Sabtu, 31 Desember 2016

TAHUN BARUAN YANG BERBEDA

Siapa bilang tahun baru harus dirayakan dengan hip-hip-hura. Tahun baru justru menjadi momentum introspeksi dan evaluasi. Sadar tidak sadar semakin umur bumi dan umur semesta bertambah, semakin daya kekuatannya merosot. Seperti manusia yang menua, dan ditutup dengan kematian.

Tidak perlu kita mendatangi pusat kota, berjingkrak, keplak-keplok, dan cengingisan. Lantaran menyambut di tahun yang baru dengan penuh keyakinan akan mendatangkan kebahagiaan yang lebih.

Seperti di Cina, menyebut 2017 sebagai tahun 'Ayam' (Cina menjadikan Donald Trump sebagai maskot 2017, sehingga simbol Ayam di 2017 didesign mirip Trump. Tidak percaya? Baca Jawa Pos). Dimana ciri khas ayam sebagai unggas yang menetaskan telur, untuk menyuplai bahan makanan dan di sisi lain guna melahirkan generasi selanjutnya. Masyarakat Cina mengharapkan rejeki durian di 2017.

Itu anggapan kita, yang spekulatif yang tidak berdasar pada kenyataan sebelumnya. Seandainya di 2016 kinerja kita tidak bagus: malas-malasan, telat datang kerja, hidup boros, dan bersenang-senang. Bagaimana bisa mengharapkan di 2017 kita bernasib baik.

Nol persen!

Jadi, tidak perlu lah kita rayakan tahun yang baru di pusat kota atau di lapangan atau di pelataran rumah lalu membakar petasan yang menyakiti langit, dan mengganggu orang tidur. Betapa boros dan sia-sia dan jahat sekali.

Tapi, cukuplah kita mengajak beberapa anggota keluarga kita atau rekan terdekat kita berkumpul atau sendirian. Duduk melingkar di dalam rumah, atau ruangan apa saja. Lampu dimatikan, dalam kondisi gelap, dan hanya lilin yang dibiarkan berpijar. Betapa hemat dan syahdu!

Di sana kita merenung.

Kita mencoba mengajak bertukar pandang dengan saudara tentang 2016 dan resolusi di 2017. Kemudian, antara satu saudara dengan saudara lain saling mengoreksi (bukan menghujat) kekurangan selama 2016 ini. Mana-mana yang patut diperbaiki, dan mana-mana yang harus diapresiasi dan diteruskan lagi. Kira-kira kita akan tahu gambaran kaleidoskop atau catatan kehidupan sehari-hari, dari mulut dan perasaan saudara lain, dari awal sampai akhir 2016.

Dengan mengetahui titik kekurangan kita. Bukan berarti kita tidak dapat menikmati dan menyambut tahun yang baru dengan bahagia. Malah kita akan merasa lega karena telah jujur pada diri sendiri. Tentang siapa dan bagaimana kita selama ini? Bukan menutup-nutupi kesedihan yang dibalut dengan ucapan-ucapan 'selamat', terompet, petasan, dan bakar-bakar ikan. Sedangkan kita tidak tahu, atau enggan tahu, kekurangan dan kelemahan kita selama ini. Dan seandainya kita tahu, tapi mengulur-ulur waktu untuk dikoreksi, karena pahit bukan mengoreksi kekurangannya sendiri.

Baru setelah kita jujur mengakui kekurangan diri. Dapatlah kita nikmati sebenar-benarnya tahun yang baru dengan penuh optimis.

Mari lah kita menyambut tahun yang baru dengan penuh kesadaran dan kejujuran. Bahwa tahun yang lewat (2016) tidak akan kembali. Maka tidak ada kesempatan memutar balik catatan sejarah, sebab telah terpahat dalam ingatan semesta. Hanya, dan hanya di 2017 kesempatan kita membenahi, memperbaiki, dan mengubah lebih dan lebih baik lagi. Tidak ada kesempatan datang dua kali. Tidak ada 2017 datang dua kali. Semangat dan manfaatkan!

Penulis adalah Much. Taufiqillah Al Mufti. Biasanya di panggil Muvti. Dia memiliki resolusi 2017 yang berbunyi: Berharap dilipatgandakan kesulitan dan tantangan terhadap diri saya (Muvti). Agar saya selalu mawas diri, introspeksi, dan terus tiada henti meningkatkan kualitas kepribadian. Penulis sadar betul bahwa masalah yang semakin sulit akan dibebankan pada yang mampu. Dan semakin orang itu besar, semakin besar masalah dan kesulitannya. Tapi jangan cari-cari masalah yuaaa! ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren