Kamis, 29 Desember 2016

BAGAIMANA GERAKAN SOSIAL DI TENGAH VUCA?

Tren gerakan sosial baru-baru ini mengalami perubahan, kalau boleh dikata: kemunduran. Tren gerakan sosial lebih bersifat reaksioner, kapitalistik dan populis. Wujudnya: ide dan visi gerakan sosial tidak lagi bersifat makro, tapi mikro. Bukan lagi revolusioner tapi reaksioner. Bukan lagi kontinuitas tapi temporal. Bukan lagi bersifat global tapi sektoral. Inilah dinamika gerakan sosial yang terjadi di era VUCA.

Istilah VUCA sangat akrab di dunia militer AS, saat itu, dan kemudian dipakai di dunia bisnis. Sebab arti kepanjangannya yang mampu mendefinisikan kondisi zaman terkini. Diantaranya: Voltaire (bergejolak), Uncertainty (ketidakpastian), Complex (kompleks), Ambiguity (Ambigu). Tidak mengherankan kan jika di masa VUCA saat ini, telah merambat pada gerakan sosial yang serba bergejolak. Dari sudut pandang ini saya menganalisis gerakan sosial yang berkembang sekarang.

Aksi Bela Islam, jika bisa disebut gerakan sosial, hingga berjilid tiga. Adalah bukti salah satu tren gerakan sosial di era VUCA. Dapat dikatakan masa aksi yang tergabung, yang mengatasnamakan GNPF-MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa - MUI), untuk menuntut hukuman bagi penista agama, yakni Ahok sebagai tersangka, karena melecehkan Qur'an, yaitu bersifat temporal. Tidak berkelanjutan. Pertanyaannya, apabila fatwa MUI tuntas dilaksanakan maka bubar pula barisan GNPF-MUI? Itu pertama.

Kedua, Aksi Bela Islam itu dapat tergolong aksi yang reaksioner. Para masa aksi hanya memedulikan bahwa ini aksi murni demi Islam. Padahal di belakangnya, jika mau berfikir sederhana, ada background 'Pilkada DKI Jakarta'. Tapi mereka tidak peduli, mereka tetap aksi, demi tegaknya kebenaran, dan demi kejayaan Islam. Parahnya, tidak sedikit, mereka menyebut itu jihad.

Meskipun aksi yang berlabel Islam. Tapi tidak mewakili hajat dan nurani seluruh nafas ummat se Indonesia. Karena tidak seluruh ormas Islam mendukung aksi tersebut. NU salah satunya penolak. Jelas Aksi Bela Islam ini bersifat parsial bukan universal.

Padahal masa aksi yang tergabung kebanyakan bagian dari kelas menengah dan proletariat yang kurang mendapat kesejahteraan dan kekayaan. Kenapa mereka tidak lebih menarik diri untuk membahas dan aksi seputar isu kesejahteraan yang sangat menyangkut hajat hidupnya dan keluarganya.

Bukankah dapat disebut kemunduran? Bilamana gerakan sosial sendiri terlepas dari isu ekonomi dan politik yang melingkupi.

Artinya, tren gerakan sosial terkini, tidak lagi dan jauh dari semangat revolusioner. Tapi reaksioner. Sebab revolusi mengimajinasikan suatu perubahan yang mendasar, yaitu merubah tatanan nilai. Hingga perubahan pada tata kelola sistem. Tidak jarang 'revolusi' sarat pertumpahan darah, karena orang-orang yang telah mapan dan nyaman dengan posisinya enggan diganggu apalagi digeser. Sedang di era VUCA, hampir keseluruhan manusia di dunia, nyaman dengan sistem yang berkembang. Jika ada perubahan hanya pada kedaulatan dan arus politik.

Tidak hanya itu, gerakan sosial yang didukung kemajuan teknologi komunikasi tidak lagi bersifat aktif melainkan pasif. Mulai membanjirnya lembaga penyalur infaq, zakat, qurban, dan shadaqoh adalah bukti nyata. Bagaimana gerakan sosial yang dahulu langsung terjun ke lapangan atau live in, tapi kini tak perlu susah terjun ke lapangan, dan cukup mengirim transfer kapital.

Atau lebih pasif lagi dengan cukup menyematkan hastag: #prayforrohingya #saveaceh atau #savekendeng pada kolom status media sosial. Tapi sebenarnya tidak pernah turun langsung membela (minimal dengan tulisan) komunitas Islam Rohingya dan menolong korban gempa Aceh.

Apresiasi

Sampai detik ini ibu-ibu petani di sekitar pegunungan Kendeng mendirikan tenda di depan Pemprov Jawa Tengah dengan tuntutan: tutup pabrik semen!

Aksi ini sangat perlu diapresiasi. Di tengah era VUCA yang serba bergejolak dan tak pasti. Ada komunitas dari kelas petani, kaum marhaen (meminjam bahasa Bung Karno), secara suka rela terus menerus (kontinuitas) dari 2014-an sejak diedarkan kabar didirikan pabrik semen sampai sekarang ini. Sampai perjuangannya membuahkan hasil: keputusan Mahkamah Agung membatalkan izin pendirian pabrik, karena dampak ekosistem lingkungan dan perkembangan ekonomi petani.

Aksi ibu-ibu Kendeng itu, seolah memberikan penyegaran kembali bagi aktivis gerakan akan ketulusan dan perjuangan menjadi martir yang langka di era VUCA ini. Dimana para aktivis gerakan ini, kebanyakan, lebih mencari posisi aman dan nyaman. Dan berada di pucuk mercusuar dari pada mendarat langsung di medan perjuangan.

Demi menjawab tantangan di era VUCA. Gerakan sosial tidak mesti mengacuhkan perubahan dinamika sosial, ekonomi dan politik yang begitu tak pasti. Karena sikap yang dibutuhkan untuk menghadapi VUCA ialah penyesuaian. Selama gerakan sosial ini mampu menyesuaikan perkembangan zaman termutakhir. Maka gerakan sosial tidak akan 100℅ kehilangan sifatnya yang revolusioner.

Penulis: Much. Taufiqillah Al Mufti, asli Semarang. Kuliah di UIN SA Surabaya. Aktivis di PMII Surabaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren