Di kantor kependudukan Kecamatan Semarang Tengah, saya berpapasan dengan seorang ibu yang beranak. Di luar pintu masuk, satu tangan ibu itu memegang gagang pintu, dan tangan lain melepas sepasang sandalnya. Dan masuk ruangan dengan cakar ayam. Dalam hati: betapa rendah dirinya ibu ini!
Mungkin diibaratkannya, kantor kecamatan bak peribadatan yang suci atau tempat persinggahan raja-raja. Padahal bukankah di kecamatan dan kantor pemerintahan lain marak diisukan terjadi tindak suap-menyuap? Sehingga tak perlu disakralkan hanya kantor pemerintahan, minim dari nuansa kerohanian dan keangkeran feodalistik. Ibu itu dengan rendah dirinya melepas sandal. Mungkin karena sandalnya tidak bermerk dan mungkin karena tidak ingin mengotori lantai, baik hati sekali.
Ibu itu masuk ruang dengan cakar ayam dan berjalan membongkok dengan kepala menunduk. Seketika saya menyambar sandal ibu tadi.
"Bu, permisi!" Saya meletakan sandalnya tepat di bibir jari kakinya, "Pakai saja ya Bu."
Ibu itu mengenakannya kembali.
"Iya Bu pakai Bu," salah seorang petugas kantor menggenapkan. Ibu itu tak ragu-ragu mengenakan sandal.
Wajah Indonesia saat itu terhampar dalam gambar imajinasiku. Tentang masyarakatnya, umumnya, yang inlander atau berjiwa budak. Yang selalu merasa kalah dan mengalah, pada siapa saja. Dan pada orang yang berniat jahat sekalipun.
Ada pepatah filosofis masyarakat Indonesia, yakni: nrimo ing pandum atau menerima apa adanya. Dalam terminologi Islam berarti 'qonaah'. Petuah yang sebenarnya adiluhung karena sarat makna positif dan mengandung spirit kebudayaan yang kental. Di kemudian hari bergeser terlampau jauh. Sampai-sampai diterjemahkan dalam arti sempit: pasrah.
Menyaksikan ibu yang memasuki ruang kantor kecamatan dengan cakar ayam. Menunjukan beban hidup sehari-hari, dan kompleksitas pikiran akan ketidakpastian di masa-masa mendatang - Ia hanya bisa pasrah pada segalanya. Itu bagian hadiah era VUCA, sebuah bencana, bagi orang yang terlalu rendah diri. Orang yang tidak siap akan tergilas habis oleh gejolak dan ketidakpastian hidup.
Satu sisi, sikap yang ditunjukan oleh ibu tadi bagian dari yang namanya: etika. Jadi saya teringat pada sebuah pernyataan seorang teman kepada saya. "Sebenarnya santri (pelajar pesantren) itu hebat. Indonesia tanpa santri tak akan merdeka. Sayang santri itu terlalu rendah diri."
Saya pun menyanggah pernyataan yang apriori dan subjektif itu dengan sanggahan yang rasional dan kritis.
"Loh para santri itu merendah karena memang itu etika. Bukan mental mereka ya! Mental santri bukan rendahan ya!"
Dalam Islam tidak dibenarkan pasrah secara totalitas. Mungkin ibu yang di kantor kecamatan beranggapan semua sudah diatur 'sing kuoso'. Sebab takdir seseorang tidak selalu ditentukan Tuhan. Melainkan ada takdir yang bisa diusahakan oleh seseorang, itu namanya takdir tasyri'. Bukan takdir takwin yang bersifat absolut, faktual, dan historis. Seperti: dimana kita dilahirkan? Misal Jakarta. Tidak bisa menuntut supaya takdirkan lahir di Afrika atau Inggris.
Menghadapi era VUCA (gejolak, tidak pasti, kompleks, dan ambigu) bila tidak memiliki kesiapan mental dan kepribadian yang tangguh dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi akan mudah terombang ambing dan ambruk tak berdaya. Pun akan disayangkan jika terlalu mendahulukan sikap berpasrah (takdir takwin). Melainkan mendahulukan usaha (takdir tasyri'), baru kemudian berpasrah atau menyerahkan diri (tawakal).
"Faidza azamta fatawakkal 'ala Allah," kalam Qur'an
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
keren