Kamis, 17 Mei 2012

IAIN Sunan Ampel; Kampus Reformis



Awal mula saya mengikuti bangku kuliah yang masih teramat asing bagi saya, karena program pendidikannya yang juga baru kali ini saya rasakan dengan model presentasi yaitu seorang mahasiswa yang menerangkan dan mahasiswa lainnya sebagai pendengar dan juga sebagai peserta diskusi. Saya lebih menyukai istilah diskusi, sebab suasana perkuliahan yang begitu hangat manakala dari salah satu mahasiswa bertanya dan lainnya menyangkal dan terus menerus berputar hingga terbentuk suasana yang begitu dinamis dan jarang ada model pendidikan yang mengutamakan subjek sebagai tokoh yang berperan penting dalam proses pendidikan.

Sekilas demikian deskripsi awal saya mengenai IAIN sebagai kawah condro dimuko, perguruan tinggi yang menggodok intelektual dan emosional mahasiswa manakala tengah berproses dalam perkuliahan. Nalar mahasiswa digodok untuk selalu berfikir kritis dalam menanggapi suatu wacana dan mahasiswa sebagai agent of change dituntut untuk dapat mentranformasikan ke-kritisannya kepada pihak yang bersangkutan untuk kemudian dapat diluruskan

Disamping mahasiswa yang memiliki amanat sebagai agen of change yang sudah tertanamkan semenjak OSCAAR atau OSPEK oleh para protokoler manakala mengarahkan calon-calon mahasiswa yang belum tahu mengenai tugasnya sebagai mahasiswa yang bukan sekedar mencari kerja, dan juga menanamkan kepada mereka idealisme mahasiswa yang berkarakter. Tentu di IAIN sendiri memiliki karakteristik dan idealisme tersendiri yang berbeda dengan kampus-kampus lainnya seperti UNAIR, ITS, UBHARA, UNESA, dan UNSURI dalam mencetak kader-kader penerus bangsa yang akan mengemban tugas bangsa di masa depan.

Tri Dharma Sebagai Ideologi

Karakter khas dari IAIN sendiri yang mencolok dari pada kampus lain dapat kita jumpai dalam pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Layaknya sebuah negara Indonesia yang menganut Pancasila sebagai ideologi yang bersifat impreatif dan pemersatu bangsa ini dari rawannya perpecahan sebab multikutural yang sangat sulit untuk dielakkan. Maka demikian dengan perguruan tinggi, khususnya kampus IAIN yang sampai hari ini masih memegang teguh Tri Dharma Perguruan Tinggi. Indikator bahwa IAIN masih memiliki totalitas dalam aktualisasi Tri Dharma, dapat kita nilai dari maraknya organisasi yang selalu aktif dalam melakukan kegiatan-kegiatan kajian atau diskusi saling menukar wawasan. Hal ini menjadi satu sebab IAIN menjadi pengamal Tri Dharma yang sholeh dan taat. Sedangkan Tri Dharma sendiri itu berisi yang diantaranya. Pertama, pendidikan dan pengajaran, sudah tidak perlu banyak ditanyakan lagi, jika IAIN selalu menekankan dalam aspek pendidikan dan pengajarannya. Para mahasiswa yang selalu dididik untuk memiliki tanggung jawab membaca. Karena membaca merupakan hal yang sangat fundamental di kalangan akademis apalagi di IAIN sendiri yang menjadikan membaca sebagai budaya yang sangat sulit untuk ditinggalkan. Maka tidak jarang dari lulusan IAIN yang berkopenten dalam khasanah akademis, seperti Ali Maksum lulusan IAIN dari Fakultas Tarbiyah yang aktif dalam tulis menulis dan penelitian, beliau juga pernah mengarang buku, diantaranya Pengantar Filsafat, Tasawuf Sebagai Pembebasan Manusia Modern (Yogyakarta: Pustaka Pelajar & PSAPM, 2003). Tapi budaya membaca itu sendiri tanpa ada keinginan dari sendiri akan menjadi nihil, perlu ada intensifitas dan perlakuan khusus kepada mahasiswa untuk menyemarakkan gemar membaca.

Kedua, Penelitian dan Pengembangan. Tugas mahasiswa selanjutnya sebagai penganut ideologi Tri Dharma yang shaleh dengan mengadakan penelitian dan pengembangan kepada masyarakat yang tergolong masih memerlukan pertolongan baik dari hal materi dan non materi. Dalam hal penelitian sendiri IAIN sering melakukan aktifitas yang diasuh oleh Lembaga Penelitian sebagai wadah BANOM atau badan semi otonom yang menangani berbagai hal untuk diteliti. Akan tetapi dari mahasiswa sendiri tidak terus bertumpu pada Lembaga Penelitian sebagai acuan untuk mengadakan penelitian namun ada dari beberapa mahasiswa secara kolektif mengadakan penelitian mereka sendiri dengan mengajukan proposal kepada pihak yang berkepatan menangani hal tersebut, untuk lalu dikembangkan dengan melakukan beberapa tindakan seperti advokasi atau pendampingan.

Ketiga, Pengabdian Pada Masyarakat. Setelah mahasiswa itu memiliki dedikasi tinggi dari intelektualitasnya dan kepekaan atau respect untuk terus melakukan penelitian dimana pun daerahnya yang kedapatan terdapat gejala-gejala sosial, keagamanan yang berpengaruh negatif. Maka setelah itu idealnya seorang mahasiswa haruslah mengabdi kepada masyarakat untuk dikembangkan. Minimal mengembangkan masyarakat di lingkungannya sendiri. Jerih payah seorang mahasiswa yang teramat berat ketika berproses di bangku perkuliahan akan sangat terasa ketika tengah melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari kampus, sebab proses KKN tidak semudah membalikkah telapak tangan, walaupun saya sendiri belum pernah terjun secara langsung mengikuti KKN, akan tetapi saya sempat mendengar dari cerita-cerita mahasiswa yang pernah terjun langsung. Ada yang pernah cerita sewaktu ia melakukan KKN, pernah dimarahin, merasa grogi, merasa senang, bangga dan lain sebagainya yang tentunya tolak ukur pada perolehan mahasiswa itu sendiri sewaktu mengenyam bangku perkuliahan. Saya sedikit memaklumi mahasiswa yang mungkin dapat diakatakan sedikit gagal dalam KKN. Hemat saya bukanlah IAIN yang patut disalahkan, namun itu pasti ia kurang dalam menekankan diri untuk berproses secara maksimal dalam perkuliahan dan memanfaatkan segala faslitas yang telah tersedia seperti UKM dan organisasi khususnya yang ada di lingkungan IAIN sendiri. Maka saya patut bangga menjadi mahasiswa IAIN. Karena sesungguhnya apabila ada keinginan untuk memanfaatkan segala yang ada akan menghasilkan hasil yang luar biasa.

Pengabdian dan pengembangan pada masyarakat hari ini, tentu saja berbeda dengan pengabdian pada masa-masa sebelumnya. Membaca wacana yang terhangat saat ini, mahasiswa satu demi satu mulai dibekali uang oleh para pemegang modal untuk tidak terlalu gencar dalam melakukan aksi penolakan terhadap pihak-pihak terkait. Idealisme mahasiswa terutama idealisme mahasiswa IAIN sendiri saat ini harus dibangun kokoh agar tetap antusias dalam perlawanan terhadap kesemena-menaan sebagai wujud mereka untuk mengabdikan diri kepada masyarakat terutama sebagai wujud keshalehan mereka dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Inilah yang saya maksud sebagai pengabdian masa sekarang yang perlu ditekankan, agar nantinya idealime ini tidak luntur oleh apa pun, khususnya oleh materi.

Pencetak Kader Reformis

Sempat pada keterangan di atas, saya menyinggung bahwa IAIN sebagai wadah kawah condro dimuko saya berani menamakan IAIN dengan sebutan tempat dimana seorang tokoh pewanyangan Gatot Kaca mendapat kekuatan lebih setelah masuk ke dalam kawah condro dimuko. Sebab kampus yang masih memiliki keidealisan untuk terus ikut andil dalam pergolakan pemikiran dan tindakan untuk menyongsong masa depan bangsa yang madani

Bangsa yang saat ini telah dilanda krisis pendidikan, ekonomi, dan budaya yang dirasakan di seluruh elemen masyarakat dari sabang sampai merauke, sebab pengaruh akan kalah saing dengan budaya-budaya luar yang terus kian mengkebiri otak-otak bangsa untuk lebih menganut dengan budaya luar yang lebih tren. Tepatnya dari wacana ini adalah krisis nasionalisme yang terkisis sedikit demi sedikit. Saya teringat perkataan Soekarno kepada pemuda kala itu “perjuanganku lebih mudah karena yang aku hadapi adalah bangsa luar, tapi perjuangan kalian akan lebih berat karena yang kalian hadapi adalah bangsa kalian sendiri!”. Ungkapan Soekarno itu sepertinya telah diamini oleh para malaikat di surga. Karena pernyataan itu telah benar terjadi, sekarang kalau kita sedikit lebih cermat menengok gejala pada gelombang perseturuan di meja pemerintahan. Banyak sekali terjadi korupsi, penyelewengan dana, nepotisme, dan kolusi yang meraja rela hingga menyebabkan pemerintahan di mata masyarakat pada umumnya sulit untuk dipercaya sebagai pengemban amanat negara.

Maka IAIN sebagai kawah condro dimuko dan tugas mahasiswa khususnya mahasiswa IAIN, agar dapat berkecimpung dengan memanfaat fasilitas di (kampus) IAIN sendiri untuk bergulat dengan fikiran dan emosional, untuk terus mengabdi pada bangsa. Kemudian IAIN sendiri juga sebagai batu tapal pergerakan mahasiswa yang berkelanjutan dan dengan pengamalan Tri Dharma dengan rajin akan menorehkan keberhasilan Tri Dharma, keberhasilan IAIN, Keberhasilan bangsa yang akan dirasakan oleh banyak orang.

2 komentar:

  1. yaa lumayan si mup, tapi saya lebih suka model menulis kamu seperti kemarin.. klw tulisan kamu yang ini, saya yakin 80% hasil jiplak dari buku hehe
    saya tekan kan sekali lagi, perbanyak wacana dulu, kemudian mulailah untuk berkreasi lagi..
    tetap semangat bro

    BalasHapus
  2. asem... orak nda.. ikie aku gawe dwe gok. ohh ya wes. nko neg gawe maneh tak akehi wacana luar gawe perbandingane ngunu ae. soale ikie kn tulisane untuk mengintruksikan inspirasi diri sendiri tentang IAIN.

    BalasHapus

keren