Sudah
dua hari ini saya berada di ruang kotak persegi, tepatnya di Kantot DPW
Sarbumusi (Sarekat Buruh Muslimin Indonesia), Jln. Citarum No. 1 Darmokali.
Kantor dengan gaya rumah ala Belanda menambah kemegahan dan mengandung nilai
sejarah yang begitu tinggi, dengan sekilas memandang 20 atau 30 tahun
perjalanan silam di sekitar kantor sudah mampu dibayang-bayangkan dengan daya
nalar imajinasi seadanya yang kita miliki.
Sudah
4 bulan kira-kira saya berada disini, tapi keadaan saya sekarang ini baru
pertama kali saya mengalaminya, entah ada urusan keluarga, atau organisasi
sehingga saya di sini tinggal seorang. Sebenarnya kemarin ada pertemuan PKL
Nasional di sini, karena yang dateng cuman dua biji dengan terpaksa harus dibubarkan
dengan cara halus-halus.
Setelah
sahabat dari Bangkalan itu pergi, suasana kantor yang begitu besar dan luas
mendadak sunyi, yang ada hanya lah suara-suara motor, mobil, pedagang Tahu Tek,
atau anak-anak kecil yang kalau datanngnya waktu sholat isya balap-balapan
sepeda pancal di depan kantor.
Tidak
banyak yang saya lakukan di sini. Paling – paling cuman membaca, internetan,
atau cari makan, tapi tidak lupa Sholat. Ada buku yang bagi saya sangat penting
sekali untuk dibaca, yaitu buku autobiografinya Tan Malaka “Dari Penjara Ke
Penjara Jilid satu”, terkadang juga melompat ke bacaan yang lainnya seperti
buku novel Anwar Widjojo “2045”, yang mengisahkan seorang pelajar Indonesia
yang belajar di negeri Cina. Dari kedua buku itu banyak kesan yang saya dapati.
Buku Tan Malaka “Dari Penjara Ke Penjara” yang seakan sata memegang api
berkobar, mengandung nilai-nilai humanisme dan patriotisme yang luar biasa.
Walau awal penulisan buku tersebut Tan Malaka melakukan dengan setengah hati,
karena dia tidak berniat menulis apapun terkait perjalanannnya, tetapi karena
desakan dari kawan-kawan seperjuangannya Tan Malaka menulislah dengan sepenuh
hati. Ia ingin menyampaikan kepada pembaca setelah generasinya agar tetap
menjaga api nasionalisme yang dahulu sudah dikobarkan oleh para pahlawan
pendahulu.
Terkadang
dalam renungan saya terkait buku “Dari Penjara Ke Penjara” dengan realitas yang
ada cukup membangun inspirasi bagi saya sendiri bahwa bangsa ini memang
sebenarnya mempunyai harapan kembali untuk maju. Kita sudah dapat formula dari
para pahlawan kita, tinggal kita mampu meneruskan apa tidak. Itu pertanyaan
yang akan menentukan bangsa ini. Ada kisah tatkala Tan Malaka mendirikan
sekolah rakyat bersama Semaun seorang pimpinan PKI Semarang, dan pimpinan
Sarikat Sekerja Kereta Api. Tan Malaka berupaya membangun kepribadian bangsa
Indonesia agar tidak lembek menghadapi kaum Belanda, dengan menancapkan doktrin
dalam sekolah rakyat. Ada tiga tujuan Tan Malaka mendirikan sekolah rakyat,
mempertajam kecerdasan, memeperkokoh kemauan, dan memeperhalus perasaan.
Asumsi
Tan Malaka dalam mendirikan sekolah rakyat, mungkin berdasar pengalamannya
mengenyam pendidikan di negara kincir angin. Betapa tidak menjadi pengalaman
dan satu pondasi pengetahuan untuk Tan Malaka sendiri karena di sana ia
mengetahui karakter asli warga Belanda yang selalu ingin menang sendiri. Pernah
seketika Tan Malaka tidak terima dengan seorang anak muda yang mengolok-olok
orang yang sudah tua, oleh Tan Malaka anak muda tersebut diberi nasuhat dan
diberinya hadiah. Dalam autobiografinya Tan Malaka mengungkapkan “Saya tidak
begitu tahu, bagaimana dia bisa terpelanting sampai ke dinding?”. “Tetapi
seletah kejadian itu, anak itu menjuluki saya “De Tijger” (Sang Harimau). Jelas
disini Tan Malaka berangkat dari pengalamannya atas yang dia alami di negara
Belanda, karena Tan sadar bahwa karakter masyarakat Indonesia berbanding
terbalik dengan Belanda. kalau Belanda inginnya selalu menag sendiri, kalau
orang Indonesia dan terkhusus Jawa ingin selalu mengalah. Maka bagi Tan Malaka
Indonesia jangan semau-maunya mengalah kepada Belanda.
Di samping kisah itu,
saya menemukan kebenaran hakiki dari epos kemanusiaan yang terkandung dalam
autobiografi Tan Malaka. Diceritakan ketika Tan Malaka hendak dibuang ke Eropa,
ia dikunjungi oleh G.H Horensma bekas gurunya di Belanda. anehnya Tan Malaka
yang ketika itu mengisyarakatkan kepada gurunya agar berhati-hati karena
diawasi oleh beberapa penjaga dari pasukan Belanda. tetapi nasehat Tan Malaka
segera dibantah langsung oleh Horensma, dengan mengatakan “Biarkan mereka itu,
saya juga sudah jenuh dengan semuanya ini”. Tentunya akan menimbulkan keanehan
kita senidiri, ketika kita menjadi Tan Malaka waktu itu, berbincang dengan
orang Belanda dan Tan Malaka sendiri yang statusnya sebagai buangan. Tapi oleh
gurunya ingin membela Tan Malaka, dan ditambah gurunya jenuh dengan prilaku
bangsanya. tetapi percakapan hanya akan tinggal percakapan, sayangnya keduanya
yang memang sefikiran, sefaham, tidak menjadi seperjuangan karena memang garis
perjuangan keduanya yang berbeda.
Dua
hari menyepi di kantor Sarbumusi bagi saya menjadi area muhasabah, serta
dzkru an-nafs terhadap realita dunia yang sedemikian rupa. Baru-baru
kemarin di tengah penyepian saya di sini. Ketika saya membikin status di facebook
yang kira-kira begini “Buat Abah, dan umiku jangan tidak usah gusar, karena
anakmu sudah tidak mondok lagi. Anakmu sudah terjaga dengan Islam, Pancasila,
Undang-undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI, dan ditambah
ajaran-ajaran tokoh-tokoh Internasional, maupun Nasional yang telah banyak
berjasa bagi bangsa ini. Terutama bagi saya. Saya akan terjaga dengan itu
semua, penjagaan yang lebih tebal dan kuat dibanding dinding-dinding pondok dan
jeruji penjara sekalipun. Penjagaan itu yang akan mengantarkan anakmu”.
Tak berapa lama
dikoment oleh teman saya. Dia menuduh yang tidak-tidak kepada saya, sampai
mempertanyakan keercayaan saya. Di akhir komentar saya menimpali dengan
kata-kata “Apakah kurang cukup perjalanan Islam 14 abad untuk mengajari kita
hakikat hidup ini?”. Tak lama berselang saya membikin status lagi “Apa
ilmu-ilmu paling dasar, yan paling bisa dicari oleh seorang miskin, buruh,
budak, pengemis, dokter, militer, santri, dan kiai?. Adalah ilmu tanpa biaya,
tanpa buku atau kitab, atau tanpa guru sekalipun. Yang ada hanya lah ruang
sosial, budaya, dan tradisi. Dan bukunya adalah yang terhampar dalam pandangan
kedua bola matanya!”. Saya sadar akan hal itu, mungkin sama dengan apa yang
disadari oleh Tan Malaka. Walau ia mendirikan sekolah rakyat tanpa badan hukum
yang lengkap, artinya sekolah rakyat tidak bisa menghadiahi ijazah formal
kepada siswa setelah mereka selesai menempuh pembelejaran. Tatapi “ilmu” yang
akan mereka dapati, ilmu yang akan sangat berguna bagi hari ini, dan hari esok!.
Saya
di sini dengan modal Laptop dan wifi tidak sekedar membaca dan
berkomunikasi dengan jaringan sosial, tetapi beberapa hari lalu saya memetakan
fenomena ekonomi internasional hingga dampaknya tehadap Indonesia yang
sedemikian rupa. Baik apa yang saya temukan di Wikipedia berbahasa Indonesia,
atau di web Blog mengintepretasikan hal-hal yang terjadi paska perang dunia
kedua. Terjadinya rekonsiliasi perdagangan hampir seluruh dunia. Diawali pada
1944 dengan agenda yang dinamakan Konferensi Bretton Woods. Ada sekitar 29
negara yang hadir dalam rapat pembukaan di Amerika tersebut. kebanyakan dari
negara-negara tersebut adalah negara yang sebelumnya berkoalisi dengan pihak
Amerika pada perang dunia kedua, dan ditambah negara-negara yang lain. akhirnya dari pertemuan di Amerika tersebut
lahirlah dua raksasa organisasi dunia yang maha adigdaya pada sektor ekonomi,
yaitu IMF (International Monetery Fund’s), GATT (Generale Aggreemaent Tariff
and Trade), dan WB (World Bank).
Ketiga
organisasi itu sangat berdampak besar terhadap perekonomian dunia. Terlebih
lagi pada tugas IMF sebagai pemantau keuangan, peminjam dana, dan penyedia
tenaga suply bagi negara yang
benar-benar dilanda krisis, menjadi berperan vital. Bagaimana tidak, bahwa hak
ekonomi yang sebelumnya di pegang oleh negara masing-masing terntara harus
dibagi-bagikan dengan pihak asing. Anehnya dalam IMF adalah setiap negara yang
ikut serta dalam PBB secara otomatis akan menjadi anggota dalam IMF, saya
kurang begitu faham tetapi jelasnya ada skesnario politik semacam apa yang akan
dipraktekan oleh pihak asing, terutama Amerika sendiri. Ada beberapa negara
yang secara tegas keluar dari barisan IMF karena ada kecenderungan untuk
memonopoli perdagangan, walau dengan cara tak langsung. pada tahun 2007
Presiden Ekuador Rafael Correa hengkang dari IMF, dan disusul (Almarhum) presiden Venezuela Huga Chaves (yang baru
saja meninggal dunia).
Dari sini saya
benar-benar sadar. Keadaan damai saat sekarang yang tanpa paksaan, tanpa
intimidasi, tanpa penindasan seperti zaman-zaman sebelumnya, dimana hukum
terdahulu tidak bisa berdiri setegak-tegaknya. Ternyata zaman sekarang masih
ada wujud (tak langsung) dari praktek penindasan itu, mungkin caranya memang
terbilang samar-samar dan bersifat persuatif sekali, tetapi dampak dari
praktek, konspirasi-konspirasi tersebut yang ternyata tidak ada bedanya dengan
keadaan tempo dulu.
Ringkasnya,
dalam pemyepian saya ini. Banyak hal yang mampu saya tangkap, saya fahami, dan
saya resapi. Tidak ada di dunia ini yang langgeng, tentang apa yang
diperjuangkan para pahlawan kita terdahulu dengan beragam manifestasi
nasionalisme yang diwujudkan berupa ideologi Pancasila dan UUD 1945, ternyata
tidak menjadi penghapus seluruh kebinalan dari organ kehidupan yang sama-sama
kita benci, penindasan. Malah menjadi beban dan persoalan bangsa selanjutnya,
karena bangsa ini tidak berhenti pada satu titik saja. Tetapi terus menerus
mengalir. Tesis yan dilakukan pihak kolonial Belanda dengan menggempur rakyat
Indonesia sehinnga mampu dikuasi, harus takluk dan tunduk dengan Anti-tesis
dari Proklamasi, Pancasila, dan UUD 45, dan menghasilkan sebuah sintesis berupa
wujud kemerdekaan, kesejahteraan, dan keadilan. Tetapi apa yang menjadi
sintesis bagi Indonesia berupa kemerdekaan dengan wujud Pancasila, UUD, dan
lain-lainnya tidak mampu tetap langgeng menjadi sintesis, yang kemudian
berganti tesis, dan akan ditentang berupa anti-tesis. Siapa anti-tesis yang
akan menentang UUD 45, Pancasila dan sebagainya, saya rasa tak perlu
dipertanyakan. Bagaimanapun Pancasila, dan UUD 45 ditentang, akan tetap
langgeng bagi Indonesia. karena keduanya menjadi pusaka konstitusi abadi, dan
ruh bagi Indonesia.
#
padahal saya cuman sendirian di Kantor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren