang saya membikin status lagi “Apa ilmu-ilmu paling dasar, yan paling bisa dicari oleh seorang miskin, buruh, budak, pengemis, dokter, militer, santri, dan kiai?. Adalah ilmu tanpa biaya, tanpa buku atau kitab, atau tanpa guru sekalipun. Yang ada hanya lah ruang sosial, budaya, dan tradisi. Dan bukunya adalah yang terhampar dalam pandangan kedua bola matanya!”. Saya sadar akan hal itu, mungkin sama dengan apa yang disadari oleh Tan Malaka. Walau ia mendirikan sekolah rakyat tanpa badan hukum yang lengkap, artinya sekolah rakyat tidak bisa menghadiahi ijazah formal kepada siswa setelah mereka selesai menempuh pembelejaran. Tatapi “ilmu” yang akan mereka dapati, ilmu yang akan sangat berguna bagi hari ini, dan hari esok!.

Saya di sini dengan modal Laptop dan wifi tidak sekedar membaca dan berkomunikasi dengan jaringan sosial, tetapi beberapa hari lalu saya memetakan fenomena ekonomi internasional hingga dampaknya tehadap Indonesia yang sedemikian rupa. Baik apa yang saya temukan di Wikipedia berbahasa Indonesia, atau di web Blog mengintepretasikan hal-hal yang terjadi paska perang dunia kedua. Terjadinya rekonsiliasi perdagangan hampir seluruh dunia. Diawali pada 1944 dengan agenda yang dinamakan Konferensi Bretton Woods. Ada sekitar 29 negara yang hadir dalam rapat pembukaan di Amerika tersebut. kebanyakan dari negara-negara tersebut adalah negara yang sebelumnya berkoalisi dengan pihak Amerika pada perang dunia kedua, dan ditambah negara-negara yang lain.  akhirnya dari pertemuan di Amerika tersebut lahirlah dua raksasa organisasi dunia yang maha adigdaya pada sektor ekonomi, yaitu IMF (International Monetery Fund’s), GATT (Generale Aggreemaent Tariff and Trade), dan WB (World Bank). 

Ketiga organisasi itu sangat berdampak besar terhadap perekonomian dunia. Terlebih lagi pada tugas IMF sebagai pemantau keuangan, peminjam dana, dan penyedia tenaga suply  bagi negara yang benar-benar dilanda krisis, menjadi berperan vital. Bagaimana tidak, bahwa hak ekonomi yang sebelumnya di pegang oleh negara masing-masing terntara harus dibagi-bagikan dengan pihak asing. Anehnya dalam IMF adalah setiap negara yang ikut serta dalam PBB secara otomatis akan menjadi anggota dalam IMF, saya kurang begitu faham tetapi jelasnya ada skesnario politik semacam apa yang akan dipraktekan oleh pihak asing, terutama Amerika sendiri. Ada beberapa negara yang secara tegas keluar dari barisan IMF karena ada kecenderungan untuk memonopoli perdagangan, walau dengan cara tak langsung. pada tahun 2007 Presiden Ekuador Rafael Correa hengkang dari IMF, dan disusul (Almarhum)  presiden Venezuela Huga Chaves (yang baru saja meninggal dunia). 

Dari sini saya benar-benar sadar. Keadaan damai saat sekarang yang tanpa paksaan, tanpa intimidasi, tanpa penindasan seperti zaman-zaman sebelumnya, dimana hukum terdahulu tidak bisa berdiri setegak-tegaknya. Ternyata zaman sekarang masih ada wujud (tak langsung) dari praktek penindasan itu, mungkin caranya memang terbilang samar-samar dan bersifat persuatif sekali, tetapi dampak dari praktek, konspirasi-konspirasi tersebut yang ternyata tidak ada bedanya dengan keadaan tempo dulu.

Ringkasnya, dalam pemyepian saya ini. Banyak hal yang mampu saya tangkap, saya fahami, dan saya resapi. Tidak ada di dunia ini yang langgeng, tentang apa yang diperjuangkan para pahlawan kita terdahulu dengan beragam manifestasi nasionalisme yang diwujudkan berupa ideologi Pancasila dan UUD 1945, ternyata tidak menjadi penghapus seluruh kebinalan dari organ kehidupan yang sama-sama kita benci, penindasan. Malah menjadi beban dan persoalan bangsa selanjutnya, karena bangsa ini tidak berhenti pada satu titik saja. Tetapi terus menerus mengalir. Tesis yan dilakukan pihak kolonial Belanda dengan menggempur rakyat Indonesia sehinnga mampu dikuasi, harus takluk dan tunduk dengan Anti-tesis dari Proklamasi, Pancasila, dan UUD 45, dan menghasilkan sebuah sintesis berupa wujud kemerdekaan, kesejahteraan, dan keadilan. Tetapi apa yang menjadi sintesis bagi Indonesia berupa kemerdekaan dengan wujud Pancasila, UUD, dan lain-lainnya tidak mampu tetap langgeng menjadi sintesis, yang kemudian berganti tesis, dan akan ditentang berupa anti-tesis. Siapa anti-tesis yang akan menentang UUD 45, Pancasila dan sebagainya, saya rasa tak perlu dipertanyakan. Bagaimanapun Pancasila, dan UUD 45 ditentang, akan tetap langgeng bagi Indonesia. karena keduanya menjadi pusaka konstitusi abadi, dan ruh bagi Indonesia.

# padahal saya cuman sendirian di Kantor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren