Kamis, 29 Desember 2016

CUMAN MENGINGATKAN AHOK ITU POLITISI YA!

"Wis ndak niat jadi gubernur Ahok ini. Omongane aneh-aneh." Kata seorang pedagang bakso, yang bersebelahan dengan saya, di sebuah kedai kopi di Surabaya.

Gubernur DKI Jakarta satu ini memang kerap bertindak kontroversial. Dari sikap dan ujarannya di media yang sarkas dan keras. Ia begitu tegas menyatakan kritik. Tidak heran, gaungnya sampai terdengar santer sampai pedagang bakso tahu!

Sikapnya yang keras, disiplin dan kritis itu - mungkin karena kultur antropologis masyarakat Cina. Ahok dielu-elukan sebagai calon gubernur DKI Jakarta dari jalur independen. Sesuatu yang bersifat fantasi dan imajinatif, DKI Jakarta dipimpin gubernur terpilih dari jalur independen.

Terlepas watak dan gaya Ahok, ia tetap seorang manusia dan lebih-lebih politisi. Disini saya teringat buku Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis. Menurutnya, salah satu ciri manusia Indonesia ialah: munafik. Jika di masa Orde Baru dikenal istilah: ABS alias Asal Bapak Senang.

Di luarnya, Ahok jelas jauh dari predikat ABS itu. Sebab ia tidak sekedar kerja formal tapi juga kerja konkrit. Jelas bukan? Di setiap rapat anggaran ia merekamnya dan mengupload di Youtube. Ia bangun DKI Jakarta bukan sekedar mimpi, tapi sungguh, sungguh-sungguh menggusur lahan rakyat. Itu demi tercapai cita-cita pembangunan. Sungguh raja tega! Satu sisi ada benarnya, demi cita-cita pembangunan, demi DKI Jakarta, demi NKRI, demi nasionalisme, dan seterusnya.

Alih-alih Ahok gubernur bertangan besi sehingga layak dibenci dan dimusuhi rakyat DKI Jakarta. Malah mendapat pujian dan penghargaan karena mampu mengatur, menertibkan, dan membersihkan DKI Jakarta.

Sekali lagi layak bukan? Jika Ahok menjadi calon independen. Sampai, di kemudian hari, terbentuk tim pemenangan bernama 'Teman Ahok' untuk mewujudkan impian rakyat DKI Jakarta, barangkali Ahok sendiri, memenangkan pilgub DKI Jakarta.

Elit-elit partai gelisah dan kebingungan melihat polah tingkah Ahok - terkhusus partai Gerindra yang sejak awal kontra. Karena tidak menggandeng parpol sebagai rekan pendukung pemenangan. Otomatis relasi kekuasaan elit parpol di tingkat provinsi DKI Jakarta, terancam kepunahan!

Kebuntuan elit parpol tak mampu meminang Ahok menjadi calon gubernur sah dari partainya. Pada akhirnya berpuncak, dengan proses dan sebab yang tidak jelas, Ahok menerima pinangan partai Golkar. Secara langsung disandingkan PDI-P sebagai partai incumbent, pemegang kekuasaan.

'Teman Ahok' yang diawal sangat progresif mengawal pemilihan gubernur dan mengumpulkan KTP rakyat DKI Jakarta demi Ahok demi independensi,  akhirnya tenggelam! Mimpi dan segudang slogan tentang independen pun pecah berkeping-keping. Satu demi satu relawan berguguran, mencari cadangan oksigen, ada yang sekarat sambil mengumpat: "Ahok tetap saja politisi!"

Surabaya, Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

keren